Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Negeri Kartel Korupsi

Negara kartel korupsi jejaring koruptor kemiskinan indonesia

Doc: Luwarso

Kabut kelam yang bernama “Korupsi”, kini dengan membabi-buta menghantam segala sendi-sendi kehidupan di Pemerintahan Indonesia. Korupsi tersebut juga telah mendistorsi  proses-proses politik, ekonomi, birokrasi pelayanan publik, dan penegakan hukum. Akibatnya kebijakan dari Pemerintah berjalan pincang dan mempunyai tendensi mendiskriminasikan kepentingan rakyat kecil.

Tindakan Korupsi di sini dapat dipahami sebagai penyalahgunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi atau kelompok. Selain itu tindakan korupsi tersebut juga dapat diartikan sebagai pengutamaan kepentingan pribadi atau klien di atas kepentingan publik oleh para pejabat atau aparatur negara yang bersangkutan (Braz dalam Lubis dan Scott; 1985).

Publik telah dibuat semakin pesimistis terhadap keberhasilan di dalam pemberantasan tindakan korupsi ini. Hal tersebut terjadi karena tindakan korupsi bukannya mengalami penurunan, tetapi malahan terus mengalami peningkatan yang drastis dari hari ke hari. Bahkan lembaga superbody seperti KPK dibuat kelabakan oleh aksi-aksi korupsi itu sendiri.

Jejaring Kartel Korupsi

Merujuk karya sosiolog William J Chambliss tentang jaringan kriminal (On the Take: From Petty Croocks to Presidents), maka melihat perilaku korupsi yang akut di Indonesia sekarang ini, di sini kita dapat mengurainya dengan mengembangkan pendekatan ”jejaring korupsi”.

Artinya setiap tindakan korupsi yang begitu akut dan sulit sekali dibrantas itu tidak mungkin berjalan sendiri, akan tetapi ada kekuatan besar di belakangnya. Di dalam jejaring korupsi inilah yang kemudian membentuk suatu sistem kartel korupsi. Kartel korupsi tersebut bukanlah tindakan yang dilakukan perorangan, akan tetapi mereka telah membentuk jaringan kerja yang melibatkan gerombolan orang atau banyak orang didalamnya.

Orang-orang yang berada di dalam kartel korupsi tersebut tidak lain adalah para orang-orang yang berada di pemerintahan atau orang di-luar pemerintahan yang memiliki kekuasaan, seperti apa yang diungkapkan oleh Lord Action bahwa“Power tend to corrupt and absolut power corrupts absolutely”.

Di dalam sistem kartel korupsi ini, orang yang memiliki idealisme kuat yang masuk dalam sistem tersebut, dipaksa untuk memilih 2 opsi, apakah mau bergabung dan mematuhi aturan yang ada atau keluar dari sistem. Sehingga idealisme dengan semangat menggebu-gebu bahwa “tidak untuk Korupsi” serta akan memberantas tuntas para koruptor, seperti sebuah angin lalu ketika didalam cengkeraman sistem ini.

Itulah yang menyebabkan bagaimana korupsi di Indonesia ini sulit sekali dilumpuhkan. Orang yang tertangkap karena tindakan korupsinya di dalam sistem kartel korupsi dianggap sebuah bentuk kesialan. Atau malahan merupakan tumbal remeh temeh dengan tujuan untuk menenangkan masyarakat agar tidak berontak dan marah.

Hadirnya lembaga seperti KPK yang dengan giat berusaha untuk menjerat dan memenjarakan para koruptor, malahan tidak membuat para koruptor sedikitpun mundur dan jera. Akan tetapi malahan disiasati oleh mereka dengan logika untung-rugi. Artinya para koruptor ini malahan berlomba semakin besar lagi dan lagi menjarah uang rakyat. Itu dilakukan untuk dapat menekan berbagai resiko yang dapat membuatnya menjadi merugi jika dikalkulasikan dengan hasil korupsi yang diraupnya.

Yaitu dengan hitung-hitungan bahwa, kalau saja dia mengalami kesialan dan tertangkap, seperti untuk membayar atau menyuap pengacara, hakim, jaksa, kepala rutan, dan bekal setelah keluar dari penjara. Untuk kemudian setelah keluar dari penjara, kembali lagi terjun ke gelanggang kontestasi politik atau dengan membanckingi keluarganya untuk kembali merebut kursi wakil rakyat. Yaitu dengan modal glontoran uang haram hasil korupsi, mereka kemudian kembali mempengaruhi suara konstituen, dan kemudian menang lagi. Pola seperti itu seakan terus terulang dan menjadi sebuah lingkaran setan.

Mengubur Sistem Kartel Korupsi

Sistem kartel korupsi ini telah menjadi sebuah struktur besar yang mengelompok dengan payung-payung yang berbeda. Untuk dapat menumbangkan sistem ini, tidaklah semudah seperti membalik telapak tangan. Perlu pemahaman, pengetahuan, pengorganisasian dan semangat revolusioner untuk dapat menjungkirkan sistem lambang kebobrokan ini.

Kita tidak akan pernah dapat menumbangkan sistem ini hanya dengan bermodalkan solusi-solusi administratif, kultural, dan moralis. Karena solusi-solusi seperti itu hanya menyentuh kulit permukaan saja, tidak sampai ke inti dari problematika korupsi itu sendiri.

Artinya masalah korupsi yang telah mejerat Negara ini, tidak akan dapat terselesaikan ketika solusi yang diberikan hanyalah dengan penguatan etika, pendidikan karakter, penaikan gaji, hukuman yang diperberat, ataupun dengan ceramah moral. Itu terjadi karena masalah sistem kartel korupsi ini berada pada tataran struktural. Sehingga akan menjadi omong kosong ketika masalah yang bersifat struktural ini diselesaikan hanya dengan solusi yang bersifat administratif, kultural ataupun moral.

Maka langkah yang mungkin tepat untuk mengubur problematika sistem kartel korupsi ini adalah dengan memperbaiki struktur tersebut, atau kalau memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk diperbaiki, maka kubur dalam-dalam struktur yang telah usang tersebut. Untuk kemudian menciptakan struktur baru, yang lebih mengayomi masyarakat dan menjadi batu loncatan didalam menciptakan segala bentuk kesejahtraan, kemakmuran dan keadilan di Negeri ini. Tetapi sekali lagi, perlu orang-orang revolusioner yang terorganisasi untuk dapat menciptakan tujuan tersebut.

Arif Novianto
Mahasiswa Manajemen dan Kebijakan Publik
Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta
Kontak: arifnovianto92@gmail.com

Tulisan ini juga telah Dimuat di Opini Okezone.com pada 07 Maret 2013

Sumber: http://suar.okezone.com/read/2013/03/07/58/772237/negeri-kartel-korupsi

Advertisements

One response to “Negeri Kartel Korupsi

  1. Jual Sepatu Futsal March 9, 2013 at 8:03 am

    Mohon maaf
    saya rasa tidak hanya pemerintah saja yang korupsi tetapi rakyat kecil juga pernah korupsi
    saya pernah berbelanja kepasar dan setelah saya berbelanja kepasar saya melihat seorang pembeli sedang membeli buah-buahan setelah itu pembeli itu menghitung jumlah uang yang ada di dompet dan ketika itu si penjual memasukkan barang dagangannya ke si pembeli otomatis barang yang dijual si pembeli ini mengalami kenaikan, dan ketika itulah saya sadar bahwa korupsi yang ada di Indonesia sumbernya bukan dari masyarakat yang besar tetapi dari turunannya hal ini yang harus disadari oleh pemerintah.
    Terimah Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: