Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Jejak Langkah Indonesia Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya & Embrio Kebangsaan

Judul: Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik
Penulis: Max Lane
Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, xii + 196 hlm, 2017

Salah jika Indonesia sebagai bangsa tidak hadir di Bumi Manusia. Novel Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, & Rumah Kaca) adalah laboratorium yang menggambarkan pergulatan rakyat Indonesia membangun apa yang disebut sebagai nasion atau bangsa.

Kata “Indonesia” memang tidak ada dalam sekitar 2.000 halaman novel kebangkitan nasional itu. Namun, itu adalah kehebatan Pram sebagai penulis. Secara sadar dia menunjukan bahwa Indonesia sebagai bangsa bukan hadir akibat proses alamiah. Entitas bangsa itu dibentuk untuk mencapai proses revolusi sosial melalui berbagai perjuangan dan tetesan darah. Sebuah proses pembentukan struktur sosial yang benar-benar baru yang pada perkembangannya diberi nama “Indonesia”. Bagaimana pembentukan Indonesia sebagai bangsa? Mengapa jejak langkah Indonesia hadir di Bumi Manusia? Apa yang membedakan analisa Pram tentang sejarah pergerakan sosial Indonesia dibanding analis yang lain? Apa yang membuat embrio bangsa Indonesia luluh lantak pada era kekuasaan Soeharto? Apa peran penting karya-karya Pram pada konteks sekarang? Read more of this post

Advertisements

150 Tahun Das Capital & Kebingungan Para Penafsirnya

Saya masih mengingat masa-masa awal di tahun 2010/2011 ketika mulai mengenal Karl Marx dan kemudian memutuskan membaca “Das Kapital”. Sebuah buku yang oleh Engels (sahabat Marx) disebut sebagai “kitab sucinya kelas pekerja”. Sebelum itu, saya terlebih dahulu gandrung terhadap ajaran marhaenisme a la Soekarno. “Marhaenisme adalah marxisme dalam konteks Indonesia” begitu kurang lebih ungkap Soekarno. Marhaenisme dalam hal ini menjadi jembatan yang mengantarkan saya bergelut dengan marxisme.

Sebelum proses tersebut, dalam sebuah diskusi di Sekertariat BEM KM UGM, seorang kawan mengatakan bahwa kesalahan terbesar Marx adalah ketika dia menulis Das Capital. “Buku tersebut telah memberi tahu para kapitalis tentang kesalahan mereka, sehingga mereka dapat berbenah dan mampu bertahan hingga sekarang” ungkap kawan tersebut. Baginya Karl Marx sebagai orang bodoh yang memberi tahu kesalahan musuhnya akan bahaya yang akan dihadapi. Setelah itu si musuh berbenah dan marabahaya bagi si-musuh tidak jadi menimpa berkat anjuran Marx.

Read more of this post

Revolusi Pinguin & Gerakan Musim Dingin: Belajar dari Pengalaman Perlawanan Pelajar di Chile

Sumber: Internationalis(dot)org

“The University cannot be a business and education cannot be a commodity. The…future of the University is at stake, and in this battle we will not put our arms down”
– Camila Vallejo, President Confederación de Estudiantes de Chile (CONFECH) –

“Social protests…are an expression of our freedom and our power to reclaim the streets. They reflect our ability to express what we think…Street protests are weapons to achieve our goals, including education”.
-Alfredo Vielma, Former Leader Asamblea Coordinadora de Estudiantes Secundarios (ACES)-

Pendidikan di Indonesia pada awal abad ke-21 telah memasuki era baru. Jika sebelumnya sektor pendidikan dikerangkeng dengan rantai “birokrasi pendidikan”[i] oleh rezim Soeharto, pada era reformasi kerangkeng itu dilepas. Sektor pendidikan kini memasuki era yang disebut sebagai “neoliberalisasi pendidikan”.

Read more of this post

Krisis Kapitalisme 2008 dan Bangkitnya Gerakan Kiri: Studi Dinamika Gerakan Partai Syriza di Yunani

jurnal sosial politik fisipol ugm

Abstract: The economic crisis which hit Greece was in 2008 helped to flow into a political crisis. The old political oligarchy that since 1974 up to 2010 alternately dominate the Greece that is PASOK party and the New Democracy party suffered shocks that lead to new political dynamics. Austerity policies and neoliberal reforms under the moderation of the Troika (European Central Bank, European Union, and International Monetary Fund) have created a decrease in the level of welfare and the economic crisis are instead growing. That situation creates a distrust of the Greek people, until they are searching for an alternative system other than capitalism. At that time the idea of socialism promoted by Syriza party has been able to gain influence in the mass base, to deliver Syriza-led government with 36.3 percent of voters in Election 2015. This paper atempts to elaborate on the strategies used by the Syriza party and also weaknesses in the strategy. 

Keywordsthe economic crisis; vanguard party; social democrats party; Syriza; elections. Read more of this post

Pergulatan Gerakan Mahasiswa dan Kritik Terhadap Gerakan Moral

Gambar: Cover Buku "Indonesia Bergerak II: Mozaik Kebijakan Publik di Indonesia 2016"

Gambar: Cover Buku “Indonesia Bergerak II: Mozaik Kebijakan Publik di Indonesia 2016”

Pendahuluan

Pergulatan gerakan mahasiswa di Indonesia dilihat dari sejarahnya terus mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh berubahnya rezim yang berkuasa, tatanan ekonomi-politik dan ruang lingkup sistem pendidikan yang diterapkan. Peran gerakan mahasiswa dalam dinamika perubahan kekuasaan di Indonesia memiliki pengaruh yang cukup penting, seperti pada masa perjuangan kemerdekaan, pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, masa jatuhnya Soeharto yang melahirkan era Orde Baru dan juga pada masa reformasi yang melengserkan rezim Soeharto.

Mencuatnya gerakan mahasiswa dengan label heroism seperti agent of change, iron stock & social control bukanlah sesuatu yang begitu saja terjadi. Labelisasi tersebut dalam prosesnya adalah konstruksi yang dilakukan oleh rezim Soeharto pada masa Orde Baru setelah sebelumnya rezim tersebut melakukan genosida terhadap intelektul kiri (komunis dan soekarnois) dan pembantaian terjadap jutaan orang yang memiliki afiliasi (dan juga diduga) dengan PKI serta melakukan penahanan tanpa pengadilan terhadap ratusan ribu orang kiri. Konstruksi gerakan mahasiswa oleh penguasa adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan status-quo, sehingga bentuk progresif dari gerakan mahasiswa dilucuti hingga memunculkan apa yang disebut sebagai gerakan moral.

Read more of this post

Bahaya Laten Narasi Sejarah Orba: Keluar dari Imajinasi Ketakutan dan Mencari Sejarah Alternatif

poster soeharto spenak jamanku opo opo murah termasuk nyawamu

Doc: poster aksi

Pemberangusan dan pengebirian hak warga negara untuk berekspresi, berpendapat, dan berdiskusi kini terjadi lagi. Acara yang bertajuk Belok Kiri Festival selama sebulan terakhir mendapatkan penolakan dari beberapa kelompok seperti Gerakan Pemuda Islam Indonesia Jakarta, Front Aktivis Jakarta, Lembaga Bantuan Hukum Duta, Korps Mahasiswa GPII, Korps Brigade PII, Himpunan Mahasiswa Lombok Jakarta, Pemuda Cinta Tanah Air dan juga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Jakarta Raya. Beberapa pihak tersebut menyebut acara tersebut sebagai perwujudan komunis gaya baru dan Polda Metro Jaya tidak mengeluarkan izin karena dianggap memunculkan potensi kericuhan. Acara yang sedianya digelar di Taman Ismail Marzuki akhirnya tetap diselenggarakan tapi dengan perubahan tempat menjadi di LBH Jakarta.

Proses pengkerdilan demokrasi bukan hanya sekali itu saja terjadi, namun telah terjadi berkali-kali di tahun 2016 ini, terutama terkait isu minoritas, komunis phobia, dan peristiwa 1965. Acara Belok Kiri Festival ini sendiri berupaya untuk mengusung sejarah alternative yang keluar dari propaganda rezim Orde Baru dan menawarkan cara berfikir kiri sebagaimana menurut panitia acara sebagai “cara berpikir alternatif, kritis, berpihak kepada kemanusiaan, dan progresif”. Kemudian mengapa terjadi gelombang penolakan terhadap acara Belok Kiri Fest ini? Apa yang salah dari upaya diskusi alternative yang keluar dari propaganda Orba? Mengapa cap “komunis” mudah sekali dilontarkan dan membuat mereka yang di cap seolah layak untuk direbut hak warga negaranya? Mengapa aparat Negara seolah membenarkan tindakan pengebirian demokrasi tersebut? Apakah logika berfikir tersebut sebagai akibat proses hegemoni narasi sejarah yang berlangsung puluhan tahun? Bagaimana cara membuka dan mempertahankan ruang-ruang berpendapat, berekspesi dan berdiskusi dari ancaman kelompok reaksioner dan juga aparat Negara?

Read more of this post

Cengkeram Mesin Anti-Politik dan Depolitisasi Pembangunan

Cover buku James Ferguson - the anti-politics machineReview Buku: The Anti-politics machine: “Development,” De-politicization, and Bureaucratic Power in Lesotho. JAMES FERGUSON. Cambridge and New York: Cambridge University Press, 1997 (Fourth Printing). xvi + 320 pp., maps, tables, figures, notes, references, index.

Buku James Ferguson “The Anti-Politics Machine: “Development, Depoliticization, and Bureaucratic Power in Lesotho” merupakan salah satu karya besar di penghujung abad ke-20 yang telah menciptakan diskursus baru tentang depolitisasi “pembangunan” (menggunakan tanda kutip pada seluruh isi buku tersebut untuk menunjukan sifat historis terbentuknya pembangunan ini). Buku ini adalah hasil dari disertasi Ferguson yang meneliti tentang kegagalan “proyek pembangunan pedesaan” Thaba-Tseka di Lesotho pada rentang waktu tahun 1975 – 1984 yang didanai oleh Bank Dunia dan CIDA (Canadian International Development Agency) (hal.09). Dalam buku ini membedah peran aparat konseptual tentang bagaimana ide “pembangunan” dalam prakteknya diciptakan, bagaimana mereka melakukannya, dan efek apa yang akhirnya dihasilkan (hal.xvi).

Read more of this post

Genosida Intelektual (Intellectualcide): Pemberangusan Ideologi dan Kaum Kiri di Kampus Indonesia Pasca September 1965

doc: tempo

doc: tempo

Gerakan kontra-revolusi (Tragedi 1965) yang telah memukul mundur kesadaran dan kapasitas rakyat untuk memperjuangkan kehidupan mereka turut menghantam kehidupan Kampus-kampus di Indonesia. Kampus sebagai ruang kebebasan akademik tak luput dari pusaran kejahatan kemanusiaan. Civitas akademik di Kampus dari dosen, staf dan mahasiswa banyak yang dipecat, ditangkap dan tidak diketahui nasibnya. Mereka dianggap sebagai kaum kiri yang oleh militer pro-Soeharto dituduh terlibat pada peristiwa 30 September 1965.

Peristiwa kejahatan kemanusiaan1965 turut membentuk bangunan dan wajah kampus di Indonesia sekarang ini. Bagaimana tragedi 1965 mengubah wajah kampus di Indonesia (kurikulum, dosen, kebebasan akademik)? Apa dampak dari perubahan di masa itu yang hingga kini tetap kokoh bertahan? Apa implikasinya bagi masa depan kampus di Indonesia? Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, MAP Corner-klub MKP UGM pada selasa 24 November 2015 mencoba mendiskusikannya bersama Abdul Wahid, seorang dosen di jurusan Sejarah UGM.

Read more of this post

Kejahatan Kemanusian 1965 & Pengembalian Indonesia ke Cengkeraman Kapitalisme Neoliberal

pertemuan akbar partai komunis indonesia - PKIPeristiwa kejahatan kemanusian paska-operasi militer 1965 sampai sekarang masih belum terselesaikan. Imajinasi akan bahaya laten komunisme yang ditanamkan oleh regim orba masih begitu menguat ditengah era keterbukaan informasi publik seperti sekarang. Sehingga proses pendiskriminasian & stigmatisasi terhadap mereka yang dituduh komunis dan yang masih memiliki hubungan kekerabatan masih tetap berjalan.

Bercak noda sejarah 1965 ini memang masih begitu membekas dan menjadi beban sejarah bagi masa depan Indonesia. Hal tersebut melatarbelakangi dilaksanakannya Pengadilan Rakyat Internasional (International People’s Tribunal) di Den Haag – Belanda pada 10-13 November 2015. IPT bermaksud mendesak penyelesaian secara hukum dan berkeadilan oleh negara atas kasus-kasus pelanggaran HAM seputar pembantaian 1965 dan dampaknya yang selama ini terabaikan melalui pengadilan formal. Bagaimana masa depan penyelesaian kasus pelanggaran HAM 1965 yang sampai sekarang belum terselesaikan? Apakah Pengadilan Rakyat Internasional ini dapat menjadi jawaban terhadap kasus kejahatan kemanusiaan tersebut?. Pertanyaan-pertanyaan ini yang menjadi pemantik diskusi MAP Corner-Klub MKP UGM, pada selasa 17 Oktober 2015.

Read more of this post

Syriza dan Drakula Troika: Dinamika Perjuangan Rakyat Yunani Keluar Dari Jeratan Neoliberalisme

karikatur kehancuran syriza perpecahan left unity front populer krisis yunani - cagle

Doc: Cagle Cartoons

Situasi di Yunani saat ini membawa mereka kembali pada garis terdepan pertarungan bersejarah. Di tahun 1821, Yunani menjadi negara pertama yang berhasil merdeka; kemudian di tahun 1940, mereka adalah pelopor pertempuran melawan fasisme; diawal tahun 1970-an perlawanan mereka terhadap regim diktator militer telah banyak menginspirasi perjuangan yang sama di Eropa Selatan dan Amerika Latin dalam menentang penindasan dan ketidakadilan dari diktator militer. Kini Yunani juga tengah berada dalam pertarungan bersejarah melawan regim otoritarianisme dibalik jubah Troika (Uni Eropa, Bank Central Eropa dan IMF) dengan jampi-jampi neoliberalisme dan sesajen resep pengetatan (austerity) anggaran yang mereka paksakan.

Syriza partai berkuasa di Yunani saat ini yang berhasil memenangkan Pemilu pada awal Januari 2015 dengan perolehan 36,3% suara telah membawa harapan (hope) bagi rakyat yunani tentang alternative lain dari kapitalisme. Badai krisis yang menghantam Yunani sejak tahun 2008 dan ditambah dengan kebijakan-kebijakan dari George Papandreou serta teknokrat Lucas Papademos dari PASOK (The Panhellenic Socialist Movement) yang berkoalisi dengan New Democracy (ND) yang memerintah Yunansi selama krisis datang telah membuat keadaan yang semakin parah. PASOK yang merupakan partai dengan garis politik kiri-tengah dan cenderung reformis, sedangkan ND partai sayap kanan konservatif menyikapi krisis ekonomi dengan melakukan arahan kebijakan yang berdasar pada resep-resep Troika.

Read more of this post