Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Mengawal Dinamika Otonomi Desa

Harian Haluan Padang 02 Januari 2014 a

Doc: Epaper Harian Haluan Padang 02 Januari 2014

Geliat dinamika demokrasi di Indonesia paska-reformasi sampai saat ini, masih belum beranjak dari segala carut-marutnya. Lahirnya kebijakan desentralisasi kekuasaan yang termanifestasikan dalam bentuk otonomi daerah yang diatur dalam Undang-undang no.32 tahun 2004, tak dapat dipungkiri adalah buah dianggap gagalnya sistem pemerintahan terpusat (sentralisasi) yang dijalankan oleh Soeharto pada masa Orde Baru.

Pondasi sentralisasi kekuasaan yang digerakan oleh Orba tersebut telah menciptakan kekuatan pusat dan kekuatan pinggiran (daerah-daerah). Hubungan antara pusat dan pinggiran pun menjadi sangat timpang, sehingga membuat kue-kue pembangunan hanya dinikmati oleh elit-elit di pusat, sedangkan daerah pinggiran hanya menerima ceceran-cecerannya saja. Kenyataan tersebutlah yang melatarbelakangi munculnya tuntutan otonomi daerah, karena sistem sentralisasi yang dijalankan Soeharto cenderung bersifat koruptif dan hanya membentuk oligarki politik.

Saat ini setelah hampir satu dasawarsa lebih kebijakan otonomi daerah berjalan, sebuah proses pengulangan sejarah kembali terjadi. Kini yang menjadi aktor utamanya adalah bagian terendah didalam level pemerintahan, yaitu desa. Paradoks pembangunan yang terjadi didalam implementasi kebiajakan otonomi daerah selama ini yang tidak pernah menyentuh masyarakat-masyarakat desa, melatarbelakangi tuntutan otonomi desa yang digerakan oleh para elit-elit desa bersama para akademisi, praktisi dan politisi.

Masa Depan Otonomi Desa

Disahkannya RUU Desa pada 18 Desember 2013 merupakan tonggak awal dilaksakannya otonomi desa ini. Pasal yang cukup krusial yang banyak mendapatkan sorotan dari berbagai kalangan adalah tentang diberikannya 10 persen APBN bagi pemerintahan desa. Dengan 10 persen APBN tersebut, maka diperkirakan dari sekitar 72.000 desa yang ada, maka setiap desa setiap tahunnya akan mendapatkan kucuran 600 juta – 750an juta rupiah. Hal tersebut membuat pendapatan desa menjadi sangat besar, sehingga dengan dana besar tersebutlah yang dikhawatirkan akan menciptakan lumbung-lumbung baru korupsi di tingkat terendah dari pemerintahan tersebut.

Dikonomi antara otonomi daerah dan otonomi desa ini tidak terlalu besar, keduanya masih terpaku dan tak dapat mengelak dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat (strukturalis). Kecenderungan itulah yang membuat otonomi desa ini (sebagaimana yang juga dialami dalam pelaksanaan otonomi daerah) pasti akan terjebak didalam jeratan neoliberalisme yang diagung-agungkan oleh pemerintah pusat.

Hegemoni dari super-struktur yang telah terbentuk tersebut pasti akan sulit dibendung oleh kekuatan didalam wilayah desa ini. Maka tedensi terjadinya proses transfer oligarki dari pusat ke daerah kemudian ke desa lewat kebijakan otonomi desa ini sangat besar untuk terjadi. Didalam oligarki tersebutlah kecenderungan maraknya perilaku koruptif tidak dapat dihindarkan. Akibatnya porsi-porsi anggaran desa yang begitu besar hanya akan dinikmati oleh para elit-elit desa dan para borjuasi desa semata. Kenyataan tersebut sekali lagi seperti simultansi yang terjadi didalam proses otonomi daerah.

Gerakan Civil Society

            Melihat bagaimana masa depan otonomi desa yang sangat terancam didalam jerat neoliberalisme nan kapitalistik tersebut, yang berkecenderungan dikuasainya demokratisasi didesa oleh kalangan elit-elit desa. Maka gerakan civil society (baik di tingkatan desa maupun lokal serta nasional) menjadi suatu hal yang sangat penting didalam konteks ini, yaitu sebagai pengawal berjalannya otonomi desa ini. Karena otonomi desa ini merupakan pencapaian yang besar didalam sistem politik Indonesia. Akan tetapi yang menjadi masalah ketika otonomi desa ini harus terkungkung didalam struktur yang kanibalistik serta tak sejalan dengan cita-cita dari otonomi desa ini.

Didalam tingkatan desa, gerakan civil society ini dapat termanifestasikan didalam bentuk-bentuk organisasi pemuda atau organisasi petani bahkan dapat juga seperti karang taruna atau gerakan ibu-ibu PKK. Artinya eksponen-eksponen tersebut akan menjadi sebuah gerakan civil society ketika mereka mampu melakukan perang posisi dengan penguasa, yaitu didalam turut aktif menciptakan transparansi, akuntabilitas, asistensi tentang pembangunan apa saja yang mereka butuhkan, dan juga menciptakan demokratisasi yang berkesetaraan.

Alasan utama gerakan civil society di tingkat desa ini sangat penting dilakukan untuk mengawal dinamika otonomi desa ini, adalah karena dengan adanya 72.000 ribu desa yang tersebar dipenjuru Indonesia, membuat lembaga-lembaga seperti KPK, PPATK, ICW, FITRA ataupun organisasi yang fokus mengawal demokrasi pasti akan kesulitan untuk mengawal semua potensi penyelewengan anggaran dari kebijakan otonomi desa ini.

Dan kemudian yang menjadi penting dilakukan gerakan civil society ini adalah didalam membentuk sebuah Blok Historis, yaitu blok yang menyatukan beberapa elemen gerakan (seperti gerakan petani, buruh, mahasiswa, dll). Artinya didalam blok historis ini akan membuat gerakan civil society ini akan menjadi lebih kuat. Sehingga mampu mendorong terciptanya sebuah sistem yang egaliter tanpa terjerat neoliberalisme dan menjadi oposisi kuat bagi terlaksannya pemerintahan (bukan hanya desa, tetapi juga pusat) yang sesuai dengan kehendak rakyat dengan berasaskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Sila V, Pancasila).

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Opini koran Haluan Padang, pada 02 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: