Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Bendera Setengah Tiang Tawuran Pelajar

Doc: Suara Pembaharuan

LAGI dan lagi, potret pendidikan nasional Indonesia harus tercoreng untuk kesekian kalinya. Tawuran antarpelajar seakan sudah menjadi tren bagi kaum terpelajar di negeri ini dalam menyikapi goresan percikan suatu keadaan atau konflik sosial. Kekerasan sudah dianggap sebagai cara yang paling ampuh dalam menyelesaikan masalah. Cara-cara bak segerombolan preman pun diagung-agungkan dibandingkan cara yang terdidik dan bijaksana yang pasti akan lebih menggambarkan status sosial mereka sebagai kaum pelajar, tulang punggung masa depan bangsa.

Tiang-tiang pendidikan di Indonesia seakan rapuh dan lapuk serta tak mampu lagi menyangga beratnya problem pendidikan yang datang silih berganti tiada hentinya. Maraknya peristiwa tawuran antarpelajar merupakan cermin bobroknya sistem pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya berperan sebagai alat pembentuk sikap, karakter, mental, moral, kepribadian dan pengasah kecerdasan intelektual anak, kini telah kabur dan tak terlihat perannya. Tak heran, ledakan tawuran dan kenakalan remaja tidak dapat lagi dibendung dan diredam oleh sistem pendidikan yang mereka terima.
 
Akar Permasalahan
 
Baru-baru ini, tawuran yang melibatkan pelajar SMAN 6 Jakarta dan SMAN 70 Jakarta menewaskan seorang pelajar dan dua di antaranya luka-luka (Okezone, 25/9/2012). Kejadian tersebut menambah panjang potret kelam pendidikan kita. Bahkan, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 2011 saja, telah terjadi 339 kasus tawuran pelajar dan menewaskan 82 pelajar. Sungguh sangat memilukan!

Bila kita cermati lebih mendalam, ada beberapa hal penyebab tradisi tawuran antarpelajar ini terus terpelihara. Pertama, tidak berfungsinya peran serta tugas dari otoritas pendidikan yang ada. Terus terulangnya tradisi tawuran yang selama ini terjadi, merupakan cermin dari kurangnya tanggung jawab dan kesadaran dari pemimpin sekolah dalam mengelola serta menjalankan tugasnya di sekolah yang dipimpinnya. Bahkan para pemimpin sekolah tersebut sering lempar handuk di dalam menyikapi masalah indisipliner yang dilakukan oleh para peserta didiknya di luar jam sekolah atau di luar batas pagar sekolah.

Selain itu, kurangnya pembelajaran tentang pendidikan karakter yang diberikan kepada para peserta didik, telah menjadikan tindakan dan perilaku mereka melenceng dari koridor status sosial yang mereka sandang. Kurikulum atau sistem pendidikan yang ada pun gagal untuk memperbaiki mental, sikap dan karakter mereka.

Kedua, absen atau ketidak hadirannya negara. Peristiwa kekerasan yang terjadi di Indonesia selama ini telah merambah hampir di semua lini kehidupan masyarakat, tidak terkecuali di sektor pendidikan. Lemahnya peran negara sebagai pemilik otoritas di dalam memberikan perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat, dituding sebagai penyebab semakin maraknya aksi-aksi kekerasan tersebut.

Kekurangsigapan serta kurang tegasnya aparat keamanan di dalam menangani masalah tawuran antarpelajar, juga dianggap sebagai pembenaran atas tindakan itu. Bahkan ditambah fakta bagaimana negara atau aparat keamanan lambat menangani aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok fundamentalisme. Hal tersebut pasti akan akan membentuk suatu anggapan di dalam benak para pelajar tersebut, bahwa ketika tindakan kekerasan itu dilakukan secara bersama-sama, maka tidak ada aturan hukum yang akan menjeratnya. Keadaan tersebut tersebut merupakan bentuk absennya negara.

Ketiga, budaya pengatasnamaan solidaritas, jati diri dan mencari pengakuan yang salah arah. Memang tidak ada yang salah dari suatu aksi solidaritas. Aksi ini malah akan berdampak baik ketika dilakukan dalam lingkup yang positif. Akan tetapi, apabila pengatasnamaan solidaritas itu terjadi pada ranah yang melenceng atau negatif, maka hasil yang dipetik juga akan berdampak negatif. Seperti ketika salah seorang pelajar sedang memiliki masalah dengan pelajar sekolah lain, kemudian atas nama solidaritas, persahabatan, jati diri dan pengakuan, maka masalah yang sebenarnya dimiliki oleh satu orang tersebut dengan cepat merembet ke teman-temannya yang lain. Sehingga, adu fisik tawuran antarpelajar pun tak terelakkan.

Itu terjadi karena lemahnya karakter dari para pelajar tersebut, hingga mudah terprovokasi dan keputusan yang mereka ambil lebih sering berlandaskan emosi sesaat. Bisa dipastikan, keputusan tersebut akan berdampak buruk, karena hilangnya sifat kebijaksanaan yang seharusnya lebih dikedepankan.
 
Alternatif  Solusi
 
Berbagai langkah untuk meredam aksi tawuran antarpelajar pun tidak hentinya dilakukan oleh pihak sekolah, pemerintah, dan aparat keamanan. Namun tindakan untuk memutus rantai tawuran tersebut sering kali hanya berlandasakan pada tataran reaksioner. Misalnya dengan cara memberikan hukuman skorsing, drop out dari sekolah, serta pemberian berbagai tugas. Hukuman semacam ini hanya berkutat pada kulit luarnya dan tidak akan pernah sampai ke inti dari suatu masalah.

Dengan demikian, suatu pendekatan yang komperhensif dengan sikap prefentif-edukatif sangat diperlukan dalam menangani masalah tawuran pelajar tersebut. Berbagai tindakan tersebut antara lain dengan memberikan pembelajaran tentang pentingnya nilai-nilai perdamaian, membangun dasar nilai serta budaya yang mencintai kerukunan dan perdamain di sekolah lewat pembelajaran secara formal dan informal, menciptakan suatu sistem pendidikan yang nantinya akan lebih dapat membentuk karakter dan sikap para pelajar, dan menindak dengan tegas berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pelajar hingga membuat mereka jera. Serta kemudian melakukan koordinasi secara signifikan dengan orangtua pelajar dan warga masyarakat untuk bagaimana bersama-sama menjaga, merawat dan memupuk para generasi penerus bangsa ini agar dapat menjadi lebih kritis, cerdas dan berkarakter. Diharapkan, tindakan-tindakan tersebut dapat memutus mata rantai tawuran antarpelajar.

Alhasil, nantinya para pelajar bukan lagi sebagai para pengibar bendera setengah tiang di negeri sendiri – yang melambangkan rusaknya para generasi penerus bangsa ini. Akan tetapi, mereka dapat mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih lebih tinggi lagi, untuk mencapai puncak kejayaan yang sejati.

Arif Novianto  
Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
(//rfa)

Tulisan ini juga telah Dimuat di Okezone.com pada 02 Oktober 2012

Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2012/10/02/367/697909/bendera-setengah-tiang-tawuran-pelajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: