Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Lonceng Waktu

karikatur

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Desingan detak waktu yang berjajar rapi

Terus seirama dan tak sedikitpun lelah berhenti

Not-not nada seolah saling bercengkerama dengan kesetiaan

Berbalut kepastian yang tak terelakan

 

Dia seolah bercengkrama dengan simfoni alam

Menggoda keanggunan sang rembulan

Atau bermain ceria dengan ribuan bintang

Atau pun menari-nari dihadapan sang surya

Dan dengan setia menemani cakrawala

 

Dia adalah patoknya kehidupan

Dia adalah pusatnya kejadian-kejadian

Yang merekam ribuan bahkan jutaan petualangan

Yang menjadi saksi keelokan pertemuan

Dan menjadi hakim atas perpisahan

 

Dia bukanlah seorang ahli nujum

Bukan pula anak keturunan dewa yang tau segala-galanya

Tapi seloroh halusnya,

bahwa “ Pertemuan adalah bagian dari perpisahan”

begitu pula sebaliknya “Perpisahan adalah bagian dari pertemuan”

Tak sedikitpun terbantahkan

 

Dia dengan rajin mencatat pertemuan-pertemuan

Dan dengan rajin pula menghakimi perpisahan-perpisahan

Tetesan darah tangisan, kepuasan, penyesalan, dan teriakan-teriakan

Seolah menjadi lantunan irama yang selalu menemaninya

 

Arghh,, entah sekarang, entah besok atau entah kapanpun pula

Kita pasti akan dihadapkan pada pertemuan dan perpisahan ini

Kita tak mungkin membelakangi tuntutan waktu

Atau meronta-ronta untuk menolaknya

 

Lafal mantra-mantra yang menggelora dihati

Diiringi lantunan detak jantung yang beradu kecepatan

Dibalut putaran waktu memori kebelakang

Dan disambut bungkahan runtuhnya dua bendungan

Seperti film melankolis yang terus diulang-ulang

 

Peraduan waktu ini selalu meninggalkan jejak

Jejak langkah pijakan yang mengalir bak air

Yang terukir didalam setiap hati yang dibelainya

Dan terus terpupuk dibawah panji-panji lonceng waktu

Yang kapan saja berbunyi dan kembali menyunyi

 

Tetapi ingat, perpisahan bukanlah akhir segalanya

Perpisahan bukan melulu membusuknya jasad

Bukan pula putusnya benang persaudaraan

Pertemuan dan perpisahan adalah simultansi kehidupan

 

Terus menenggalamkan diri pada genangan massa lalu adalah ke-barbar-an

Membangkitkan diri dari genangan lumpur romantisme massa lalu adalah kebijaksanaan

 

Maka rebutlah baranya api perpisahan

Untuk menerangi kegelapan waktu massa depan

Untuk membuka tirai kepicikan peradaban

Dan untuk menciptakan guratan-guratan pengetahuan

 

“Tong, teng, tong, teng…”, dan lonceng waktu detik ini pun berdendang

Menghakimiku untuk mengakhiri lengkokan tulisan ini

Aku pun tak kuasa menolak dan menghujamnya

Karena dia adalah indera dunia yang tak terbantahkan dan tak dapat dibantah

 

Miritpetikusan – Kebumen

Pukul 01:10, 28 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: