Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Mengurai Akar Konflik Sosial di Indonesia

Doc: Luwarso

Berdirinya era Reformasi yang ditandai dengan lengsernya rezim otoritarian Orde Baru, telah berhasil membuka kran pemberian hak-hak sipil, demokrasi serta kebebasan yang sebelumnya selama 32 tahun lebih tersumbat. Namun, terbukanya kran Demokrasi tersebut tidak lantas memberikan dampak positif semata, akan tetapi juga dibarengi dengan muncul dan mencuatnya berbagai konflik sosial atau kekerasan komunal yang berkembang di masyarakat.

Keadaan tersebut sebelumnya juga telah diperingatkan oleh Baladas Goshal (2004) di dalam konteks Demokrasi di Indonesia. Bahwasanya terlepas sisi positif yang dibawanya, demokratisasi tersebut juga dapat memberikan peluang bagi meluasnya potensi konflik. Itu dapat terjadi dikarenakan dinamika kontestasi politik di dalam Demokrasi baik secara lokal dan nasional yang begitu kompleks.

Maraknya aksi konflik sosial tersebut dapat terlihat berdasarkan data yang dimiliki Kemdagri, yang dimana jumlah konflik sosial pada tahun 2010 saja mencapai 93 kasus. Dan menurun ditahun 2011yaitu menjadi 77 kasus. Dan pada tahun 2012, meningkat kembali menjadi 89 kasus hingga akhir Agustus ini (Okezone, 08/11/2012). Data tersebut memperlihatkan bagaimana rawannya aksi kekerasan komunal tersebut tersulut.

Berdasarkan jenisnya, konflik sosial yang terjadi di Indonesia ini sebagaian besar merupakan Konflik sosial yang berlatar belakang SARA (Suku, Agama, Ras & Antar Golongan). Seperti konflik sosial berlatar belakang Agama di Ambon (1999-2002), di Poso (1998-2001) dan di Sampang Madura (2012), kemudian konflik sosial bermotif suku atau etnis di Sampit (2001) yaitu antara suku Dayak dan Suku Madura sebagai Pendatang serta akhir-akhir ini yaitu konflik di Lampung Selatan (2012) yang memiliki motif SARA di dalamnya.

Mencuatnya aksi-aksi kekerasan yang berbalut konflik sosial tersebut tak terlepas dari munculnya Krisis Politik dan Krisis Kepemimpinan baik dalam skala lokal maupun Nasional serta semakin lemahnya peran dari pemerintah ataupun aparat keamanan. Dengan situasi yang demikian, membuat keadaan larut dalam segala ketidak pastian, dan pikiran masyarakat dinaungi dengan keresahan dan kewaspadaan. Keadaan tersebut dapat diibaratkan sebagai rumput-rumput kering di musim kemarau, yang kapan saja dapat mudah untuk terbakar dan tinggal menunggu penyulutnya saja.

Dan saat itulah, kemudian muncul berbagai sentiment-sentimen negatif tertentu di dalam masyarakat, baik sentiment bercorak kesenjangan sosial dan ekonomi, maupun sentimen bercorak SARA. Ketika keadaan seperti itu sudah terjadi, maka hanya dengan terjadinya suatu goresan-goresan kecil saja, sebuah konflik sosial dapat seketika tersulut serta merembet dan berkobar menjadi konflik yang sangat besar.

Itu dapat terlihat dari pemicu-pemicu konflik yang sepele akan tetapi dapat menciptakan suatu Konflik kekerasan yang besar yang melibatkan banyak massa. Seperti konflik sosial di Ambon, yang isunya hanya dipicu karena masalah sepele yaitu pertengkaran dua orang di terminal. Ataupun konflik di Lampung Selatan yang melibatkan warga Kampung Agom Kecamatan Kalianda dan Desa Balinuraga Kecamatan Way Panji pada akhir oktober 2012 ini, yang pemicunya tak lain hanya karena digangunya dua perempuan kampung Agom yang tengah mengendarai sepeda motor oleh pemuda warga Balinugara.

Dalam suasana konflik tersebut, gerbong-gerbong untuk memobilisasi massa biasanya adalah dengan menebar berbagai isu-isu SARA didalamnya, walaupun pada kenyataan pemicu konflik sosial tersebut tak memiliki hubungan sedikitpun dengan motif SARA. Keadaan tersebut terjadi karena adanya kerentanan di dalam masyarakt itu sendiri. Sehingga kemudian terjadi penerjemahan terhadap peristiwa yang sepele tersebut bahwa si-A sebagai korban adalah warga etnis A dan si-B sebagai Pelaku adalah warga etnis B.

Dengan penerjemahan tersebut, kemudian seakan goresan yang sepele tersebut dianggap mewakili perseteruan antara etnis-A dan etnis-B. Sehingga sekat-sekat pembedaan tersebut dapat dengan cepat ikut memprovokasi atau memancing kemarahan warga, dan eskalasi mobilisasi warga akhirnya dapat dengan cepat membesar baik secara terorganisir maupun dengan sendirinya. Dengan demikian konflik kekerasan tersebut tak dapat dielakan lagi, apalagi ditambah dengan lemahnya tindakan dan penanganan dari Aparat Keamanan.

Munculnya Konflik sosial di Indonesia ini juga dapat diurai berdasarkan kontestasi politik yang ada atau munculnya konflik politik. Biasanya konflik politik itu terjadi di kalangan para elit, yang saling berupaya mencari pengaruh di dalam konteks perebutan kekuasaan yaitu melalui ajang Pemilihan Umum.

Di dalam konteks daerah, menurut Klinken (2007) mengidentifikasi bahwa secara taktis, gerakan komunal dilakukan untuk mengusir atau mengalahkan kolektivitas lain yang dipandang asing atau berbahaya, serta  mengusahakan agar anggota mereka sendiri diangkat ke posisi penting dalam pemerintahan daerah. Artinya mereka ingin memperteguh hegemoninya dengan cara menciptakan kekerasan komunal untuk menjatuhkan kelompok pesaingnya.

Dengan demikian, konflik sosial ini dapat terjadi karena adanya persaingan politik di dalam dinamika perpolitikan daerah di dalam upayanya untuk saling berebut pengaruh.Mereka yang saling berebut pengaruh tersebut kemudian menggunakan identitas-identitas alami yang mereka sandang untuk membentuk suatu kelompok-kelompok tertentu yang memiliki perbedaan dengan kelompok pesaingnya, baik dengan identitas suku, etnis atupun agama.

Kemudian sulutan-sulutan konflik pun saling dipicu untuk dapat menjatuhkan kelompok lawannya, yang berarti akan mempertegas hegemoninya. Biasanya mereka yang memiliki identitas mayoritas, yang berusaha menyerang lawannya yang beridentitas minoritas akan tetapi memiliki pengaruh besar di mereka para warga beridentitas mayoritas. Sehingga konflik pun dimanfaatkan didalam upayanya untuk memberikan sekat-sekat bahwa si-A adalah warga mayoritas dan si-B adalah warga minoritas. Akibat konflik tersebut akan timbul stigma di warga yang mayoritas bahwa si-B merupakan warga minoritas, maka jangan dukung dan percaya terhadap si-B.

Dengan itulah si-A dapat memperoleh pengaruh yang besar terhadap kelompok-kelompok mayoritas yang beridentitas SARA sama dengannya. Akhirnya Si-A tersebut pun dapat dengan leluasa menancapkan pengaruhnya dan memiliki peluang besar dalam memenangkan kontestasi politik di daerah tersebut.

Melihat kenyataan yang demikian, memperlihatkan bagaimana pertarungan politik di dalam demokrasi dapat menciptakan suatu pengaruh yang besar untuk memicu konflik sosial di masyarakat, disamping dikarenakan lemahnya peran dari Pemerintah serta aparat keamanan. Sehingga dengan demikian, para warga masyarakat harusnya dapat belajar untuk bagaimana menyikapi sulutan keadaan di dalam arena pertarungan politik para elit. Agar mereka tidak terpancing dan terprovokasi.

Selain itu penguatan peran dari pemerintah serta aparat keamanan menjadi hal yang utama yang wajib dilakukan untuk dapat meredam munculnya konflik-konflik sosial tersebut. Tanpa hal tersebut, berbagai konflik sosial pun sudah siap untuk berkobar dan menampar pemerintah agar sadar akan peran dan tugas yang seharusnya dijalankan.

Arif Novianto
Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada (UGM) – Yogyakarta
Kontak: arifnovianto92@gmail.com

Tulisan ini juga telah Dimuat di Opini Okezone.com pada 21 November 2012

Sumber: http://suar.okezone.com/read/2012/11/21/58/721072/mengurai-akar-konflik-sosial-di-indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: