Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Untuk Kemenangan Sucimu, Bunda

Fhoto kenangan

Doc: Pribadi

Raya senja buta terbangun bagai fatamorgana

Sinar sang surya mulai meredup tertiup rotasi semesta

Entah mengapa, mataku mulai berkaca-kaca

Hatiku menggumpal, menengok memori kebelakang

***

 

Saat itu sang surya tertatih-tatih untuk berdiri

Di lentera Bumi paris, 29 Januari 1916 perang Dunia Pertama tengah terjadi

Belaian musim panas, telah meniupkan angin pertumpahan darah

Dan semakin membarakan api keserakahan serta menyisakan bara tangis dan abu kepedihan

 

Di pojok bumi, yang tak terhendus oleh peta

Pada tanggal yang sama

Dikala rezim pembungkam masih berkuasa

Seorang wanita tengah berperang dengan tubuhnya

Selimut musim dingin, telah meniupkan angin perdamaian dalam setiap nafasnya

Perutnya yang besar, telah mulai rata

Tatkala jerit tangis jabang bayi memecah lantunan melodi hujan

Dengan ceceran darah yang menyiratkan bara api perjuangan

 

Ya jabang bayi itu aku, anakmu Bunda

Dan wanita perkasa yang telah menang dalam medan peperangan itu

Tak lain adalah engkau Bunda

Engkau berhasil memanangkan pertempuran kasih sayang itu Bunda

Dan monument “29 Januari 1992” pun berdiri dengan indahnya

Dengan ukiran nama “Arif Novianto” didindingnya

Menjadi lambang kemenangan suci itu

Disaat pertempuran nasfu kekuasaan dan amarah kebencian terjadi disekitarmu

***

 

Bunda, aku akan selalu ingat

Putaran otakmu telah membuatku tumbuh seperti ini

Tetesan keringatmu telah menyuburkan pengetahuanku

Belaian kasih sayangmu, dengan lembut telah mendewasakanku

 

Engkau rela membelah hutan belantara

Merebut ibu pertiwi dari kepicikan penguasa

Kemudian membelainya untuk mencari puing-puing penghidupan didalamnya

Hanya untuk anakmu bunda

 

Engkau rela berpaling dari modernitas kepalsuan

Selalu berselimut petang dan kesepian ditengah hutan

Dan kadang bertempur dengan Aparat-aparat brandalan

Hanya untukku Bunda, ya untuk aku anakmu Bunda

 

Bunda, lambang jasa kepahlawananmu mungkin tak kan terlihat oleh dunia

Mereka terlalu sibuk mencari lambang jasanya sendiri

Tetapi dalam diriku bunda, lambang jasamu mungkin tak kan habis untuk kuarungi

Lambang jasamu lebih indah dari ribuan bintang yang berpijar diangkasa

Lebih anggun dari sang Rembulan yang tengah bersolek ria

Dan lebih terang, dibanding jilatan api sang Surya

 

Sejarah, mungkin juga tak akan mengenal kepahlawananmu Bunda

Mungkin setitik pun namamu tak akan pernah tertulis didalam lembarannya

Tetapi dalam hatiku bunda, sejarahmu itu tak akan pernah usai

Karena akan terus menyatu didalam jiwa dan ragaku

Sampai tubuhku hilang tertelan tanah

Atau sampai jasadku membusuk, terurai dan lapuk

 

Tenang bunda, Jasa dan catatan sejarahmu akan terus mengalir

Diantara hati-hati yang selama ini kita dekap

Selain itu, ada anak-cucu-canggah-dst yang pasti akan menjadi sungainya

Bila engkau bertanya dimana akhir aliran sungai itu?

Maka bentangan luasnya samudralah yang menjadi akhiranya

Dan bila engkau bertanya kembali, apa saja yang akan menjadi samudra itu?

Maka aku akan menjawab, kalau samudranya adalah diantara setiap anak-anak yang mengasihi para ibundanya dengan penuh rasa kasih sayang dan untaian cinta

 

Bunda, mungkin tak sepantasnya aku mengurai rangkaian kata terimakasihku

Karena kata-kata itu terlalu berjejal untuk kuungkapkan

Bahkan seisi bumi pasti akan tertutup bila aku tuliskan

Bahkan tahun-tahun akan terus berlalu bila kuucapkan

Serta malah hanya akan terkremasi bila aku diamkan

Dan hanya akan terurai membusuk bila aku pendam

 

Maka rasa terimakasihku akan aku semai didalam jiwaku bunda

Akan aku tanam didalam relung-relung hatiku

Akan aku pupuk dengan kasih sayangku

Akan aku sirami dengan pengorbananku terhadapmu

Serta aku rawat dengan belaian pengabdianku

 

Biar pohon itu tumbuh tinggi setingi-tingginya bunda

Sebagai tempatmu berteduh dengan tenang di alam dua dunia

Dan agar dapat engkau naiki sampai kepucuk surga

Serta agar membuatmu damai dan bahagia

 

Tetapi aku tidak mampu berdusta bunda

Bahwa tingginya pohon itu

Tetap tidak akan sebanding

Sekali lagi bunda, tetap tidak akan sebanding

Dengan tingginya pohon hasil kemenangan sejatimu bunda

Oleh: Arif Novianto

Pogung Lor – Sleman, Pukul: 18:29 wib

Advertisements

3 responses to “Untuk Kemenangan Sucimu, Bunda

  1. Firaaa Kartika December 21, 2013 at 3:06 pm

    Puisi tentang ibu yang sangat menyentuh sekali, sangat pas dihari ibu ini

  2. Wong deso December 21, 2013 at 3:08 pm

    Puisi yang bagus mas, sampai membuatku menangis karena mengena sekali… membuatku teringat dengan ibuku di desa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: