Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Ilusi Sang Ratu Adil

Lampung Post 14 September 2013

Doc: Epaper Lampung Post 14 September 2013

Didalam regime yang demokratis, pemilihan umum (pemilu) merupakan satu-satunya mekanisme kontestasi politik yang absah dan paling utama. Lewat mekanisme ini, para pemimpin ditentukan dan dipilih oleh para pemegang tampuk kekuasaan tertinggi dalam sistem Demokrasi yaitu rakyat.

Pada April 2014 ini, pemilu akan diadakan serentak di seluruh Indonesia baik pemilihan DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, DPD dan Presiden serta wakil presiden, sehingga pada tahun 2014 banyak kalangan menyebutnya sebagai tahun “politik”.

Hiruk pikuk hajatan pemilu pada April 2014 yang sudah dekat, telah menghadirkan berbagai warna serta wacana tersendiri pada basis konstituen. Sebuah wacana yang pasti selalu muncul disetiap ajang kontestasi politik ini adalah pencarian terhadap sosok sang “ratu adil” (terutama dalam kepercayaan Jawa).

Ratu Adil ini sendiri merupakan sosok pemimpin yang digambarkan sebagai seorang yang bijaksana dan melalui kehadirannya segala keadilan, kemakmuran dan kesejahtraan kehidupan masyarakat diyakini akan dapat dicapai.

Problema Ratu Adil

Sosok ratu adil ini didalam teori kekuasaan Jawa merupakan mereka yang telah menerima sebuah wahyu yang turun dari Tuhan yaitu wahyu kedathon. Menurut Ben Anderson (1972) kekuasaan Jawa ini sifatnya kongrit, berasal dari semesta tunggal dan mutlak.

Kekuasaan hanya akan dapat diterima ketika Tuhan sudah berkehendak dan telah menurunkan wahyu kedhaton atau pulung kekuasaanNya kepada seseorang. Sehingga legalitas dari kekuasaan tersebut pun tidak dapat terbantahkan.

Bila kita telisik lebih mendalam, sosok ratu adil muncul pada era sekarang ini sebagai bagian dari endapan ketidakpuasan yang terus tertimbun di benak para konstituen karena ketidakmampuan para pemimpin yang telah ada didalam menciptakan perbaikan terhadap kehidupan mereka. Artinya sosok ratu adil ini akan terus muncul ditengah tekanan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat, apalagi semakin dipupuk dengan logika mistik yang masih dipercayai dengan kuat.

Dedemokratisasi

Akan tetapi, kepercayaan yang begitu kuat akan datangnya sosok ratu adil atau satriya piningit ini malahan dapat menciptakan permasalahan besar didalam aras demokrasi, yaitu akan terciptanya proses dedemokratisasi.

Didalam konsep kesejatian demokrasi, peran serta masyarakat didalam menciptakan check and balance terhadap kehidupan bermasyarakat dan bernegara menjadi hal yang utama. Artinya semakin tinggi tingkat kesadaran dan kemampuan intelektualitas masyarakat untuk turut serta aktif dalam demokrasi, maka proses demokrasi pun pasti akan berjalan dengan baik, begitu pula sebaliknya.

Namun, kepercayaan yang kuat terhadap sosok ratu adil ini telah membuat masyarakat abai terhadap peran pentingnya. Mereka cenderung “menunggu” dari pada “mencari” dan “membiarkan” dari pada “mengkritisi”.

Pada titik ekstrimnya, mereka akan membiarkan pemerintahan yang sewenang-wenang dan menindas rakyat, dengan logikanya “ah, nanti juga kalau Ratu Adil telah diturunkan dan datang, semua masalah pasti akan selesai”.

Pertanyaannya, sampai kapan (kalau memang ada) ratu adil itu datang? Apakah sampai menunggu Negara ini hancur berantakan? Bagi penulis itu hanyalah sebuah ilusi. Artinya didalam sistem demokrasi electoral yang lebih mengedepankan kekuatan modal (capital) dan popularitas sekarang ini, sosok ratu adil itu seperti sebuah mimpi.

Karena sangat tidak mungkinkan, sosok Ratu Adil itu merupakan mereka dari kalangan ber-uang yang hedonis dan yang sedikitpun tidak mengetahui penderitaan rakyat kecil serta yang sudah terjerat dalam sistem yang tidak pro-rakyat?

Sampai kiamatpun, sosok lambang keadilan, kesejahtraan dan kemakmuran tersebut tidak akan pernah datang kalau hanya ditunggu dan ditunggu. Sebab, ketika memang ada sosok seperti itu, dia sudah pasti akan digiling dan digilas oleh roda kompetisi demokrasi elektoral yang mengedepankan kekuatan modal seperti sekarang ini. Kalaupun dia memiliki modal besar karena ada penyokongnya, idealisme yang dipegangnya sudah pasti hancur berkeping-keping terseandra kepentingan-kepentingan tertentu.

Kesejatian Ratu Adil

(red, cetak miring = disunting redaksi) Kalau memang kita percaya akan sosok Ratu Adil, maka bersihkan dia dari logika mistis yang menyelubunginya. Dia bukanlah orang yang mendapat wahyu dari tuhan yang kemudian tidak dapat kita bantah. Karena itu hanya akan membuatnya menjadi diktator yang anti kritik dan cenderung sewenang-wenang.

            Maka cari dan cari terus dia sampai ke akar rumput, kemudian tuntun, dorong dan dukung dia untuk mengarungi demokrasi elektoral yang mengedepankan kekuatan kapital seperti sekarang ini. Ketika dia sudah menjadi Pemimpin, maka terus dukung dengan kritik dan saran yang membangun. Maka dengan cara itulah sosok Ratu Adil ini dapat benar-benar muncul dan ada. Artinya bukan hanya sebuah ilusi yang ada ditengah masyarakat yang tengah putus asa (red, tetap dimasukan karena dirasa sangat penting).

Proses pencarian dan pembentukan sang ratu adil ini seharusnya dapat selaras dengan demokrasi dan akan menciptakan kesejatian demokrasi yang sesungguhnya. Alhasil, akan membuat mimpi penciptaan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan itu bukan hanya menjadi fatamorgana, akan tetapi dapat benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

Tulisan artikel ini sebelumnya juga dimuat di Opini koran Lampung Post, pada 14 September 2013

Advertisements

One response to “Ilusi Sang Ratu Adil

  1. Sandi Kaladia December 2, 2013 at 1:55 am

    Hhhhhhhhhhhhmmm~`!1@2#3$4%5^6&7*8(9)0_-+=:;”‘./?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: