Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Lady Gaga(L): Problematika Kebebasan & Toleransi

doc: inilah.com

SALAH satu isu pokok yang dengan lantang dikumandangkan saat peristiwa reformasi 98’ adalah tuntutan adanya kebebasan berpendapat, berorganisasi dan berekspresi. Setelah hampir 14 tahun reformasi berjalan, problema kebebasan dalam demokrasi kita masih dipertanyakan. Perselingkuhan antara sikap egoisme, fanatisme & misstolerance (ketiadaan toleransi) yang dibumbui dengan ancaman dan tindakan represif atau kekerasan yang berlebihan telah mereduksi arti dari kebebasan itu sendiri, apalagi ditambah dengan ketidaksigapan aparat keamanan dalam meredam masalah tersebut.

Isu atau berita yang sedang hangat di telinga masyarakat sekarang ini adalah tentang tidak diizinkannya (dilarang) Lady Gaga untuk menggelar konser pertunjukan di Jakarta pada 3 Juni nanti. Pelarangan ini menggiring atau menimbulkan argumentative turn (perdebatan wacana) di dalam masyarakat, akademisi, maupun pemerintah; baik itu yang pro maupun kontra dengan konser tersebut.

Secara tidak langsung, problem ini telah mengalir ke isu yang lebih besar yaitu tentang arti sebuah “kebebasan dan toleransi”. Apalagi di negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi seperti ini, bagaimana sebuah kebebasan dielu-elukan. Tetapi kemudian apakah dengan kebebasan tersebut kita dapat seenaknya melakukan sesuatu dan memaksakan kehendak kita sendiri?

Jawabannya tentu tidak, karena pada dasarnya kita tidak berada di ruang hampa, akan tetapi berada di tengah-tangah masyarakat yang terdapat berbagai kompleksitas dan dinamika. Baik itu ajaran agama, budaya, norma serta nilai-nilai yang terkandung atau berkembang dalam masyarakat itu sendiri.

Artinya, ketika dijalankan di dalam masyarakat maupun negara, kebebasan merupakan suatu tindakan yang tidak sebebas-bebasnya, karena ada proteksi atau batasan (kebebasan) yang dimiliki masyarakat tersebut. Batasan ini juga bisa jadi disepakati dan dibuat oleh masyarakat dan negara seperti: budaya, ajaran agama, nilai dan norma, hukum adat atau peraturan perundangan. Sehingga kemurnian di dalam arti kebebasan tersebut hanya dapat kita rasakan di alam pikiran, perasaan, serta hati kita, tetapi tidak akan pernah dapat kita lakukan semuanya di dalam perbuatan nyata.

Kembali ke masalah tidak diizinkannya konser Lady Gaga oleh pihak Polda Metro Jaya karena alasan keamanan. Dapat kita lihat pertarungan argumen dari kubu yang pro maupun kontra. Ada tiga hal yang menjadi alasan kubu yang menolak (kontra, yang diwakili oleh ormas Islam & MUI) konser tersebut,pertama: aksi serta penampilan Lady Gaga yang dianggap seronok atau vulgar, kedua: bahwa apa yang dibawakan lady gaga telah bertentangan dengan budaya, norma serta nilai-nilai yang ada di Indonesia, dan yang ketiga: adanya stigma bahwa Lady Gaga merupakan pemuja setan serta ateis.

Akan tetapi, di satu sisi, kubu yang setuju (pro) pada konser Lady Gaga menganggap, tidak diberi izinnya Lady Gaga untuk menggelar konser di Indonesia telah mencederai kebebasan mereka dalam menikmati pertunjukan maupun kebebasan berekspresi Lady Gaga. Selain itu, ada juga anggapan, gagalnya konser Lady Gaga ditakutkan akan berakibat kepada terpasungnya esensi dari suatu kreativitas ataupun seni.

Dengan demikian, ada beberapa solusi yang dapat ditempuh untuk dapat meredam perbedaan tersebut agar tidak sampai menjurus ke tindakan yang berakibat negatif. Pertama, pemerintah harus ikut turun tangan dan berperan sebagai policy brokers atau perantara kebijakan, yang kemudian berusaha mencari jalan keluar terbaik. Kedua, kedua kubu (baik pro dan kontra) harus lebih mengedepankan musyawarah daripada amarah. Dan ketiga, diperlukannya sikap tenggang rasa serta toleransi dalam memandang perbedaan itu sendiri.

Kita dapat mengambil contoh seperti apa yang telah dilakukan oleh para founding fathers kita, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim, dan yang lain. Mereka semua memiliki berbagai perbedaan, baik dari segi ras, suku, budaya serta ideologi atau paham yang mereka pegang. Akan tetapi sikap toleransi dan saling mengerti yang mereka lakukan telah berhasil menganyam perbedaan tersebut menjadi suatu tekad, yaitu membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Merdeka.

Kemudian ungkapan penutup dari saya, “Kebebasan serta perbedaan tanpa adanya sikap toleransi, hanyalah seperti aliran air sungai tanpa lautan atau samudra.” Artinya aliran air sungai tersebut tidak akan pernah mencapai titik temu dalam perjuangan tujuan atau cita-cita besarnya, yaitu mencapai ketenangan di dasar lautan atau samudra. Begitu pula dengan pertentangan di dalam kebebasan dan perbedaan yang sampai kapan pun tidak akan pernah selesai, tanpa adanya kebesaran hati dan sikap toleransi.

Salam masyarakat Indonesia yang lebih adil-makmur-sejahtra, dan
Salam Revolusi Indonesia!!!
 
Arif Novianto
Mahasiswa Manjemen dan Kebijakan Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol)
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Departemen Kajian Strategis BEM KM UGM 2012 (//rfa)

Tulisan ini juga telah Dimuat di Okezone.com pada 22 mei 2012

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2012/05/21/367/632918/lady-gaga-l-problematika-kebebasan-toleransi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: