Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Melindungi Pemilih Pemula

Metro Riau 11 Maret 2014

Doc: Epaper Metro Riau 11 Maret 2014

Pesta akbar ajang kontestasi politik didalam iklim demokrasi di Indonesia sebentar lagi akan segera dimulai. Ditahun politik ini, berbagai strategi dan cara dilakukan oleh para calon wakil rakyat serta partai politik untuk bagaimana dapat mempengaruhi pilihan konstituen demi masa depan mereka di parlemen nantinya. Kecenderungan partai politik di Indonesia pada dewasa ini yang tidak berbasis pada kekuatan massa serta cenderung secara kolektif mengabaikan komitmen idiologis dan programatis, membuat partai-partai tersebut harus tercerabut dari lingkaran massa konstituen.

Melihat tercerabutnya partai dari basis konstituen, membuat partai lebih memilih strategi politik instan untuk mengarungi pemilu. Didalam politik instan inilah kampanye bersifat praktis ditonjolkan sebagai alat pembentuk citra (politik pencitraan). Artinya partai-partai ini tidak menggunakan strategi terstruktur dan programatis yang lebih bersifat jangka panjang dan dapat bermanfaat bagi rakyat karena aksi kolektif yang dijalankan.

Secara garis besar upaya-upaya stategi politik instan tersebut adalah untuk dapat membentuk citra positif di mata rakyat, dan terutama sekali adalah pada barisan “masa mengambang” yang sampai pemilihan umum hampir tiba cenderung belum menentukan pilihannya serta mudah terpengaruh oleh politik pencitraan. Barisan masa mengambang ini kebanyakan adalah para pemilih pemula.

Kecendrungan Pemilih Pemula

Berbagai kalangan yang menganggap para pemilih pemula (remaja) secara psikologis merupakan orang independen, anti-kemapanan, anti status-quo dan pro perubahan adalah pendapat yang kurang tepat didalam konteks ekonomi politik Kapitalisme sekarang ini. Didalam kerangka relasi produksi dari kapitalisme, para remaja ini dipermainkan hasrat mereka demi terciptanya proses akumulasi kapital. Merujuk ungkapan dari Zizek, proses tersebut disebut sebagai “the spirit of capitalism”, yang telah membuat terjebaknya para pemilih pemula (remaja) didalam kerangkeng konsumerisme dan gaya hidup hedonis, sehingga menumbuhkan sikap skeptis dan tidak ingin tahu menahu.

Maka kecenderungannya kemudian para remaja pemilih pemula ini lebih bersifat kritis ketika di akun jejaring sosial (Twitter, Facebook, dll) sedangkan mereka cenderung takut untuk bersentuhan dengan masalah-masalah didunia nyata. Kekritisan dari para pemilih pemula didalam media jejaring sosial tersebut, tak dapat dipungkiri cenderung bersifat responsif, karena dipengaruhi oleh arus media mainstream yang rentan dengan problematika politik pencitraan.

Sehingga ketika mereka disuguhi berbagai realita-realita kebobrokan pemerintahan yang disiarkan dengan membabi-buta oleh media masa, membuat semakin tumbuhnya sikap apolitisme di lingkaran pemilih pemula ini. Merebaknya apolitisme inilah yang membuat kecenderungan golput dilingkaran para pemilih pemula ini menjadi sangat tinggi. Apalagi ditambah dengan budaya gontokrasi yang menomerduakan pemuda dan mengedepankan patronase kaum tua.

Padahal merujuk data yang dikeluarkan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum), jumlah pemilih pemula pada pemilu 2014 nanti cukup besar, berkisar 20 – 30 persen dari total 186.612.255 masyarakat yang terdaftar sebagai pemilih di pemilu 2014 nanti. Dengan jumlah yang besar tersebut membuat para pemilih pemula harus dilindungi agar tak terjerat dalam dilematika politik pencitraan, politik transaksional serta apolitisme. Itu karena para pemilih pemula ini adalah para pemegang tongkat estafet kepemimpinan di negeri ini nantinya.

Menumbuhkan Nalar Kritis

            Rentannya para pemilih pemula ini terhadap politik pencitraan, apalagi didorong dengan kecenderungan perilaku pemilih pemula yang memahami sesuatu secara mentah-mentah tanpa pernah menganalisisnya secara mendalam terlebih dahulu, membuat strategi menumbuhkan kesadaran kritis para pemilih pemula menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Maka untuk mendorong agar para pemilih pemula yang masih belum mempunyai pijakan idiologis politik tertentu agar tak terjerat didalam problematika politik pencitraan yang lebih bersifat destruktif ini, maka sebagaimana menurut Schieck (2003: 8) bahwa sangat perlu untuk membangun media independen ditengah konglomerasi media di Indonesia sekarang ini. Kehadiran media yang independen ini, dapat mengarah pada dua peran;  pertama, menjadi “anjing penjaga” (watchdog) bagi pemerintah dan kedua, mengedukasi publik atas berbagai isu yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari, yang artinya adalah dapat berfungsi untuk membongkar topeng politik pencitraan yang selama ditonjolkan oleh para politikus di Indonesia ini.

Selain itu untuk mendorong nalar kritis para pemilih pemula ini juga dapat dilakukan dengan cara melibatkan aktivisme gerakan civil society atau kampus-kampus sebagai pusat pendidikan untuk melakukan edukasi di sekolah-sekolah, dimasyarakat serta di kampusnya sendiri tentang pentingnya politik dan bagaimana menentukan pillihan serta bersikap didalam pemilu nantinya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa para pemilih pemula ini adalah generasi penerus bangsa ini.

Mendorong mereka untuk menjadi kritis serta melek politik artinya akan membawa demokrasi di Indonesia ini akan menjadi semakin lebih baik lagi, yang dimana tidak lagi dikuasai oleh segelintir elit dan membuat rakyat benar-benar menjadi panglima didalam sistem demokrasi ini sendiri.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di MetrOrasi koran Metro Riau, pada 11 Maret 2014.

Dimuat ulang disini untuk tujuan Pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: