Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Mobil dan Idiologi Penghancuran

Koran Madura 25 September 2013

Doc: Epapaer Koran Madura 25 September 2013

Penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 tentang Regulasi Mobil Murah dan Ramah Lingkungan (LCGC) telah menciptakan pro-kontra dan perdebatan sengit ditengah masyarakat. Masalah kesamaan hak bagi masyarakat (terutama rakyat menengah bawah) untuk menikmati keistimewaan mobil dan masalah kemacetan serta polusi terus dilontarkan tanpa pernah mencapai titik temu.

Yang jelas mobil telah menjadi kebutuhan vital di era sekarang ini didalam melakukan mobilisasi. Akan tetapi mungkin banyak orang tidak menyadari, bahwa mobil pribadi ini telah memporak-porandakan perencanaan kota dan pemukiman dimana mereka tinggal sekarang ini serta telah menciptakan kerusakan pada Bumi. Dan penulis tidak bisa membayangkan bagaimana wajah kota-kota besar tersebut bila setiap keluarga memiliki satu mobil? Atau bahkan dua mobil dan lebih? Sebagai akibat dari kebijakan mobil murah ini.

Kapitalisme Mobil

            Didalam perkembangannya, menurut Andre Gorz (2005) mobil ini ketika awal kemunculannya dimaksudkan untuk menciptakan keistimewaan yang belum pernah ada presedennya bagi segelintir orang yang sangat kaya. Karena orang kaya tersebut harus memisahkan diri dari orang miskin, sebab tidak ada artinya kaya ketika tetap sama dengan orang miskin.

Salah satunya dengan alat transportasi mobil, yang memiliki kecepatan dan dengan harga yang mahal bila dibanding dengan sepeda, becak dan gerobak. Yang pasti akan susah diakses oleh orang-orang miskin.

Mobil telah menciptakan kebebasan bagi pemiliknya untuk menjelajah tak terbatas, tanpa dihambat oleh jadwal keberangkatan seperti halnya transportasi massal. Dengan mobil seseorang memiliki kepuasan pribadi dan dapat mengeksplorasi sikap individualitasnya.

Keistimewaan dan kemewahan dari mobil seiring berjalannya waktu telah menciptakan kesadaran palsu (merujuk istilah Gramcy) bagi masyarakat. Dan kemudian hal tersebut pun menjadi mitos yang diyakini sampai saat ini.

Akan tetapi sesungguhnya kemerdekaan yang dimiliki dari mobil ini hanyalah kepalsuan. Yang terjadi adalah munculnya ketergantungan yang radikal (Gorz, 2005). Kepemilikan terhadap mobil telah membuat ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, onderdil mobil, perbaikan dan yang pasti adalah produsen mobil itu sendiri.

Disanalah kemudian komersialisasi mobil dilakukan oleh para kapitalis. Ketergantungan yang radikal terhadap berbagai komoditas, membuat peluang meraup keuntungan menjadi semakin besar. Apalagi ketika dilakukan monopoli terhadap komoditas-komoditas tersebut.

Dan cara yang dilakukan adalah dengan menjual mobil dengan harga murah, agar dapat terjangkau kalangan menengah-bawah. Setelah sebelumnya kesadaran palsu disemikan terhadap masyarakat tersebut.

Mobil dan Penghancuran

            Tetapi setelah hampir semua kalangan dapat mengakses mobil (memiliki) apakah mobil akan menjadi barang istimewa dan barang mewah lagi? bagaimana keadaan kota ketika berjubel-jubel mobil memadatinya setiap hari, jam bahkan detik? Apa dampak yang diakibatkan oleh mobil-mobil tersebut?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang menggambarkan begitu lekatnya mobil-mobil pribadi dengan idiologi Penghancuran. Keistimewaan dan kemewahan mobil telah terdevaluasi ketika semua orang sudah memilikinya. Dan kemudian untuk dapat membedakan diri dengan orang miskin, kapitalis kemudian menciptakan mobil yang lebih unggul dalam segi desain dan kecepatan untuk orang kaya.

Tetapi semua itu hanyalah omong kosong. Berapapun cepatnya mobil itu, mobil tersebut tak akan pernah dapat menyisir sebagai contoh jalanan kota Jakarta dengan kecepatan penuhnya. Bahkan gerak mobil tersebut akan kalah cepat ketika dibandingkan dengan kecepatan pejalan kaki, sepeda, becak dan dokar yang sebelumnya telah tergusur seiring maraknya mobil di jalanan. Itu terjadi karena mobil adalah bagian dari kemacetan. Didalam kemacetan, kemerdekaan dan kebebasan mengendarai mobil adalah utopia.

Rayuan hemat bahan bakar dan ramah lingkungan, juga adalah omong kosong. Minipisnya minyak bumi dan polusi udara tidak mungkin dapat diingkari oleh mobil ini. Semakin banyak orang memiliki mobil, maka penghancuran terhadap bumi pun semakin giat dilakukan.

Bayangkan ketika kota Jakarta yang berpenduduk 9.604.329 jiwa dan terdiri dari 2.508.869 keluarga (data BPS 2010), bila sekeluarga memiliki sebuah mobil saja. Jakarta mungkin akan menjadi kota neraka di dunia. Sehebat apapun pemerintah melakukan trobosan dalam menyediakan akses jalan (baik jalan layang, tol, dll) tetap saja jalan-jalan tersebut akan penuh sesak dengan barisan mobil-mobil.

Akhirnya wajah Jakarta seperti dirantai oleh sistem produksi kapitalis dengan kesemprawutan jalan-jalan yang melingkarinya. Semua kegiatan ekonomi akan lumpuh total terlindas kemacetan. Polusi udara dimana-mana dan menjadikan Jakarta kota yang tak layak huni. Dan nilai guna dari mobil menjadi minus.

Itu artinya demokratisasi terhadap akses kepemilikan mobil pribadi ini adalah sebuah kekonyolan. Kebijakan mobil murah yang dilakukan oleh pemerintah adalah bagian dari kedunguan dan ketidak pecusan. Karena yang terjadi hanyalah penghancuran ketika mobil menjadi barang pribadi yang dimiliki hampir setiap keluarga apalagi setiap orang.

Sehingga hal utama yang perlu dilakukan untuk menghindari penghancuran ini adalah bukan kebijakan mobil murah, akan tetapi penataan dan pemenuhan transportasi massal yang nyaman dan tepat waktu. Tetapi hal tersebut juga tidak cukup untuk membuat setiap orang meninggalkan kesadaran palsu akan keistimewaan mobil pribadi yang dimilikinya.

Seperti yang diungkapkan oleh Illich bahwa “Rakyat akan meretas rantai sergapan transportasi ketika mereka mencintai rantai irama mereka dan merasa takut untuk menjauh darinya”. Artinya penciptaan kondisi kerja yang nyaman, keadaan kota yang kondusif dan tidak semprawut serta tata ruang kota yang rapi adalah cara selain penciptaan transportasi massal yang nyaman dan tepat waktu untuk dapat membuat para pengguna mobil pribadi beralih ke transportasi massal.

Pemakain mobil secara kolektif merupakan cara untuk menentang idiologi penghancuran pada Mobil. Dan itu harus dilakukan bila tidak ingin melihat dan tinggal di Kota-kota Neraka akibat mobil-mobil yang tak terkontrol dan menciptakan penghancuran.

Tulisan artikel ini sebelumnya telah dimuat di Opini koran Madura, pada 25 September 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: