Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Perbudakan Yang Salah Jaman: Hilangnya Etika dan Moral Yuki Irawan Dalam Kapitalisme Kontenporer

Abstrak

Kasus perbudakan yang dilakukan oleh Yuki Irawan (pengusaha) terhadap para buruhnya telah menciptakan keprihatinan yang besar akan ketiadaan etika dan moral kemanusiaan didalamnya. Apalagi di era kontenporer sekarang ini, dimana sistem kapitalisme telah mengalami perkembangan yang pesat yang kemudian tidak lagi selaras dengan model perbudakan kuno ini. Karena model perbudakan kuno ini akan menghambat relasi yang fleksibel terhadap tenaga kerja dan tuntutan akan ratifikasi HAM yang telah menjadi acuan dalam sistem kapitalisme ini sendiri. Sehingga pada tulisan ini penulis berusaha mengelaborasi tentang etika dan moral apa yang telah dilanggar oleh Yuki Irawan terhadap para buruhnya? Dan apa yang menyebabkan model perbudakan ini muncul dibawah sistem Kapitalisme kontenporer sekarang ini?

Keyword: Perbudakan, hilangnya etika dan moral, kapitalisme kontenporer.

 

Pendahuluan

            Peristiwa penginjak-injakan nilai-nilai kemanusian yang tak lagi memiliki kadar kemanusiaan kembali terulang di Indonesia ini, kini terjadi di perusahaan CV Sinar Logam milik Yuki Irawan di Desa Lebak Wangi, Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang (Tempo, 09/05/2013). Para buruh yang bekerja di perusahaan milik Yuki ini harus mengalami tekanan dan penyiksaan didalam hubungan relasi kerja. Pil pahit harus ditelan para buruh tersebut, karena selama bekerja hak-hak mereka sama sekali tidak dipenuhi dan peristiwa ini tak ubahnya seperti model perbudakan kuno pada ratusan tahun silam.

Yuki irawan tak berjalan sendiri didalam melakukan aksi yang kejam di perusahaannya ini, dia mendapatkan beekingan dari para oknum aparat keamanan, pemerintahan desa dan juga para preman (mandor) yang dibayarnya (Kompas, 05/05/2013). Melalui orang-orang dibelakangnya itulah kebiadaban yang dilakukan Yuki Irawan ini tak terbongkar hingga beberapa tahun. Hingga akhirnya kekejaman tersebut terbongkar setelah pada April 2013 setelah dua orang buruh dari perusahaan Yuki tersebut kabur dan kemudian melaporkan peristiwa yang dialaminya kepada kepolisian untuk kemudian mengusut kasus ini kemeja hukum.

Tindakan dari Yuki ini telah membuatnya harus menghadap ke meja hijau. Dengan empat tuduhan berat yang harus dihadapkan kepadanya (Kompas, 08/05/2013). Yaitu  pertama, tidak adanya Tanda Daftar Industri (TDI) atau Ijin Usaha Industri (IUI). Hal ini bertentangan dengan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Kedua, fakta terdapat empat buruh berstatus anak dengan umur di bawah 17 tahun. Dengan ini, tersangka dikenakan Pasal 88 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ketiga, fakta bahwa para buruh ini telah direkrut dengan penipuan dan setelah direkrut, mereka dipekerjakan dengan ancaman kekerasan dan kekerasan fisik untuk dieksploitasi secara ekonomi. Yang kemudian dikenakan pasal pidana tentang tindak perdagangan orang, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007. Dan terakhir,  terkait dengan fakta bahwa barang-barang milik para buruh seperti HP, dompet, uang, dan pakaian dilucuti dan dikuasai oleh tersangka, serta adanya fakta bahwa gaji para buruh tidak semuanya diberikan oleh Yuki kepada para buruhnya, kepolisian mempersangkakan dengan Pasal 372 KUHP tentang Tindak Pidana Penggelapan. Dan juga Pasal 333 KUHP tentang Perampasan Kemerdekaan dan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan.

Peristiwa yang dilakukan Yuki ini memperlihatkan bagaimana hilangnya etika dan moral didalam relasi kerja, telah menciptakan tindakan yang tak memiliki kadar kemanusiaan, seperti penindasan, penganiayaan dan pelanggaran hukum. Selain itu Yuki juga telah melanggar berbagai etika didalam tindakan brutalnya tersebut, yaitu etika hukum, etika bisnis, etika HAM dan etika hubungan kerja.

Kehampaan Etika dan Moral

Menurut Prof. Judistira K. Garna, dan Wahyudi Kumorotomo (Etika Administrasi Negara, 1994 : 9) arti dari moral dan etika itu adalah bahwa Moral menyatakan  tindakan  / perbuatan  lahiriah  seseorang, atau daya dorong internal untuk mengarah kepada perbuatan baik dan menghindari perbuatan  buruk.  Sedangkan  Etika  tidak  hanya  menyangkut  tindakan lahiriah, tetapi juga nilai mengapa dia bertindak demikian. Etika tumbuh dari  pengetahuan  seseorang  yang  diberi makna  kesepakatan  sosial,  dan dijadikan acuan / tolok ukur moralitas masyarakat.

            Sehingga ketiadaan etika yang telah dilakukan oleh Yuki Irawan tersebut terjadi, dapat dipahami sebagai akibat adanya celah dari kesepakatan sosial yang telah ada untuk diterobos dan adanya keadaan ekonomi-politik yang membuatnya berfikir untuk menerobos etika dan moral yang telah ada itu sendiri. Artinya bahwa sebagaimana diungkapkan oleh Aristoteles, bahwa setiap manusia itu memiliki 3 komponen utama, yaitu nafsu, akal dan gairah (Runciman, 2013). Dan ketika ada nafsu yang kuat dari Yuki untuk dapat melipatgandakan capital dengan cepat melalui perbudakan yang tak dibarengi dengan kemampuan akal dan nalar didalam membedakan mana etika yang baik dan tidak, maka peristiwa perbudakan itulah yang terjadi. Dan peristiwa perbudakan ini juga dapat dipahami sebagai akibat dari tekanan didalam kompetisi hukum rimba yang ada dalam sistem kapitalisme (Novianto, 14/05/2013). Yang kemudian telah menciptakan sifat-sifat kebinatangan dari manusia. Tetapi bahasan tentang masalah tersebut akan dipaparkan pada bab selanjutnya. Dan pada bab ini penulis berusaha berfokus tentang etika apa saja yang telah dilanggar oleh Yuki Irawan ini. Walaupun sebenarnya penulis tidak begitu setuju melihat peristiwa ini disebabkan oleh masalah etika, karena itu tak akan dapat mengurai akar permasalahan. Penulis cenderung melihat peristiwa ini sebagai akibat dari tekanan struktural, tetapi karena pada tugas Mata Kuliah ini disuruh lebih menekankan pada masalah etika, maka penulis berusaha memaparkan kehampaan etika dan moral dari kapitalisme itu sendiri.

Hilangnya Etika Hukum

Peristiwa yang dilakukan oleh Yuki Irawan terhadap para buruhnya ini dengan jelas telah melanggar etika Hukum, yang terutama adalah etika didalam hukum perburuhan. Yang menurut Senjun H. Manulang, sebagaimana dikutif oleh Hari Supriyanto[1], tujuan hukum perburuhan ini sendiri adalah Pertama, untuk mencapai atau melaksanakan keadilan sosial dalam bidang ketenagakerjaan dan kedua, untuk melindungi tenaga kerja terhadap kekuasaan yang tak terbatas dari pengusaha, misalnya dengan membuat perjanjian atau menciptakan peraturan-peraturan yang bersifat memaksa agar pengusaha tidak bertindak sewenang-wenang terhadap tenaga kerja sebagai pihak yang lemah.

Dan penjalanan terhadap etika hukum perburuan tersebut tidak pernah dijalankan oleh Yuki. Sedangkan yang dilakukan oleh Yuki justru sebaliknya, yaitu tidak melindungi keadilan sosial buruh akan tetapi malahan melakukan penghisapan terhadap buruh tersebut. Itu terjadi karena hukum-hukum atau Undang-undang yang ada di Indonesia yang mengatur tentang relasi hubungan kerja telah banyak dilanggar oleh Yuki Irawan.

Sehingga tidak mengherankan ketika Yuki harus diganjar dengan pasal berlapis, yaitu meliputi pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, Pasal 88 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang tindak perdagangan orang, Pasal 372 KUHP tentang Tindak Pidana Penggelapan, Pasal 333 KUHP tentang Perampasan Kemerdekaan dan Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan,

Artinya etika didalam melaksanakan hukum yang telah berlaku ini sangat penting, yaitu didalam perannya melindungi kesamaan hak manusia dibawah hukum serta agar tidak terjadi bentuk-bentuk pelanggaran nilai kemanusiaan sebgaimana yang ada didalam peraturan hukum itu sendiri.

Hilangnya Etika Bisnis

Didalam etika bisnis, menurut kumorotomo (dalam slade mata kuliah etika dan akuntabiliatas publik) bahwa hak dari perusahaan terhadap buruh didalam pergulatan dalam bidang bisnis adalah meliputi pemberian gaji dan juga perlindungan kesehatan dan kenyamanan serta kepuasan kerja. Artinya untuk dapat mencapai hak perusahaan terhadap buruh tersebut perlu adanya hubungan relasi kerja terlebih dahulu. Untuk kemudian menentukan kesepakatan kerja, termasuk penentuan gaji dan fasilitas didalamnya.

Dalam kasus di perusahaan Yuki ini hubungan relasi kerja tersebut tidak pernah ada. Karena buruh direkrut berdasarkan iming-iming gaji yang tinggi, tetapi setelah berada di perusahaan, proses kesepakatan kerja yang sesuai dengan undang-ungang tidak pernah terjadi disana. Yang terjadi malahan adalah proses penekanan dan penyiksaan untuk mengikuti aturan yang otoriter dari Yuki sebagai pemilik perusahaan. Sehingga tidak ada etika yang bergerak dalam proses relasi kerja ini, baik etika bisnis maupun etika hukum. Karena hampir semua peraturan yang dibuat oleh Yuki terhadap para buruhnya seperti yang dijelaskan diatas tidak sesuai dengan aras hukum yang telah berlaku.

Absennya etika bisnis secara langsung telah membuat hilangnya proses bisnis yang melindungi hak-hak para buruh. Artinya didalam proses relasi antara buruh dengan pengusaha ini, pihak yang pasti dirugikan karena ketiadaan etika bisnis didalamnya adalah para buruh. Karena para buruh bekerja berdasarkan tenaga yang mereka miliki sedangkan pemilik alat-alat produksi adalah para pengusaha dan pengusaha juga yang memiliki kepentingan bisnis dibelakangnya dibandingkan dengan buruh. Sehingga ketika pengusaha berusaha mengejar keuntungan besar dengan meninggalkan etika bisnia, maka sekali lagi para buruh lah yang akan dirugikan.

Dirampasnya Etika HAM

Didalam era kontenporer sekarang ini, dimana dominasi kapitalisme liberal telah mendominasi hampir semua sendi-sendi kehidupan masyarakat. Wacana tentang kesetaraan, emansipasi dan Hak Asasi Manusi (HAM) begitu didengung-dengungkan. Karena prinsip dari HAM ini sendiri adalah salah satu gagasan yang ditonjolkan didalam konsep Kapitalisme liberal ini. Dimana setiap individu memiliki hak-hak yang harus dilindungi.

Unsur pokok didalam HAM ini sendiri meliputi, pertama hak hidup, yaitu merupakan perlindungan terhadap nilai-nilai kehidupan seseorang, yaitu agar menghindarkannya dari kekerasan dan penghilangan nyawa orang lain. Kedua, Hak bebas yaitu hak memberikan kebebasan sesorang untuk melakukan perkumpulan, berorganisasi, bicara, berkehendak serta kebebasan politik. Dan yang terakhir, hak milik yaitu hak yang menekankan pada perlindungan kemilikan pribadi dari penyitaan dan perampasan.

Selain itu hak-hak sebagai buruh juga telah diatur didalam konstitusi Indonesia, yang meliputi Pasal 27 ayat 2 bahwa “tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaa”, Pasal 28 A bahwa “setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”, serta Pasal 28 C, 28 D dan 28 H. Selain juga didalam UU 21 tahun 2000 tentang serikat pekerja / serikat buruh dan UU 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Yang intinya memberikan landasan hukum bagi perlindungan hak-hak buruh berdasarkan HAM yang dimilikinya.

Akan tetapi didalam kasus perusahaan CV Sinar Logam yang dikelola oleh Yuki Irawan ini, etika HAM tersebut benar-benar sama sekali tidak dipenuhi. Itu dapat terlihat bagaimana para buruh Yuki Irawan harus bekerja didalam tekanan, siksaan, ketidaknyamanan, kondisi kerja yang buruk dan juga tidak dipenuhinya gaji dari para pekerja tersebut. Artinya etika HAM didalam proses perusahaan Yuki ini tidak terjadi. Sehingga mengorbankan para buruh sebagai pihak yang lemah didalam relasi industri ini.

Keabsenan etika HAM ini telah membuat proses produksi yang terjadi seperti tak ubahnya proses perbudakan kuno. Dimana relasi kerja tidak lagi antara buruh dan pengusaha akan tetapi antara budak dan pemilik budak. Dan Yuki Irawan dalam hal ini adalah pemilik budak sedangkan para buruhnya adalah budak yang bebas diperas segala nilai lebihnya.

Sehingga kemudian penulis pada kesimpulan bahwa keadaan yang dialami Yuki yang membuatnya melakukan ekploitasi dan penghisapan dengan kejam kepada para buruhnya sebagai akibat dari ketiadaan etika dan moral didalam relasi hubungan kerja yang dalam hal ini selalu mengorbankan buruh. Dan ketiadaan etika dan moral dari Yuki tersebut salah satunya dipengaruhi sebagai gejolak tekanan ekonomi-politik dari sistem kompetisi yang ada dalam sistem kapitalisme (Novianto, 14/05/2013)

Kapitalisme dan Peluang Eksplotasi Kerja

Menurut pendapat Karl Marx (1818-1883) tentang Teori Nilai Kerja nya menyatakan “bahwa laba kapitalis didasarkan pada eksploitasi buruh”[2]. Karl Marx menganggap bahwa “nilai tambah” yaitu keuntungan yang bertambah dari nilai upah yang dibayarkan pada para buruh, telah dirampas oleh para pengusaha dan masuk ke kantong-kantong para kapitalis atau pengusaha, karena perbedaan di antara upah yang dibayarkan kepada seorang buruh menghasilkan komoditas, dan di antara harga jual komoditas itulah (nilai) tambahnya-maksudnya keuntungan-yang tidak dinikmati kaum buruh dan hanya dikuasai para pemilik modal yang menurut teori ini hidup bergantung pada kaum buruh.

Marx[3] juga menambahkan bahwa pada dasarnya manusia itu produktif; Produktivitas manusia adalah cara yang sangat alamiah yang digunakan untuk mengekspresikan dorongan kreatif yang diekspresikan secara bersama-sama dengan manusia lain. ‘Kerja adalah, pertama dan utama sekali, suatu proses dimana manusia dan alam sama-sama terlibat, dan dimana manusia dengan persetujuan dirinya sendiri memulai, mengatur, dan mengontrol reaksi-reaksi material antara dirinya dan alam…di akhir proses kerja, kita memperoleh hasil yang sebelumnya sudah ada di dalam imajinasi”[4].

Keberadaan kapitalisme telah merubah hubungan manusia dan kerja tersebut, hingga memunculkan sebuah alienasi (keterasingan) yang dialami oleh para pekerja terhadap kehidupannya. Apa yang digambarkan oleh Marx juga terjadi pada para buruh di perusahaan Yuki tersebut. Bagaimana nilai lebih dari para buruh telah dirampas dan membuat para buruh harus teralienasi dari kehidupannya. Hingga memunculkan sebuah proses perbudakan kuno yang menurut Marx tidak relevan lagi dengan perkembangan kapitalisme.

Berdasarkan karyanya The German of Idiology[5], dengan menggunakan analisa materialism historys, Marx melihat bahwa perkembangan jaman didunia ini berdasarkan analisanya dimulai dari komunisme purba, perbudakan, feodalisme, kapitalisme, sosialisme dan berakhir pada komunisme kembali. Artinya terlihat bahwa era perbudakan telah hilang karena 2 hal yang melatarbelakanginya ketika dihubungkan dengan era Kapitalisme sekarang ini. Pertama, perbudakan telah menghilangkan fleksibelitas tenaga kerja yang dibutuhkan Kapitalisme dan Kedua, mulai mengemukannya konsepsi HAM yang dibawa oleh para penganut liberal dan sosial-demokrat.

Artinya sebagaimana thesis yang pernah diungkapkan oleh marx, bahwa “bukan pikiran yang merubah keadaan, tetapi keadaanlah yang merubah pikiran”. Maka berubahnya dari era perbudakan menjadi kapitalisme tersebut tidak semata-mata merupakan peristiwa yang turun dari langit (ahistory), akan tetapi ada keadaan yang terus memaksa terjadinya perubahan. Sehingga telah menciptakan Kapitalisme seperti sekarang ini.

Akan tetapi tak dapat dipungkiri, bahwa kapitalisme memang tidak dapat terlepas dari proses perbudakan. Tetapi seiring dengan tumbuh berikembangnya Kapitalisme dan kesadaran dari para buruh, proses perbudakan yang terjadi didalam Kapitalisme sekarang mulai dimanusiawikan, salah satunya seperti pada sistem Outsourcing.

Kemudian pertanyaannya adalah mengapa ada proses perbudakan kuno didalam kapitalisme sekarang ini? berdasarkan analisa saya, itu tak terlepas dari gejolak yang tertahankan dari kontradiksi-kontradiksi yang tertimbun didalam sistem Kapitalisme ini di tataran para pemilik modalnya. Diagungkannya hal milik pribadi sebagai pondasi dari sistem kapitalisme yang kemudian diperkokoh dengan dengan logika kompetisi dan pasar bebas, secara langsung telah membuat Sistem Kapitalisme memiliki tendensi mengelaborasi sifat-sifat Individualitas dari setiap manusia. Itulah yang memupuk ego dari setiap individu di dalam menumpuk kapitalnya (hak milik pribadi) di dalam sistem kapitalis ini. Dan titik akhir yang tak akan terlakan didalam relasi sistem kapitalisme ini adalah dimana etika dan moralitas mengalami sebuah kehampaan dan kebuntuan yang tiada akhir seperti yang dialami oleh Yuki Irawan ini.

Artinya saya disini tidak menganggap bahwa etika dan moral itu tidak penting, akan tetapi berusaha mengungkapkan bahwa yang sebenernya lebih penting dari etika ini adalah struktur ekonomi-politik yang mendominasi. Itu karena dengan adanya struktur ekonomi-politik yang mendominasi inilah yang secara langsung dapat menggerakkan etika dari setiap manusia atau mengubah etika dan moral manusia tidak lagi seperti etika dan moralnya yang dulu lagi.

Dan kemudian apa yang membedakan Yuki Irawan dengan para pemilik modal yang lain? Yang membedakannya adalah pertama bahwa tindakan yang dilakukan oleh Yuki terlalu diluar nalar para Pemilik modal yang lain (ekstrem), artinya setiap pemilik modal pasti melakukan penindasan terhadap buruh (dan kadang searah dengan hukum yang berlaku, yang lebih dulu dikontrol para pemilik modal), akan tetapi karena apa yang dilakukan oleh Yuki cukup ekstrem maka membuatnya tidak dapat mengelak dari tuntutan hukum kedua hilangnya etika dan moral yang dialami Yuki akibat dari tertekan sistem kompetisi pasar bebas, yang membuatnya menghalalkan segala cara atau munculnya rasionalisme formal (yang menurut bahasa weber menjadi Irrasional karena munculnya kepragmatisan dan oportunitas setiap manusia di dalam era kapitalisme) akibat tekanan kapitalisme.

Yang  di dalam karya dari Hegel yaitu Phenomenology of The Spirit, Hegel secara terbuka menyebut bahwa masyarakat Modern dimana telah menjadi binatang manusia[6] (human animal) yang terperangkap dalam interaksi egosentris sebagai perwujudan dari ”Kerajaan spiritual para binatang”. Yang kemudian mencapai sebuah titik temu bahwa sifat kebinatangan dari “binatang manusia” yang egosentris (individu yang berpartisipasi dalam jejaring komplek masyarakat) merupakan hasil dari proses panjang sejarah perubahan masyarakat hirarkis abad pertengahan menjadi masyarakat Borjuis yang modern (Zizek, 2012). Dan proses inilah yang dialami oleh Yuki Irawan, yang telah menghancur-leburkan etika dan moral yang dimilikinya demi kepentingan mengakumulasi capital dengan cara-cara yang tak manusiawi sama sekali.

Kesimpulan

Peristiwa perbudakan kuno yang dilakukan oleh Yuki Irawan telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dari setiap manusia sebagai makhluk sosial. Kekejaman yang dilakukan oleh Yuki terhadap para buruhnya tak lain karena hilangnya etika dan moral dari Yuki Irawan tersebut. Yaitu meliputi hialangnya etika hukum, etika bisnis dan etika HAM didalam proses relasi kerja yang dilakukan oleh Yuki dan para buruhnya.

Permasalahan hilangnya etika dan moral ini tak terlepas dari cacad bawaan yang dibawa oleh sistem kapitalisme. Dimana diagung-agungkannya kepemilikan pribadi, pasar bebas dan sistem kompetisi didalamnya telah membuat adanya yang menang dan yang kalah. Dan apa yang dilakukan Yuki ini karena dia tidak mau kalah didalam sistem kompetisi dan ingin dengan cepat mengakumulasi capitalnya karena sifat kebinatangan manusia yang dimilikinya.

Sehingga titik ekstrem yang dialami oleh Yuki membuatnya menghadirkan model perbudakan kuno yang dalam hal ini salah jaman. Karena tidak sesuai dengan tuntutan di era kapitalisme sekarang ini. Artinya perbudakan yang dilakukan oleh Yuki tak terlepas karena adanya kontradiksi dari sistem kapitalisme pada titik ekstrem (yang dialami Yuki) dan membuatnya kehilangan etika dan moral pada dirinya.

Daftar Pustaka

–          George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembaangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern, Penerjemah: Nurhadi, Cetakan Kedua, 2009, ) Baqir Sharief Qorashi, Keringat Buruh, Hak dan Peran Pekerja Dalam Islam, Penerjemah: Ali Yahya, Penerbit Al-Huda, 2007.

–          Kompas Online. 05 Mei 2013. Bos Perbudakan Buruh Dekat Dengan Polisi dan Preman. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/05/1103102/Bos.Perbudak.Buruh.Dekat.dengan.Polisi.dan.Preman diakses pada 20 Juni 2013.

–          Kompas Online. 08 Mei 2013. Empat Dosa Baru Bos Kuali Terungkap. http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/05/1103102/Bos.Perbudak.Buruh.Dekat.dengan.Polisi.dan.Preman diakses pada 20 Juni 2013.

–          Kumorotomo, Wahyudi. 1992. Etika Administrasi Negara. Jakarta: CV Rajawali

–          Novianto, arif. 14 mei 2013. Hancurnya Etika dan Moral Kapitalisme. Okezone[dot]com. http://suar.okezone.com/read/2013/05/14/58/806526/hancurnya-etika-dan-moral-kapitalisme. Diakses pada 19 Juni 2013.

–          Marx, karl. -. The German of Idiology. Diperoleh dari Marxist.com, diakses pada 19 Juni 2013.

–          Runciman, david. 2012. Politik Muka Dua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

–          Sorge Magazine. Edisi September 2012. Selamat Datang di “Kerajaan Spiritual Para Binatang” Slavoj Zizek Mengenai Kehampaan Moral Kapitalisme.

–          Supriyanto, hari. 2004. Perubahan Hukum Privat ke Hukum Publik, Studi Hukum Perburuhan di Indonesia. Penerbit: Universitas Atma Jaya Yogyakarta

–          Tempo Online. 09 Mei2013. Bos Perbudakan Buruh Panci, Yuki Irawan Buka Suara. http://www.tempo.co/read/news/2013/05/09/064479068/Bos-Perbudakan-Buruh-Panci-Yuki-Irawan-Buka-Suara diakses tanggal 21 Juni 2013.


[1] Hari Supriyanto, 2004, Perubahan Hukum Privat ke Hukum Publik, Studi Hukum Perburuhan di Indonesia, Penerbit: Universitas Atma Jaya Yogyakarta

[2] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembaangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern, Penerjemah: Nurhadi, Cetakan Kedua, 2009, ) Baqir Sharief Qorashi, Keringat Buruh, Hak dan Peran Pekerja Dalam Islam, Penerjemah: Ali Yahya, Penerbit Al-Huda, 2007, Hal. 71.

[3] George Ritzer dan Douglas, Op. Cit. Hal.25

[4] Ibid, Hal: 52.

[5] Marx, karl. -. The German of Idiology. Diperoleh dari Marxist.com, diakses pada 19 Juni 2013.

[6] Istilah ini digunakan untuk menunjukan kadar kebinatangan dari setiap manusia. Atinya manusia memiliki sifat-sifat alamiah seperti binatang, baik: nafsu, hasrat dan egonya.

 

*Papers ini merupakan tugas akhir pada mata kuliah Etika dan Akuntabilitas Publik

Yang ditulis pada 25 Juni 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: