Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Distorsi Politik Elitis

Metro Riau 03 Maret 2014

Doc: Epaper Metro Riau 03 Maret 2014

“Sebagian orang hidup dalam kegelapan; segelintir saja yang hidup ditempat yang terang; dan mereka yang hidup di kegelapan tetap tak bisa terlihat” untain bait tersebut adalah puisi dari Bertold Brecht yang dikutip oleh Wertheim dalam bukunya berjudul “Elite vs Massa”(2009). Wertheim berusaha menjelaskan tentang bagaimana elitisme telah mengungkung dinamika pemerintahan serta kajian-kajian sosiologis di Indonesia selama ini.

Sistem sosial politik di Indonesia sekarang pun masih tetap berwatak elitis (karena dibuat dengan cara elitis juga). Kita dapat melihatnya didalam sistem kontestasi politik yang sangat begitu mahal sekarang ini. Artinya seseorang untuk dapat memenangkan pemilihan umum harus menggelontorkan biaya yang tak sedikit, baik untuk kampanye dan politik uang, kecuali orang tersebut memang telah membangun basis masa lewat akitivismenya dalam waktu yang lama. Sehingga untuk menjadi pemimpin diperlukan biaya yang besar dan hal tersebutlah yang dimiliki oleh para elit. Sedangkan rakyat kecil hanya dijadikan batu loncatan untuk menegaskan para elit tersebut di pemerintahan.

Elit dan Politik Ketidaktahuan

            Kecenderungan sistem yang bersifat elitis ini telah membuat terjadinya kebuntuan didalam saluran harapan, keinginan dan tujuan dari rakyat sebagai massa untuk diwujudkan menjadi sebuah kebijakan publik. Itu karena para elit yang menguasai pemerintahan memiliki kecenderungan yang berbeda tujuan dengan rakyat itu sendiri. Karena keduanya memang berada didalam kelompok yang berbeda dan terpisah yang artinya sama-sama tidak mengetahui. Akan tetapi dengan besarnya akses informasi yang dimiliki oleh para elit membuat mereka sebenarnya dapat dengan mudah mengetahui kondisi rakyat, namun disinilah kemudian politik ketidaktahuan berjalan (ignorance).

Menurut Wertheim (2009: 04-05) fenomena ketidaktahuan yang ada didalam para elit ini direpresentasikan dengan dua hal. Pertama,  karena memang para elit ini tidak ingin tahu apa yang dialami oleh rakyat sehingga kebijakannya sesuai dengan kehendak mereka sendiri. Kedua, karena memang rakyat sedang disesatkan (secara disadari), artinya para elit sebagai pemimpin ini sebenarnya tahu persoalan rakyatnya namun hanya menyimpannya untuk kepentingannya sendiri, kecuali pengetahuan tersebut dapat direalisasikan menjadi kebijakan demi membangun citra (demi kepentingan politik) mereka di mata rakyat.

Melihat bagaimana gelagat dari sebuah sistem yang bersifat elitis ini, maka disinilah waktunya rakyat untuk memimpin. Karena menopangkan diri pada political will dari para elit ini seperti sebuah mimpi di siang hari. Artinya rakyat sudah waktunya untuk menjadi pemimpin, untuk bagaimana dapat mengatur nasibnya sendiri.

Rakyat Dadi Ratu

            Kita sebenarnya dapat belajar dari kisah pewayangan dengan lakon yang berjudul “petruk dadi ratu” (petruk menjadi raja), yang artinya petruk yang merepresentasikan rakyat kecil berhasil menjadi raja atau penguasa. Lakon ini bukanlah cerita dari epos Mahabaratha atau Ramayana, akan tetapi merupakan lakon carangan yang sudah melegenda dan bersifat revolusioner.

Didalam kisah ini digambarkan bagaimana kelalaian dari para pandawa sebagai penguasa yang menjalankan pemerintahan di Negara Amarta secara elitis, telah membuat rakyat menjadi korbannya. Akibatnya kehidupan rakyat pun menjadi sengsara karena kebijakan yang diambil oleh pandawa tidak pernah memihak rakyat yang membuat rakyat marah. Pemerintahan yang kacau balau tersebut dimanfaatkan oleh Dewi Mustakaweni untuk mencuri Jamus Kalimasadha yang merupakan pondasi atau simbol Negara Amarta dari para pandawa. Maka disaat itulah petruk yang merupakan sosok masyarakat kecil, mendapatkan momentuk untuk merebut kembali Jamus Kalimasadha bersama bagong, sebagai upaya memperbaiki kesengsaraannya.

Alhasil setelah Jamus Kalimasadha dapat direbut dan ditaruh dikepalanya, petruk kemudian seketika sakti mandraguna serta menjadi raja dan bergelar Prabu BelgeduwelBeh dengan Negara Lojitengara, yang kemudian berhasil mensejahtrakan rakyatnya. Akan tetapi petruk harus mendapatkan pertentangan yang hebat dari para dewa serta  para elit dari berbagai Negara (termasuk pandawa dan kurawa) yang bersatu, karena tidak mungkin para elit tersebut dengan begitu saja membiarkan kekuasannya terancam oleh seorang petruk yang merupakan representasi rakyat kecil.

Dari cerita pewayangan tersebut kita dapat memetik pesan bahwa waktunya rakyat harus menjadi pemimpin untuk kemudian bagaimana dapat mengatur nasibnya sendiri. Rakyat menjadi pemimpin disini artinya tidaklah kemudian rakyat menjadi pemimpin semua di pemerintahan, akan tetapi rakyat dapat secara sadar mengarahkan apa yang mereka mau dan menjadi hak-hak dasar dalam kehidupan mereka untuk menjadi sebuah kebijakan publik seperti yang dilakukan oleh petruk. Selain itu rakyat juga secara sadar mengarahkan arah Negara mereka, artinya tidak hanya diarahkan oleh para elit yang jumlahnya sedikit.

Keadaan tersebut menurut Slavoj Zizek adalah sebuah kesejatian demokrasi, yang dimana merupakan kesadaran rakyat untuk menggulingkan segala tatanan yang bersifat menindas menuju kearah tatanan dengan kesejahtraan dan keadilan didalamnya. Sehinga melihat sistem elitis yang telah membekap Indonesia selama ini yang telah menafikan rakyat, maka sudah saatnya rakyat dadi ratu. Apalagi pemilihan umum pada 2014 ini sudah semakin dekat.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di rubrik MetrOrasi koran Metro Riau, pada 03 Maret 2014.

Dimuat ulang disini untuk tujuan Pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: