Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Menegakan Kedaulatan Migas Indonesia*

Tidak dapat dipungkiri Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Mulai dari sabang sampai merauke, disana tersimpan logam-logam mulia yang tiada taranya serta komoditas sumber daya alam yang bersimpah ruah sampai tak ternilai harganya, baik: emas, permata, batu bara, tembaga, timah, nikel, minyak & gas bumi, serta banyak lagi lainnya. Di dalam catalog sejarah juga menceritakan bahwa Indonesia merupakan Negara yang besar dengan berbagai sumber daya yang ada di dalamnya.

Setelah bangsa ini melewati, apa yang disebut Soekarno, Jembatan Emas, yaitu jembatan penghubung kemerdekaan Indonesia yang gagah, kuat, kekal dan abadi, negara ini seolah sudah kehilangan kemudinya serta membuatnya lemah dan tertunduk tak bisa apa-apa. Hal tersebut disebabkan semakin tereduksi dan terkikisnya kedaulatan Negara ini di dalam menjaga, melindungi serta mengelola apa-apa yang ada di dalam Tanah air Indonesia ini sendiri demi kepentingan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Itu dapat terlihat di dalam tata kelola energi kita, menurut data dari Kementerian ESDM (2008) pada sektor hulu, tercatat kontraktor asing menguasai 329 blok migas di Indonesia atau sekitar 65 %, sedangkan perusahaan nasional hanya 24,27%. Sementara sisanya dikuasai konsorsium dengan perusahaan multinasional dan sekarang sudah hampir 85% minyak dan gas bumi kita dikuasai oleh asing. Mereka semua merupakan kekuatan koorporasi multinasional asing yang memiliki watak kapitalis tulen.

Melihat kenyataan yang demikian, sangatlah wajar ketika harga minyak dunia yang terus naik membumbung tinggi, mengakibatkan Negara ini menjadi klabakan untuk memenuhi kebutuhan migas di dalam negeri, karena Pertamina -yang dalam hal ini tangan kanan pemerintah- hanya mampu memenuhi sekitar 60% kebutuhan BBM nasional, sedangkan 40% dari kebutuhan akan BBM nasional tersebut harus di Impor dari luar negeri (lihat; kwikian gie – kontrofersi kenaikan BBM) dan yang lebih menyedihkan lagi ketika perusahaan asing tersebut malahan menjual hasil dari Migasnya ke luar negeri disaat Negara ini membutuhkannya.

Memang sungguh suatu hal yang ironis, ketika kekayaan yang tlah dianugerahkan oleh tuhan di dalam bumi pertiwi kita, yang telah dieksploitasi oleh perusahaan multinasional asing, yang dimana disaat bangsa ini membutuhkan hasilnya, tetapi yang terjadi malahan perusahaan tersebut menampakan wajah kapitalisme tulennya dengan hanya berfikir pada logika profit oriented, yang kemudian lebih memilih menjualnya ke luar negeri dari pada kepada Negara kita sendiri hanya demi pundi-pundi keuntungan semata.

Nasionalisasi!! demi Kepentingan Bangsa

Mungkin apa yang telah dilakukan oleh presiden Argentina, Cristina Fernández Kirchner baru-baru ini, dalam upayanya untuk menasionalisasikan perusahaan YPF (Yacimientos Petrolíferos Fiscales) yang merupakan perusahaan minyak terbesar di negeri itu, yang dimana sebagian besar sahamnya dikuasai oleh korporasi minyak Repsol asal Spanyol, perlu dicontoh oleh pemerintah Negara ini.

Suatu hal yang telah melatar belakangi tindakan dari Presiden Cristina Fernández Kirchner tersebut tidak lain, karena munculnya suatu paradoks dimana argentina merupakan Negara yang kaya akan sumber daya Migasnya akan tetapi malahan menjadi salah satu Negara net-importir migas. Hal tersebutlah yang mengakibatkan Kenaikan impor BBM dan gas Argentina, yang berkisar 150% pertahunnya dan memaksa negara mengeluarkan anggaran 9 miliar dollar AS, terhitung sejak YPF diprivatisasi pada tahun 1992-sekarang. Hal tersebut juga telah menggerus keuntungan ekspor dari argentina.

Ataupun apa yang telah dilakukan oleh Negara tetangga Argentina di Amerika latin, yaitu Venezuela. Hugo Chavez yang merupakan presiden Venezuela, setelah memenangkan PEMILU yang demokratis pada tahun 1998, kemudian menjalankan langkah tegapnya dengan melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan strategis di Negara tersebut, termasuk perusaan-perusahaan multinasional asing di sector Migas, dengan alasan demi mengembalikan kekayaan rakyatnya. Dan hasilnya saat ini, PDVSA—perusahaan minyak milik Negara venezuela—memproduksi 3 juta barel minyak setiap hari dan menjadi satu produsen minyak terbesar di di dunia. Yang dimana sebagian besar keuntungan  dari hasil minyak tersebut  digunakan untuk membiayai program social dan pembangunan Nasional.

Kemudian, bagaimana dengan Pemerintah Indonesia? Akankah tetap membiarkan kekayaannya Negara ini dirampas dan dinikmati oleh rezim Kapitalism Internasional? dan sampai kapan? Mungkin pertanyaan tersebut pantas disempatkan kepada pemerintah Indonesia sekarang ini. Bagaimana Indonesia yang merupakan Negara yang “Gemah ripah loh Jinawi” dengan kekayaan alam yang tidak terhitung besarnya, seakan disulap dan diperdaya menjadi Negara miskin yang teronta-ronta. Inikah fenomena Resource Curse Thesis? yaitu kutukan akibat kekayaan sumberdaya alam yang mengakibatkan Negara menjadi Miskin?

Tentu saja kita harus menolak thesis tersebut. Karena pada hakikatnya tuhan memberikan kekayaan sumberdaya alam tersebut untuk kemakmuran suatu Negara, yang dimana semua rakyat hidup dalam kesejahteraan. Akan tetapi Resource Curse Thesis tersebut akan benar menjadi kenyataan, jika di dalam situasi dan keadaan yang dimana Negara kita sudah tidak lagi berdaulat terhadap tata kelola energinya sekarang ini dan Pemerintah Negara ini hanya diam serta rakyat dinegara ini juga diam, maka tidak mustahil kutukan tersebut akan menjadi kenyataan.

Maka dari itu, komitmen serta tekad yang kuat dari pemerintah sangat diperlukan disini, untuk kembali menegakan panji-panji kedaulatan energi Indonesia yang sudah hilang selama ini. Dan jika pemerintah tetap diam dan tidak mau bertindak serta bergerak, maka diperlukan kesatuan tekad dan pemahaman yang kuat dari seluruh kesatuan masyarakat Indonesia untuk mengetuk serta mengarahkan pemerintah menuju jalan kebenaran, yang dimana kesejahtraan dan kemakmuran rakyat terpampang jelas didepannya.

Pencabutan UU Migas dan Pembubaran BP Migas, merupakan salah satu pintu masuk untuk kembali menegakan tonggak kedaulatan Negara ini terhadap tata kelola Energinya. Karena UU Migas no.22 tahun 2001 inilah yang telah menjadi celah semakin terkikisnya kedaulatan energi kita oleh kekuatan kapitalis modern dan telah bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945 serta teridentifikasi kuat, bahwa UU Migas tersebut merupakan produk hukum pesanan dari rezim neolib.

Maka, saya menawarkan beberapa hal kepada Pemerintah Indonesia sekarang ini, yaitu: Bubarkan BP Migas, Cabut UU Migas no. 22 tahun 2001 kemudian ganti dengan produk hukum yang lebih pro terhadap rakyat serta sesuai dengan konstitusi negara, Reformasi kebijakan Migas Indonesia, dan Nasionalisasi Perusahaan Strategis demi kepentingan Bangsa dan Negara.

Dan, saya tutup tulisan ini dengan kutipan pernyataan dari founding father kita, yang telah berhasil mengobarkan semangat bangsa ini untuk mencapai kemerdekaan yang sejati, berikut ini:

“Manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negerinya dengan darahnya sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing, Saudara-saudara, semua siap sedia mati mempertahankan tanah air kita Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap sedia, masak untuk merdeka (Soekarno) .”

Semoga dengan ungkapan tersebut, dapat kembali mengingatkan dan semakin mengobarkan semangat kita, bahwa kemerdekaan suatu bangsa hanya dapat diperoleh dengan perjuangan dari rakyat bangsa tersebut, dan kedaulatan suatu Negara juga hanya dapat diperoleh dengan perjuangan dari rakyat negara itu sendiri.

Salam Perubahan masyarakat yang lebih makmur-sejahtera, dan

Salam Perubahan untuk Indonesia yang lebih Jaya.

Man Jadda wa Jadda,

Nuwun.

*Oleh: Arif Novianto,

Mahasiswa Manjemen dan Kebijakan Publik UGM 2010 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: