Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Politik Tergusur Mekanisme Pasar

Lampung Post 27 Juni 2013

Doc: Epaper Lampung Post Online

Mendengar kata “politik” sebagian besar masyarakat awam di Indonesia sekarang ini pasti akan merujuk kepada konflik kepentingan (dalam arti negatif), perilaku koruptif dan manipulatif yang dilakukan oleh para pejabat publik untuk kepentingan kekuasaannya. Artinya politik dianggap sebagai barang haram yang selalu lekat dengan efek negative didalamnya.

Bingkai berfikir tersebut tidak terlepas dari sokongan pemberitaan di media yang secara tidak langsung menyelaraskan politik dengan tindakan negatif yang menyimpang. Namun, apakah benar politik seperti itu telah membuat kemandulan pada sistem pemerintahan kita dan telah mengarah ke tindakan-tindakan menyimpang yang dapat kita lihat sekarang ini, seperti perilaku korupsi dan manipulasi, ketidakberpihakan kebijakan kepada rakyat serta porak-porandanya sistem demokrasi ini?

Bagi penulis adalah tidak. Karena fenomena yang tengah terjadi di dalam aras gejolak demokrasi di Indonesia sekarang ini bukan peristiwa yang disebabkan oleh politik. Akan tetapi, karena hilangnya politik itu sendiri di dalam relasi demokrasi dan pengambilan keputusan.

Pengeksklusian Politik

Keberadaan politik baik di dalam perdebatan pengambilan keputusan kini telah mulai terseingkir. Hilangnya nyawa politik tersebutlah yang kemudian juga turut menghilangkan daya kritisme politik didalam melihat suatu masalah. Itu terjadi karena didalam demokrasi liberal yang dibimbing oleh sistem ekonomi liberalis ini telah membuat mekanisme pasar atau kepentingan ekonomi mengangkangi nyawa dari politik tersebut. artinya, politik telah tereksklusif di dalam ranah dan ruang yang seharusnya dirinya (politik) bersemayam.

Hilangnya politik di dalam kontestasi demokrasi dapat kita lihat di dalam perdebatan tentang kenaikan harga BBM akhir-akhir ini, baik di parlemen maupun di tengah masyarakat. Masalah yang dimunculkan oleh pemerintah bahwa subsidi BBM telah memberatkan APBN dan tidak tepatnya subsidi BBM tersebut bagi kalangan bawah karena sebagian besar BBM dinikmati oleh kalangan atas, tidak menjurus kepada perdebatan di dalam ranah politik.

Ruang Kosong

Ketiadaan perdebatan politik tersebut karena yang menjadi aras utama yang mengontrol perdebatan kenaikan BBM ini adalah faktor ekonomi atau mekanisme pasar sehingga perdebatan yang terjadi adalah pro-kenaikan BBM sama dengan pro-efisiensi dan kesehatan APBN. Sementara kontra-kenaikan BBM sama dengan setuju subsidi salah sasaran serta menolak adanya efisiensi dan kesehatan APBN. Padahal, sebenarnya ada beberapa ruang penanda kosong (merujuk ungkapan Zizek) yang dapat terus digali dan dieksplorasi secara kritis sebagai tempat pertarungan wacana dan tidak menjadi perdebatan beku serta tidak tepat.

Bukan hanya di dalam masalah kenaikan harga BBM ini saja terjadi penyingkiran politik, melainkan juga dapat dilihat dari pencarian solusi  kebijakan di dalam masalah melonjaknya harga cabai dan daging sapi beberapa saat lalu. Alternatif kebijakan yang diambil pemerintah sekali lagi dibimbing oleh mekanisme pasar. Artinya, kenaikan harga cabe dan daging sapi yang tinggi di pasaran karena menipisnya komoditas cabai dan daging sapi tersebut, disikapi pemerintah dengan melakukan impor cabai dan daging sapi dari luar negeri. Dengan tujuan agar kedua komoditas tersebut dapat selaras dengan permintaan dan penawaran pasar dan kembali menciptakan kestabilan harga.

Fenomena yang kita saksikan di dalam panggung demokrasi saat ini adalah fenomena pemiskinan politik. Tersingkirnya politik telah membuat setiap elit dan pejabat publik bergerak dalam suara yang hampir sama (kalau tidak mau dikatakan sama).

Kesadaran politik menjadi suatu hal yang sangat penting karena lewat kesadaran akan pentingnya politik tersebutlah roda demokrasi akan dapat benar-benar berjalan. Anggapan negatif terhadap politik adalah bagian dari ketiadaan kesadaran tentang politik itu sendiri. Karena politik menurut filsuf Yunani kuno, seperti Plato dan Aristoteles adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat yang terbaik.

Tulisan ini sebelumnya juga telah dimuat di Opini Lampung Post, pada 27 Juni 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: