Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

“Opera Sabun” Tragedi Pemerasan BUMN

Karikatur Opera sabun dahlan iskan vs anggota DPR

Doc: inilah.com

Drama perseteruan antara DPR dengan Dahlan Iskan (Sebagai Menteri BUMN) telah mencapai babak baru. Suatu keadaan yang dimana perseteruan tersebut telah terlihat akan mencapai suatu titik akhir yang tak menentu atau mengambang.

Artinya akhir cerita dari drama perseteruan antara Dahlan Iskan vs DPR dengan lakon Tragedi Pemerasan BUMN tersebut tidak akan menemukan suatu titik temu yang akan membuat publik terperangah penuh kebanggaan. Kalaupun ada titik temu, mungkin titik temunya adalah perselingkuhan antara Dahlan Iskan (BUMN) dengan para Anggota DPR untuk sama-sama menutupi kartu hitam mereka masing-masing.

Drama Politik “Saling Sandra”

Bila kita cermati lebih mendalam, bendera perseteruan antara Dahlan Iskan vs DPR ini dimulai dengan dipanggilnya Dahlan Iskan oleh DPR. Untuk memberikan pernyataan pertanggungjawaban atas terjadinya inefisiensi di PLN (Perusahaan Listrik Negara) sebesar 37,6 Triliun, yang terjadi disaat Dahlan Iskan menjadi dirut PLN waktu itu.

Tak lama kemudian, publik digemparkan atas bocor dan beredarnya SMS Dahlan Iskan kepada SBY yang isinya menyebutkan bahwa ada Pemerasan terhadap BUMN yang dilakukan oleh para anggota DPR. Sontak keadaan tersebut membuat para anggota DPR geram, yang kemudian menantang Dahlan Iskan untuk membeberkan siapa-siapa saja yang telah melakukan pemerasan terhadap BUMN tersebut dengan bukti-bukti yang jelas pula.

Tak mau kalah, Dahlan Iskan kemudian menjawab tantangan tersebut dengan mengungkapkan bahwa ada 10 oknum Anggota DPR yang telah memeras BUMN, dan kemudian nama-nama tersebut akan diserahkan ke BK (Badan Kehormatan) DPR untuk ditindaklanjuti. Namun pada episode berikutnya ternyata yang dilaporkan Dahlan Iskan ke BK DPR hanya 2 orang Anggota DPR saja.

Itupun masih dilakukan berbagai revisi nama-nama yang terlibat dan ditambah dengan berbagai bukti yang diberikan tak jelas pula. Sehinggga hal tersebut mulai menyulut nada-nada pesimisme dari masyarakat akan akhir dari drama cerita ini.

Mencermati alur dari drama Perseteruan antara Dahlan Iskan dengan DPR ini, terlihat muncul berbagai keganjilan-keganjilan yang pasti ada berbagai kepentingan yang mendasarinya. Tersirat ada politik saling Sandra-menyandra disini, yang saling dilakukan oleh Dahlan Iskan dan para anggota DPR.

Ketika politik saling menyandra itu benar-benar terjadi, maka kemudian pasti akan muncul politik dagang sapi atau politik tawar-menawar kepentingan. Dengan tujuan tak lain untuk sama-sama saling melindungi dan menutup-nutupi kartu-kartu hitam dari kedua belah pihak. Munculnya hipotesis tersebut dikuatkan dengan berbagai keganjilan-keganjilan pada alur drama perseteruan antara Dahlan Iskan dengan Para anggota DPR itu.

Yaitu dimulai ketika Dahlan Iskan mengalami tekanan dan terpojokan karena harus memberikan pernyataan pertanggungjawaban ke DPR atas inefisiensi yang terjadi di PLN. Dalam keadaan tertekan tersebut, kemudian Dahlan Iskan mencoba melakukan strategi counter attack atau mengalihkan isu dengan mengungkapkan adanya berbagai tindakan pemerasan terhadap BUMN yang dilakukan oleh para oknum anggota DPR.

Sehingga ketika timbul opini publik tentang pemalakan BUMN oleh anggota DPR, kemudian publik pasti akan memberikan pressure kepada DPR, akibatnya DPR menjadi tertekan, disatu sisi Dahlan Iskan mulai sedikit demi sedikit keluar dari tekanan tersebut. Pada saat itulah bendera politik saling Sandra itu saling dikibarkan dan politik tawar-menawar harga pun pasti dilakukan.

Dibalik Opera Sabun Dahlan Iskan dengan DPR

            Drama perseteruan Dahlan Iskan dengan para anggota DPR telah banyak menyita perhatian dari publik dan tak ubahnya seperti drama Opera Sabun di yang dapat dinikmati setiap saat oleh publik di berbagai stasiun TV. Dimana setiap episode demi episodenya selalu diakhiri dengan kejadian yang mengambang, yang membuat para penontonnya menjadi terperangah penasaran dan dengan cerita yang tidak pernah diketahui kapan selesainya.

Di dalam drama Opera Sabun juga dapat kita lihat bagaimana tema yang dibuat berputar-putar serta situasi-situasi yang penuh ketidak pastian. Seorang tokoh dengan tujuan awal yang mulia dapat dengan seketika menjadi seorang yang kejam dan tidak manusiawi, begitu pula sebaliknya. Itu dilakukan untuk bagaimana memberikan minat emosiaonal kepada para penontonnya.

Begitu pula dapat kita lihat drama antara Dahlan Iskan dengan para anggota DPR ini. Kita tidak mungkin bisa mengetahui kapan drama itu akan selesai dan dengan ending cerita yang seperti apa. Apakah Dahlan Iskan benar-benar akan menyeret para oknum anggota DPR ke meja hijau serta menjadikan BUMN tidak lagi sebagai sapi perah oleh oknum-oknum orang di DPR. Atau akhir ceritanya malahan hanya keadaan yang mengambang dan tak menentu.

Artinya tak satupun para oknum anggota DPR yang diseret ke meja hijau karena tindakannya melakukan pemalakan terhadap BUMN-BUMN. Kalaupun ada itu mungkin hanya oknum anggota DPR yang dijadikan tumbal remeh-temeh saja, untuk menutupi kebobrokan citra Dahlan Iskan dan DPR. Dan kasus terjadinya inefisiensi di PLN disaat Dirutnya dipegang oleh Dahlan Iskan pun mulai diabaikan dan tidak ada penelusuran lebih lanjut.

Dekatnya PEMILU 2014

            Memang tak dapat dipungkiri, drama perseteruan antara Dahlan Iskan dengan para anggota DPR ini sangat dipengaruhi dan tak terlepas dari sudah dekatnya Pemilihan Umum pada 2014 besok. Para politisi di DPR dan Dahlan Iskan tidak mungkin mau kreadibilitas dan citranya hancur luluh lantak karena perseteruan keduanya. Yang pasti dapat mengakibatkan peluang untuk dapat mencapai RI 1 dan merebut kursi-kursi kekuasaan di senayan menjadi sulit.

Sehingga dengan politik saling Sandra yang sudah didengungkan oleh keduanya pasti kemungkinan besar diakhiri dengan politik tawar-menawar atau transaksi gelap untuk bagaimana saling menutupi kartu keduanya dan agar menjaga citra mereka di mata publik. Sudah dekatnya PEMILU 2014 bisa saja digunakan lawan-lawan politik untuk saling menjegal dan mungkin hal tersebutlah yang mencoba mereka hindari dengan berbagai kompromi gelap.

Kalau memang berbagai hal yang sudah saya paparkan diatas itu benar terjadi, maka politik di level kekuasaan atas di negeri ini tak ubahnya seperti drama Opera Sabun. Akibatnya  salah satu jiwa dari Politik yang begitu penting yaitu Politik sebagai alat untuk memperjuangkan –dalam hal positif- pun terasa sudah hilang dan tergusur oleh politik pragmatisme atau politik sesaat.

Dengan keadaan yang seperti itu, maka jurang kegagalan Republik Indonesia sebagai suatu Negara semakin dekat dan terpampang jelas di depan mata. Hanya dengan penyadaran publik terhadap politik untuk dapat mengetahui mana saja yang benar dan salah merupakan salah satu bentuk upaya menyelamatkan Republik ini. Dan jangan sampai publik mudah terayu dan tergoda oleh drama-drama Opera Sabun nan menyilaukan yang dimainkan oleh para oknum-oknum pemimpin di negeri ini. Tanpa itu, maka kehancuran Indonesia siap menghantui. Tetapi semoga saja itu semua tidak terjadi.

Nuwun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: