Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Korupsi Tak Mengenal Gender

Batam Post 09 Januari 2014

Doc: Epaper Batam Pos 09 Januari 2014

Akhir-akhir ini publik digemparkan dengan terseretnya Ratu Atut Chosiyah didalam jeratan kasus korupsi. Kekuatan dinasti politik di Banten kini pun mulai terguncang, setelah salah satu trah dinasti Tb Chasan Sochib yaitu Ratu Atut yang merupakan Gubernur Banten saat ini ditetapkan KPK sebagai tersangka.

Didalam relasi kekuasaan perilaku koruptif memang tak pernah memandang gender, apakah itu laki-laki ataupun perempuan. Apa yang telah dilakukan oleh Angelina Sondakh, Miranda Gultom, Melinda Dee, Nunun Nurbaiti, Mindo Rosalinda, Chairun Nisa, Wa Ode Nurhayati dan yang baru-baru ini Ratu Atut Chosiyah, memperlihatkan bahwa perempuan juga tak dapat mengelak dari lingkaran perilaku korupsi, ketika mereka berada dalam lingkaran kekuasaan.

Ungkapan yang terkenal dari Lord Action “power tends to corrupt and absolute power corrupts absoluty”, menyiratkan bahwa selama ada kekuasaan maka kecenderungan terjadinya korupsi itu mungkin. Dan ketika kekuasaan itu mutlak maka kecenderungan terjadinya tindakan korupsi menjadi sangat besar serta tak pernah peduli apakah itu laki-laki atau pun perempuan.

Budaya Patriarki dan Perempuan

Menancapnya budaya patriarki seperti sekarang ini, tak dapat dipungkiri merupakan andil dari proses relasi produksi dari Kapitalisme yang telah mendiskreditkan perempuan. Akibatnya dapat kita lihat sampai sekarang ini, bagaimana perempuan masih tetap dijadikan objek eksploitasi, baik pemberian upah tak layak, KDRT, kekerasan kerja, ataupun pelecehan seksual. Alhasil melalui proses yang bersifat patriarki ini, membuat kedudukan perempuan menjadi lemah dan cenderung tersingkir didalam arena kekuasaan dan kedudukan-kedudukan penting didalam masyarakat.

Maka keadaan relasi yang timpang tersebut, membuat agenda emansipasi wanita menjadi imanen diperjuangkan melalui aksi-aksi gerakan sosial. Kebijakan batas minimal angka partisipasi perempuan didalam ikut mengarungi ajang kontestasi politik yaitu sebesar 30 persen, merupakan sebuah transformasi agar perempuan dapat turut masuk didalam relasi kekuasaan dan juga turut memperjuangkan hak-hak mereka sendiri.

Artinya didalam hegemoni dari Kapitalisme yang telah menciptakan budaya patriarki sekarang ini, telah membuat posisi perempuan menjadi dibawah bayang-bayang dominasi laki-laki. Hal tersebutlah yang membuat kerentanan terjadinya penindasan dan penghisapan.

Akan tetapi ketika perempuan tersebut sudah masuk didalam struktur kekuasaan, maka situasinya akan berubah. Mereka tidak lagi dihadapkan dengan dominasi laki-laki yang bersifat patriarki. Kemampuan intelektual serta kesadarannya telah membuat kecenderungan terjadinya sebuah diskursus emansipasi disana.

Arus struktur yang telah menancap sebelumnya adalah musuh berat yang harus dihadapi para perempuan ini. Apalagi ketika struktur yang terbentuk tersebut bersifat menafikan mereka. Disaat itulah menurut Gramcy proses Revolusi Pasif berjalan, yang dimana kartel politik yang sudah menciptakan oligarki berusaha menghegemoni setiap orang yang telah masuk didalam relasi kekuasaan agar selaras dengan arus struktur yang telah ada.

Maka disanalah idealisme mereka dipertaruhkan, ketika dukungan dan dorongan kekuatan dari basis masa rakyat sangat lemah, maka kecenderungannya mereka akan terseret didalam arus yang bersifat strukturalis tersebut. Artinya didalam relasi kekuasaan tidak terlalu memandang perbedaan gender.

Melawan Korupsi

Melihat kenyataan yang demikian, membuat perjuangan untuk dapat melawan perilaku koruptif ini juga harus lintas gender atau tidak memandang gender. Pandangan yang menganggap bahwa ketika perempuan terjerat didalam tindakan korupsi hanya semata-mata karena adanya tekanan dari laki-laki akibat dari budaya patriarki, merupakan pandangan yang tak akan pernah menyelesaikan akar permasalahan serta mengkaburkan inti permasalahan utama korupsi dan cenderung a-historis.

Artinya tindakan korupsi ini bukan semata-mata masalah personal atau masalah moral, akan tetapi adalah masalah yang lebih bersifat struktural. Idealisme semua orang mungkin tidak akan pernah ingin melakukan korupsi, akan tetapi karena adanya tekanan strukturallah yang membuat akhirnya orang tersebut menanggalkan idealismenya tersebut dan akhirnya terjerat didalam arus korupsi.

Perjuangan untuk dapat melawan korupsi ini tidak akan dapat berhasil ketika hanya menggunakan solusi-solusi yang bersifat administratif, moralis ataupun kultural. Itu karena solusi-solusi tersebut gagal didalam melihat inti permasalahan korupsi, dan hanya menyentuh kulit permukaan korupsi saja.

Maka gerakan perjuangan lintas gender untuk dapat menggulingkan struktur kekuasaan yang telah membentuk kartel dan kemudian menciptakan struktur baru yang dimana berbasiskan keadilan, kesetaraan dan kesejahtraan merupakan sebuah langkah strategis. Dan untuk mewujudkan struktur baru yang egaliter tersebut, juga harus menggulingkan Kapitalisme. Kapitalisme itulah yang telah menancapkan budaya patriarki seperti sekarang ini dan merupakan sarang tumbuh suburnya perilaku koruptif.

Itu karena demokrasi yang berasaskan kesetaraan tak akan pernah sejalan dengan Kapitalisme yang berasaskan kepemilikan pribadi dan pasar-liberal. Maka ketika keduanya berjalan beriringan, yang terjadi adalah terciptanya struktur yang dijadikan bagian dari logika akumulasi kapital untuk kepentingan kepemilikan pribadi. Disanalah maka benih-benih perilaku korupsi terjadi.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Opini koran Batam Post, pada 09 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: