Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Pagari HIV/AIDS dengan “Mo-Limo”

Tanggal 1 Desember kemarin telah diperingati sebagai hari HIV/AIDS sedunia, namun terselip masalah tersendiri dalam Perkembangan HIV/AIDS ini, yaitu semakin besarnya peningkatan angka penderita HIV setiap tahunnya. Bahkan WHO memperkirakan bahwa sekitar 10-12 juta orang dewasa dan anak-anak didunia telah terinfeksi dan setiap hari sebanyak 5000 orang tertular virus HIV. Pernyataan tersebut menunjukan begitu mudahnya virus HIV ini menular dan kurang begitu efektifnya upaya dalam menghambat atau mencegah laju penularan HIV ini sendiri.

Menurut data dari Ditjen PP & PL Kemenkes RI sejak Juni 2011, jumlah penderita AIDS di Indonesia mencapai 26483 orang dengan angka kematian mencapai 5056 orang. Sungguh suatu angka yang begitu besar, selain itu lebih dari 70% diantaranya adalah generasi muda yang masih berusia produktif yang berumur diantara 20-39 tahun. Data tersebut memperlihatkan begitu rentannya generasi muda tertular virus tersebut. Pemerintah dan LSM-LSM pun telah berupaya keras untuk menanggulangi serta mencegah penyebaran HIV tersebut. Namun hasilnya masih belum kelihatan, karena yang terjadi angka penderita HIV/AIDS terus mengalami peningkatan dari tahun ketahunnya.

Hal yang paling penting yang seharusnya berperan dalam pencegahan ataupun penghambatan laju penularan HIV ini adalah dengan Sikap berpegang teguh kepada budaya atau agama. Seperti yang terkandung dalam ajaran ketauladanan budaya Jawa, yaitu “mo-limo”. Mo-limo ini sendiri merupakan suatu ajaran yang dimana seseorang harus berusaha untuk menghindari atau tidak melakukan perbuatan yang terkandung dalam ajaran mo-limo ini sendiri, yaitu: Maling (mencuri, termasuk korupsi), madon (main perempuan/selingkuh), main (berjudi), minum (mabuk-mabukan), dan madat (nyabu/kecanduan).Sehingga kemudian ketika kita berpegang teguh kepada piwulang/ajaran mo-limo ini dan berusaha untuk menjalankannya, bahaya akan tertular HIV/AIDS akan begitu rendah/kecil.

Sebenarnya kita tidah hanya mencegah penularan virus HIVnya saja, seperti penyaranan penggunaan kondom dalam menjalankan hubungan seks ataupun untuk tidak menggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bersamaan dalam memakai Napza, tetapi seharusnya kita juga harus berusaha untuk mencegah tindakan yang dapat menyebabkan kerentanan penularan HIV tersebut, yaitu dengan tidak melakukan hubungan seks beresiko ataupun tidak memakai Napza.

Sehingga peran dari ajaran mo-limo sangat penting dalam menyikapi masalah itu, seperti yang terkandung dalam salah satu Ajaran mo-limo itu sendiri, yaitu Madon (main perempuan) dan Madat (Nyabu/Kecanduan, termasuk Napza). Artinya ketika kita tidak melakukan perbuatan madon dan madat, berarti kita saudah melakukan pencegahan secara dini terhadap bahaya tertular HIV ini. Selain itu ketika kita berpegang teguh serta menjalankan ajaran mo-limo tersebut, akan berdampak pula terhadap kehidupan kita, selain mencegah secara dini penularan HIV juga akan membuat kehidupan suatu keluarga akan menjadi lebih harmonis serta membuat kehidupan kita menjadi lebih positif.

Sehingga buat apa lagi? Ayo kita bersama-sama mencegah secara dini penyebaran HIV ini dengan cara berpegang teguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam agama serta kebudayaan kita. Salah satunya adalah dengan menjalankan ajaran mo-limo  seperti tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: