Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Cempeku

Ini adalah rangkaian puisi untuk Melawan Lupa dan Mengenang peristiwa  pembantaian manusia terbesar kedua sepanjang sejarah dunia. Yaitu peristiwa Gestok (Gerakan Satu Oktober) 1965, dimana orang kiri dibantai dengan tak manusiawi. Rangkaian Pusi tersebut meliputi “Purgatory Gerwani” , “Suara, Tinta dan Darah Perlawanan” dan “Cempeku”.
Sejarah bukanlah untaian kenangan yang kosong. Sejarah adalah pembelajaran yang menentukan arah transformasi kita kedepan. Kalau semua orang melupakan sejarah kelam ini, maka siapa yang akan memperjuangkannya? Apakah kita ingin mengulangi sejarah kelam ini? atau membiarkan para pelaku keji dalam sejarah itu mengukir lengkokan sejarahnya sendiri? Yang telah memberikan imajinasi kebusukan bagi kita? Yang telah mencongkel kita dari goresan keemasan yang harusnya dapat kita ukir sendiri?
Kebenaran harus diungkap kawan, walaupun itu Pahit!!!

Peristiwa kudeta 1965

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Langit merona merah jingga

Membentang luas sepanjang sudut Cakrawala

Hari itu, sorot sang fajar tak hanya memuram di timur

Tapi, dia menjamur disepanjang bangunan yang hancur

 

Angin pancaroba telah meniupkan kegersangan

Udara panas bagai api pembakaran

Hantu kecemasan telah berkeliaran

Nyawa dan kematian hanya bagaikan uban

 

Selimut semu Dewan Jendral Kudeta terbentang

Didalamnya persekongkolan kejam dijalankan

Tarian harum bunga disambut propaganda

Nyanyian Gendjer-gendjer telah meniupkan sankakala

 

Kambing-kambing Hitam mulai tunggang langgang

Mereka diburu, ditawan dan dibunuh oleh para serdadu jalang

Ladang-ladang pembantaian tak lagi terelakan

Darah berceceran dan mengalir disepanjang sungai kebinatangan

 

Kala itu Tuhan hanya lah hiasan kusam

Yang telah tergantikan oleh nafsu, keserakahan dan amarah kekuasaan

Perbedaan sama dengan menyerahkan diri pada ajal

Golok dan Senapan adalah makanan bagi yang menentang

 

Cempeku terlahir dari rahim kambing hitam

Dia tidak sedikitpun me-ngembek-embek dan merengek-rengek

Dia dibungkam 32 tahun lamanya

Disekap sampai tak keluar suara nuraninya

Dirantai agar tak bertingkah semaunya

Dan ditodong agar mengikuti tingkah penguasa

 

Tinja-tinja kepalsuan dicekokan dibalik tabir kelam

Parfum kebenaran disiramkan lewat ilusi layar lebar, monument, kurikulum dan hari besar

Membasahi jubah rombengan, yang kotor dan penuh kecacadan

Untuk membungkam bau busuk kebohongan dan kepalsuan

 

Saat parfum wewangian tersapu angin perubahan

Tong-tongnya pun mengering diterpa sinar panas perlawanan

Bau busuk dibalik jubah kekuasaan menggelegar bertebaran

Bahkan lalat-lalat terkapar menghendusnya

Cempeku menggelora keranjingan

Dia turut membakar semangat penggulingan singgasana kebinatangan

 

Cempeku dengan girang memekikan kebenaran

Cempeku dengan liar menuntut keadilan

Tak peduli panas hujan dan dinginnya siang

Suaranya bahkan sampai parau dan parau

Tapi timbangan kebenaran dan keadilan tetap timpang

 

Cempeku tak pernah patah arang

Suaranya telah membentuk rantai-rantai perjuangan

Yang melingkari dinding-dinding ketidakadilan

Dan terus melilit kepalsuan layaknya ular

 

Cempeku percaya, dinding itu pasti runtuh

Dengan percikan semangatnya yang tak pernah padam

Disanalah kebenaran dan keadilan akan ditegakan

Dan dia dapat menemukan pelaku penghitaman ibunya

Karena CEMPEKU adalah CErita Malapetaka PEristiwa KUdeta

 

Oleh: Arif Novianto

21 September 2013, pukul: 17:21 Wib

Pogung-lor, Sleman-Yogyakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: