Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Paradoks Petani di Negeri Agraris

Lampung Post 18 november 2013 a

Doc: epaper LampungPost 18 November 2013

Sebuah Pameo “Negara Agraris, ingkari Agraria”, mungkin menjadi hal yang tepat untuk menggambarkan tentang problematika yang menghimpit para petani di penjuru wilayah Indonesia sekarang ini. Itu dapat terlihat salah satunya melalui data dari BPS pada 2012 yang melaporkan bahwa jumlah petani terus berkurang 3,1 juta/tahun (7,24% populasi) dan 100.000 hektar lahan pangan dikonversi setiap tahunnya (Kompas, 12/06/2012).

Atau berdasarkan hasil sensus pertanian yang dilakukan pada 2013 ini. Yang menunjukan terjadinya penurunan yang cukup tajam dari prosentase rumah tangga usaha pertanian (RTP) di Indonesia. Dimana terjadi penurunan jumlah RTP mencapai 16,18% dibandingkan sensus pertanian pada 2003 yang lalu. Atau dari 31,17 juta jumlah RTP pada sensus pertanian pada tahun 2003, kemudian berkurang menjadi 26,126 juta RTP pada sensus pertanian 2013 ini.

Sedangkan disisi yang lain terjadi peningkatan yang cukup tajam dari presentase perusahaan pertanian berbadan hukum, yang mengalami peningkatan mencapai 36,77% bila dibandingkan dengan sensus pertanian pada tahun 2003. Atau dari 4.011 pada sensus pertanian di tahun 2003 menjadi 6.174 perusahaan didalam sensus pertanian 2013 ini.

Hasil prosentase tersebut memperlihatkan, bagaimana kebijakan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah tidak sedikitpun memihak para petani kecil dan cenderung memfasilitasi perusahaan-perusahaan yang bergelut dalam bidang pertanian. Padahal RTP merupakan tulang punggung utama pertanian, artinya mereka merupakan keluarga yang menyanggakan hidupnya dalam pertanian. Sehingga seharusnya pemerintah harus pro terhadap RTP ini, karena menyangkut kehidupan rakyat Indonesia secara banyak dibanding perusahaan-perusahaan yang berdiri sendiri.

Akibatnya seperti yang terlihat dati data BPS tentang kemiskinan pada maret 2007 menunjukan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 37,17 juta jiwa atau 16,58 persen dari total populasi Indonesia. Dan sekitar 66 persennya berada di pedesaan serta 56 persen di antaranya menggantungkan hidup pada pertanian

Terus berkurangnya jumlah rakyat Indonesia di dalam menekuni pertanian ini bukanlah masalah kecil yang remeh-temeh, akan tetapi sangat berbahaya jika hanya dipandang sebelah mata. Karena efek dominonya berupa terciptanya berbagai konflik sosial sudah siap menghadang di depan sana.

Penyingkiran Petani

Dalam karyanya “Power of Exclusion: Land Dilemmas of south asia”, Hall, Hirsch & Li (2011) menemukan kecendrungan bahwa pemerintah adalah salah satu aktor utama didalam terciptanya deagrarianisasi. Pola kesenjangan distribusi tanah yang besar, telah mengorbankan sebagian besar para petani, terutama para petani gurem (kepemilikan tanah <0,5 H). Artinya dengan luas tanah kurang dari ½ Hektar, sudah pasti para petani(dengan keluarganya) tersebut tidak akan mampu mentransformasikan kehidupannya. Dan akan terus mengalami himpitan dan tekanan dari pola relasi pasar.

Padahal tanah (atau lebih luasnya; alam) menurut Karl Polanyi (1944) sesungguhnya bukanlah komoditi atau barang dagangan, dan tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai komoditi. Karena jika tanah diperlakukan sepenuhnya sebagai komoditi, maka akan bertentangan dengan hakekat dari tanah itu sendiri. Memasukkan tanah (dan juga tenaga kerja) dalam mekanisme pasar adalah merendahkan hakekat masyarakat, dan dengan demikian menyerahkan begitu saja pengaturan kehidupan masyarakat pada mekanisme pasar.

Proses penyingkiran petani terhadap dunia pertanian (akses kepemilikan tanah) itu dipengaruhi oleh empat kekuatan, yaitu peraturan (regulation) yang berkaitan dengan hukum dan peraturan negara, pasar (market) yang lebih ke praktek jual-beli, legitimasi (legitimation) atau justifikasi terhadap penyingkiran, dan paksaan (force) dilakukan oleh Negara atau diluar negara (Hall, Hirsch & Li, 2011: 5-8).

Diktator Mekanisme Pasar

            Proses penyingkiran petani yang dilakukan melalui mekanisme pasar adalah bagian akhir dari proses penyingkiran melalui keadaan struktural yang menghimpit kehidupan dari para petani. Dengan mekanisme pasar ini para petani dihadapkan pada ketimpangan kekuatan untuk dapat bersaing di dalam gelanggang pasar, yang pada akhirnya memaksa para petani kecil untuk kalah.

Akibatnya seperti apa yang dapat ditunjukan berdasarkan hasil polling yang dilakukan oleh redaksi lampung post yang diterbitkan pada 12 November 2013. Bagaimana petani Sukau di Lampung Barat harus diombang-ambing dalam arena pasar, sedangkan pemerintah hanya pembiarkan penderitaan para petani tersebut. Hingga akhirnya para petani membiarkan tanaman sayurannya membusuk, karena harganya yang sangat rendah seperti tomat dan wortel yang dihargai hanya Rp 500 dan Rp 700 per kilogram. Itu terjadi karena banyak masuknya hasil pertanian dari luar Lampung ke daerah Lampung tersebut  (Lampung Post, 12/11/2013).

Disinilah kekuatan mekanisme pasar telah menjadi Diktator dan hukum rimba pun berlaku. Dan para petani-petani kecil pasti akan menjadi pihak korban yang selalu dirugikan. Pemerintah yang seharusnya mampu melindungi rakyatnya, malahan hanya menjadi penonton atau Anjing penjaga Malam.

Sehingga peran strategis pemerintah sangat diperlukan disini, untuk dapat menjaga dan melindungi ekonomi dari masyarakat kecil dari gempuran relasi pasar yang timpang. Kebijakan reformasi agraria dapat menjadi solusi tepat untuk dapat menggerus tekanan struktural yang menekan petani. Untuk kemudian merumuskan kebijakan-kebijakan proteksi untuk melindungi para petani dari diktator mekanisme pasar yang menindas.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Opini koran Lampung Post, pada 18 November 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: