Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Politik Tanpa Etika

Lampung Post 18 Februari 2014 a

Doc: Epaper Lampung Post 18 Februari 2014

Didalam dinamika demokrasi yang tengah kita arungi pada pasca-reformasi sampai sekarang, berbagai kegaduhan demi kegaduhan menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya. Ruang publik seolang dipenuhi dengan keributan-keributan didalam mencari sebuah konsesus. Berbagai opini pun saling bertarung di ruang publik dengan mengatasnamakan suara publik. Padahal bila ditelisik lebih mendalam, opini tersebut adalah suara kepentingan pribadi yang digoreng dengan kekuatan kapital hingga kemudian berwujud kepalsuan suara publik.

Akan tetapi, kegaduhan didalam kerangka sistem demokrasi tersebut tak mungkin untuk dihindari atau bahkan dihilangkan. Menghilangkan kegaduhan didalam arena demokrasi tak lain adalah bagian dari pendestruksian demokrasi. Kita dapat berkaca pada rezim Pinochet di Chile, Syah di Iran ataupun Soeharto di Indonesia, memperlihatkan bagaimana penghilangan kegaduhan di ruang publik adalah manifestasi dari sebuah Kediktatoran. Demokrasi pun seolah menjadi jargon omong kosong, yang dimana suara publik yang bertentangan dibungkam dengan represif demi kekuasaan yang tak terkontrol.

Artinya kegaduhan di ruang publik untuk mencari sebuah keputusan yang menaungi hajat hidup rakyat itu diperlukan. Yaitu sebagai bagian perjuangan politik dari berbagai lini masyarakat untuk meraih transformasi perbaikan atau demi kepentingan masyarakat tersebut secara luas.

Namun, didalam arena demokrasi liberal yang ada sekarang ini, maka kegaduhan yang sering terjadi lebih tidak merepresentasikan kepentingan masyarakat luas. Itu terjadi karena kegaduhan politik didominasi oleh nafsu politik dan diskursus moralitas yang mengarah kepada kebebasan individual (sebagaimana diamanatkan paham liberal) yang tanpa kontrol etika. Sehingga kegaduhan yang terjadi lebih mengarah ke-birahi akumulasi kapital perorangan atau kelompok kecil masyarakat demi menancapkan hegemoninya.

Birahi Politik Tanpa Keadaban

            Kita mungkin sering mencerca para politiksi yang terlibat berbagai kasus-kasus penyelewengan nan merugikan rakyat yang kita saksikan di berbagai media dengan melontarkan kata bahwa para politiksi tersebut tak punya etika (sambil mengelus dada). Membludaknya tindakan dan porsi pemberitaan di media tentang kebobrokan mental wakil rakyat kita tersebut pun telah membuat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap tangan gaib politik. Padahal politik adalah cara untuk merubah sesuatu yang mungkin menjadi tidak mungkin dan begitupula sebaliknya juga dapat merubah sesuatu yang tidak mungkin dapat menjadi mungkin. Namun mengapa kebanyakan para politiksi tersebut tak beretika?

Tak dapat dipungkiri paham neoliberal kini telah menghegemoni berbagai lini di masyarakat dan di pemerintahan. Paham liberal ini mempercayai bahwa eksistensi individu dapat tercapai dengan penciptaan kebebasan individu secara luas dan mekanisme pasar menjadi piranti atau arena pertarungan demi eksistensi hasrat individualitas. Sedangkan peran dari Negara pun di restrukturisasi hanya menjadi pengawas dan pelindung agar hak milik pribadi dari setiap individu tak terlanggar.

Pandangan liberal ini juga mempercayai bahwa melalui tangan gaib pasarlah sebuah proses pemerataan dapat terjadi atau berbagai kemiskinan dan penderitaan dapat dilenyapkan. Tak dapat dipungkiri prasyarat utama tercapainya hal tersebut adalah ketika ada etika saling berbagi dan saling tak menindas diantara setiap individu. Namun yang terjadi sekarang ini berbalik, birahi politik kepentingan pribadi lebih ditonjolkan yang berujung kepada hilangnya keadaban politik itu sendiri.

Jadi hilangnya etika berpolitik yang kita saksikan sekarang ini adalah karena problematika struktur didalam aras ekonomi politik pemerintahan. Kebebasan individu yang tak terkontrol oleh kekuatan memaksa Negara telah membuat birahi politik menjadi berpedoman pada kepentingan ekonomi pribadi yang pada akhirnya mengorbankan kepentingan publik. Kekuatan masyarakat yang seharusnya sebagai pengontrol dan pendobrak sebagai konsekuensi bahwa “demokrasi ada ditangan rakyat” pun tak pernah terjadi. Itu karena tak adanya kesadaran oleh rakyat (karena dipalsukan oleh para elit), dan yang terjadi adalah penciptaan imaji kebebasan palsu yang berujung pada pencerai-beraian.

Alhasil dari berbagai proses tersebut membuat politik di parlemen lebih menjadi politik penghabisan sumber daya Negara. Sehingga berbagai kegaduhan-kegaduhan di ruang publik sebagai prasyarat demokrasi menjadi tak lebih dari proses perebutan dominasi antar elit didalam mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompok mereka. Artinya politik sebagai perjuangan kelas masyarakat didalam menciptakan transformasi perbaikan menjadi tereduksi dan tak mendapatkan ruang sedikitpun.

Maka penciptaan etika didalam setiap laku politik tidak dapat pernah terjadi ketika masih tetap berada didalam struktur ekonomi politik yang seperti sekarang ini. Angin perubahan harus segera ditiupkan. Keadaban politik dapat terbentuk ketika kedaulatan politik, ekonomi dan budaya dapat digenggam sebagaimana tercermin didalam gagasan Trisakti Bung Karno. Artinya kedaulatan disini adalah penguasaan yang dimiliki oleh rakyat secara luas bukan segelintir orang.

Kedaulatan politik, ekonomi dan budaya disini adalah ketika rakyat secara sadar berusaha menciptakan sistem yang egaliter, yang dimana birahi politik saling menindas tak ada. Maka disanalah etika politik menjadi pegangan utama. Kegaduhan dan kegaduhan yang terjadi pun adalah tak lain dari usaha untuk mencari keputusan terbaik demi kepentingan masyarakat secara luas.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Opini koran Lampung Post, pada 18 Februari 2014.

Dimuat ulang disini untuk tujuan Pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: