Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Jalan Terjal Pasar Klithikan

pasar tradisional vs modern

Doc: Inilah(dot)com

Sejak dibukanya kran liberalisasi ekonomi (termasuk pasar ritel) di Indonesia pada tahun 1997an sampai sekarang ini, gempuran dari pasar ritel modern (hipermarket, supermarket dan minimarket) ke Indonesia telah mendapatkan titik temunya. Akibat yang ditimbulkan tak dapat dipungkiri secara telak telah mengeksklusi (menyingkirkan) pasar-pasar rakyat atau sering disebut sebagai pasar Tradisional ini.

Namun berdasarkan hasil penelitian yang pernah saya lakukan di pasar tradisional Klithikan Pakuncen – Yogyakarta, menunjukan bahwa tidak semua pasar tradisional harus tereksklusi dengan bombardir kehadiran pasar ritel modern ini. Masih adanya eksistensi pasar tradisional ditengah persaingan yang tidak seimbang dengan pasar modern ini terjadi karena dipengaruhi oleh 3 hal utama.

Pertama, barang-barang komoditas yang dijual tak sama dan memiliki ciri khas tertentu. Pasar Klithikan memang terkenal karena barang yang dijualnya dapat dikatakan khas, yaitu berupa barang-barang kuno atau antik, barang-barang second ataupun juga barang-barang bajakan (KW) dengan harga miring. Hal tersebutlah yang membuatnya dapat tetap bertahan, karena komoditas tersebut tak diperdagangkan di pasar ritel modern.

Kedua, modernisasi pengelolaan pasar. Sebelum direlokasi ke Pasar Klithikan Pakuncen, para pedadang di pasar Klithikan ini adalah para PKL di sekitar trotoar Jalan Mangkubumi, Jalan Asemgede dan Alun-alun Kidul Kraton Yogyakarta. Relokasi ini adalah inisiatif dari pemerintah kota Yogyakarta agar aktifitas perdagangan di trotoar tersebut tidak membuat kemacetan, serta agar para pedagang dapat berjualan ditempat yang lebih bersih, teratur dan nyaman dengan pengelolaan secara modern. Alhasil dengan pengelolaan yang modern ini, telah membuat pasar Klithikan menjadi salah satu dari ikon kota Yogyakarta.

Ketiga, mekanisme transaksi yang berbeda. Bila kita melakukan transaksi jual-beli di pasar modern, kita hanya disuguhi barang dengan harga yang sudah ditentukan. Artinya tidak ada proses interaksi sosial disana. Sehingga keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional dibanding pasar modern adalah adanya hubungan interaksi sosial dan budaya didalam setiap relasi jual-beli. Artinya dengan adanya proses komunikasi secara langsung dengan saling tawar menawar harga antara penjual dan pembeli didalam pasar tradisional ini, telah menciptakan adanya ikatan keakraban dan kekerabatan yang berbalut kehangatan di antara mereka. Proses tersebutlah yang kemudian menciptakan kenangan tersendiri.

Berdasarkan studi di pasar Klithikan ini menunjukan bahwa ketika pasar rakyat atau tradisional tidak memiliki ciri khas komoditas tertentu dan pengelolaan yang modern, maka pasar tradisional tersebut sudah pasti akan tereksklusi akibat relasi modal yang timpang dengan pasar modern. Sehingga terobosan kebijakan dari pemerintah untuk memodernisasi dan pemberdayaan terhadap pasar rakyat serta pembatasan terhadap kehadiran pasar ritel modern menjadi sangat penting untuk dilakukan. Karena pasar rakyat ini adalah nafas ekonomi nasional.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Kolom Opini Koran Tempo, pada 22 Maret 2014.

Dimuat ulang disini untuk tujuan Pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: