Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Masa Depan Pemuda di Pertanian

Lampung Post 06 Desember 2013

Doc: epaper LampungPost 06 Desember 2013

“Petani terlonta-lonta di negeri lumbung padi”, mungkin ungkapan tersebut sesuai dengan keadaan yang dialami para petani Indonesia sekarang ini. Data pada survey pertanian (SP) di tahun 1993 memperlihatkan jumlah petani gurem ada 10,9 juta keluarga, sedangkan pada SP 2003 angka itu naik menjadi 13,7 juta keluarga, bertambah 3,8 juta keluarga dalam 10 tahun. Di Pulau Jawa, dari setiap empat petani, tiga adalah petani gurem (Kompas, 16/05/2013). Meningkatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tersebut menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan di desa.

Peningkatan jumlah petani gurem tersebut pasti akan melonjak tajam pada SP 2013 ini. Data sementara SP 2013 menunjukan bahwa dari 31,17 juta rumah tangga pertanian pada SP 2003, menagalami penurunan menjadi hanya 26,13 juta rumah tangga pada SP 2013, atau selama 10 tahun Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani.

Ketiadaan regenerasi di lingkaran pertanian merupakan penyebab utama berkurangnya jumlah petani ini. Artinya keengganan para pemuda untuk menekuni dunia pertanian, merupakan salah satu hal yang melandasi berkurangnya jumlah petani ini.

Pengeksklusian Pemuda

Permasalahan agraria berupa semakin berkurangnya minat pemuda menekuni pertanian, bukan semata-mata dilatarbelakangi oleh kurangnya minat, motivasi, dan keinginan dari para pemuda tersebut (pendekatan moralis). Apabila kita melihat permasalahan agraria hanya sebatas dengan kacamata moralis, maka yang terjadi adalah pengkaburan inti dari pemasalahan ini dan tidak dapat menjangkau pengaruh struktural dari sebuah sistem dan para aktor politik yang turut andil mempengaruhinya. Apalagi untuk dapat mencari solusi yang terbaik didalam menyelesaikan masalah ini. Sehingga pandangan moralis ini sangat berbahaya dan memiliki peluang semakin merusak.

Kita dapat melihat permasalahan agraria ini secara lebih mendalam salah satunya dengan menggunakan pendekatan strukturalis. Artinya terus berkurangnya minat para pemuda menekuni pertanian ini sangat dipengaruhi oleh adanya sebuah struktur ekonomi-politik serta sistem yang menghimpitnya dan kemudian memaksa mengeksklusinya (menyingkirkannya) dari kehidupan pertanian.

            Bila dipetakan, ketidak tertarikan utama para pemuda menggeluti dunia pertanian ini dipengaruhi oleh dua hal utama: Pertama, kebijakan pemerintah yang tidak pro-pertanian dan pembangunan desa. Arah kebijakan yang diambil pemerintah sejak masa orde baru hingga sekarang ini memang cenderung bias kota (Wiradi, 2009). Berbagai problem struktural pun terjadi dan menyebabkan hilangnya akses masyarakat terhadap hak-hak dasar mereka.

Data kemiskinan dari BPS pada maret 2013 menunjukan bahwa jumlah orang miskin di Indonesia mencapai 28,07 juta jiwa atau 11,37 persen dari total populasi Indonesia. Dan 17,74 juta jiwa berada di pedesaan sedangkan 10,33 juta jiwa yang berada di perkotaan. Gambaran tersebut memperlihatkan ketidakberpihakan pemerintah pada pembangunan desa dan pertanian, yang juga telah turut memaksa para pemuda menjauhi dunia pertanian. Karena pertanian dianggap sebagai perkerjaan yang tidak layak untuk dapat bertahan hidup.

Dan kedua, semakin menipisnya akses tanah untuk pertanian. Tanah bagi para petani adalah nyawa penghidupannya. Artinya semakin kecil kepemilikan tanah (kurang dari ½ hektar) maka semakin rentan kehidupan petani (petani gurem). Proses yang membuat menipisnya kepemilikan tanah keluarga ini depengaruhi oleh budaya patriarkis atau gontokrasi dan sistem pasar.

Pengimplementasian Reforma Agraria

Proses-proses pengeksklusian pemuda didalam pertanian tersebut telah membuat masa depan pemuda untuk menggeluti dunia pertanian sangat begitu suram. Salah satu cara untuk dapat membuat para pemuda kembali mau menekuni dunia pertanian adalah dengan cara merombak struktur dan sitem yang selama ini telah memaksa menyingkirkan para pemuda. Yaitu salah satunya melalui reforma agraria.

Hakikat makna dari reforma agraria adalah penataan kembali (pembaharuan) struktur pemilikan, penguasaan dan penggunaan tanah/wilayah, demi kepentingan petani kecil, pencakap dan buruh tani tak bertanah, dengan prinsipnya “tanah untuk penggarap” (Wiradi, 2009: 94). Dasar dilaksanakannya reforma agraria adalah UUPA yang disahkan pada 1960. Sehingga pemerintah tinggal mengimplementasikannya.

Dengan reforma agraria inilah sebuah keadilan akan terjadi. Struktur agraria yang relatif merata akan dirasakan lebih adil, sehingga keresahan dan kemungkinan konflik dapat dihindarkan. Dengan demikian frame berfikir dari masyarakat bahwa pertanian merupakan pekerjaan yang tidak layak akan dapat berubah menjadi frame berfikir bahwa pertanian adalah penghidupan yang dapat mentransformasikan kehidupan mereka. Alhasil dengan cara itulah para pemuda akan kembali berminat menekuni pertanian. Dan masa depan pertanian Indonesia pun akan sangat cerah.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Opini koran Lampung Post, pada 06 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: