Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Balada Dewi Shinta

Rangkaian kata ini ditulis, setelah menyaksikan pertunjukan Wayang Kulit dari Ki Joko Edan, dengan lakon “Rhama, Lesmana, lan Shinta Suwargo”

Dhewi sinta rhama wijaya rahwana

Doc: The Old Manuscript

Dihutan belantara

Daun dadap mengendap

Melirih bisu dilengkung pelangi

Yang terpancar membeku

Dibola matamu

 

Ranjang dilapisi anyaman pandan

Menggigil memelukmu

Yang berkelindan nestapa

Dalam celoteh burung hantu

 

Angin barat mengusap wajahmu

Melodi dedaunan berjatuhan

Mengiringi jiwamu yang mengembara

Ditengah altar kekecewaan yang mengerangkeng hatimu

 

Malam seolah mencengkeram

Binatang buas kapan saja siap menerkam

Dibalik sinar perlik rembulan

Kau seolah menjelma abu Phonix

Yang mencoba bangkit melawan

 

Shinta, bunga mawar tak selamanya menebar syahdu

Perut buncitmu telah memukul genderang cemburu

Rhama terkerangkeng di tabir kehamilanmu

Aungannya menuduhkan Rahwana yang telah menebar benih itu

Ohh.. Dewi Shinta

Lihatlah, mata sang Rhama Wijaya kini memerah senja

Suaranya tak lagi sehalus sutra

Lidahnya menorehkan belati

Dan engkau dipaksa keluar dari Negeri Pancawati

 

Shinta, kini hutan belantara menjadi peraduanmu

Dewa dewi menangis menyaksikan penderitaanmu

Bala hewan hutan serentak kalang kabut digertak rengekan jabang bayi

Sang pertiwi, dengan lembut menggendong bayi kembar

Yang tlah 9 bulan menyatu dalam tubuhmu, Shinta

Nama Kusa dan Lawa kau sematkan kepada mereka

Begawan Wamiki dengan tulus membesarkannya

Di padepokan bumiloso diseberang rawa

 

Ohh Shinta.. betapa beningnya cintamu kepada Rhama

Kini tertimbun lumpur keegoisan titisan Wisnu

Bunga melati yang pernah engkau semai

Direlung hari Rhama, dengan segala ketulusanmu

Kini dipenuhi benalu

 

Kepahitan kini telah menamparmu

Dari kebutaan cinta yang selama ini membekapmu, Shinta

Rahwana sang raksasa ngalengka yang tak punya hati

Engkau tundukan bagai kelinci

Nafsu amarah, serakah dan birahi sang raja Alengka

Engkau kerangkeng atas nama “cinta sejati”

 

Sedangkan Rhama,

Yang engkau percayai ketulusannya selama ini

Tak ubahnya Rahwana yang dilahirkan, tapi tanpa keberadaanmu Shinta

 

Saat purnama merelakan dirinya termakan kehendak alam

Gerhana tak ubahnya figura pengorbanan

Rahwana merelakan harta, Negara bahkan nyawanya musnah

Diluluh lantakan oleh perang

Dan engkau Shinta, adalah simbol pengorbanannya yang tak pernah padam

 

Kini bunga mawar telah layu

Lembu andini menjadi saksi bisu

Kusya & Lawa menemukan bagian hidup yang membisu

Rhama wijaya itulah ayah mereka

Dan penyesalan sang Rhama menetes di daun talas

Engkau Shinta, dengan ketetapan hatimu

Bepeluk bersama sang Pertiwi

Menolak segala cucuran kata mambu sang Rhama

Untuk menggapai kesejatian hidup dari dunia anarki ini

 

Oleh: Arif Novianto

15 Desember 2013

Di Sleman – Yogyakarta

Advertisements

One response to “Balada Dewi Shinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: