Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Peta(ka) Parpol Tak Beridiologi

Doc: Epaper Majalah Voting edisi XXXVIII

Doc: Epaper Majalah Voting edisi XXXVIII

Didalam demokrasi elektoral yang mensyarakat mekanisme perwakilan, partai politik (parpol) mengemban peran cukup sentral disana. Parpol adalah tempat atau wahana bagi para masyarakat untuk memperjuangkan kehidupan mereka dan juga untuk ikut berpartisipasi didalam menjalankan roda kehidupan bernegara. Posisi demokrasi didalam kerangka tersebut adalah sebagai wadah terjadinya pertarungan politik dari setiap kelompok masyarakat yang terejawantahkan melalui parpol didalam arena ajang kontestasi politik dan disetiap aras kebijakan dari pemerintah.

Kenyataan terssebut membuat parpol harus menjadi semacam kendaraan dari eksponen masyarakat yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Artinya parpol harus memiliki idiologi sebagai pegangan didalam menentukan arah geraknya. Tanpa idiologi didalam tubuh parpol ini, maka yang terjadi parpol tak lebih sebagai kendaraan dari para elit didalamnya. Hal tersebutah yang kemudian mengkerangkeng parpol pada tujuan yang cenderung pragmatis dan oportunis.

Wajah Parpol di Indonesia

            Bila dianalisis secara mendalam, parpol-parpol yang tengah berkompetisi diajang pemilu 2014 nanti hampir tak ada yang memiliki idologi politik. Dari 12 parpol nasional tersebut, mereka cenderung memilih untuk bersifat ketengah atau mencari aman. Ketiadaan idiologi didalam tubuh parpol ini dapat dilihat dari perilaku partai yang lebih didorong oleh Office seeking, Vote seeking dan Policy seeking (Dwipayana, 2014).

Office seeking merupakan perilaku parpol yang lebih mengutamakan tindakan yang pragmatis atau jangka pendek, yaitu dengan hanya berorientasi untuk mengejar rente serta posisi-posisi strategis demi kelangsungan hidup parpol ini sendiri. Hal tersebutlah yang kemudian membuat parpol hanya turun ke masayrakat ketika pemilu sudah hampir tiba dan juga membuat maraknya politik instan atau politik transaksional demi tujuan pragmatif itu sendiri.

Sedangkan Vote seeking merupakan modus pencarian suara yang membuat parpol menjadi berlogika catch all atau siapa saja boleh masuk kedalam parpol tersebut yang penting dapat mengangkat perolehan parpol disaat pemilu tiba. Maka tak mengherankan ketika Harry Tanoe dapat dengan mudah melenggang menjadi jajaran petinggi di Partai Hanura setalah sebelumnya ia terlibat konflik di Partai Nasdem. Artinya ketika seseorang dianggap memiliki modal yang besar didalam mengangkat partai nantinya, maka ia tak usah ikut pengkaderan dari bawah. Tinggal bimsalabim-abrakadabra saja sudah menempati posisi penting di parpol itu.

Dan yang terakhir adalah Policy seeking, yaitu perilaku parpol yang tak mempunyai pegangan. Artinya didalam sistem multipartai ini telah memaksa parpol untuk saling berkoalisi. Namun didalam Policy seeking ini, koalisi yang terbentuk lebih dengan pertimbangan peluang mereka didalam memperbesar mendapatkan posisi-posisi strategis di pemerintahan. Maka tak mengherankan ketika didalam setiap ajang pemilu yang berbeda, partai-partai pun saling berkoalisi dengan partai yang berbeda-beda pula.

Mencari Jalan

Melihat kenyataan ditanggalkannya idiologi dari parpol-parpol ini, tak pelak membuat hilangnya keberpihakan parpol terhadap rakyat. Artinya yang terjadi adalah digadaikannya kepentingan rakyat dengan kursi kekuasaan yang kemudian hanya sebagai batu loncatan untuk berburu rente. Hal tersebut membuat rakyat sebagai demos tak lagi berdaulat didalam kratos alis kepemerintahan.

Absennya idiologi yang diemban oleh para parpol didalam dinamika perpolitik di Indonesia ini menurut saya, sebagai akibat hilangnya politik kelas. Hal tersebut membuat partai yang ada sekarang ini hanya berhaluan kanan dan agak ketengah semua (liberal dan konservatif). Artinya tanpa adanya pertarungan idiologi kelas inilah yang membuat representasi perjuangan dari kelas bawah (yang biasanya termanifestasikan oleh partai kiri atau sosialis) tak dapat tersalurkan dan tertutup oleh kepentingan kelompok kelas atas atau elit (plutokrat).

Hilangnya pertarungan politik kelas ini tak terlepas dari tindakan koersif yang dilakukan oleh rezim orde baru didalam menghancurkan lawan-lawan politiknya. Kenyataan tersebut membuat pergerakan politik kiri di berangus dan dihancurkan yang telah menciptakan imajinasi ketakutan akan politik kiri di masyarakat sampai sekarang ini.

Padahal didalam arena demokrasi sangat membutuhkan adanya pertarungan. Dan didalam konteks politik di Indonesia sekarang ini pertarungan yang terjadi adalah pertarungan antar elit saja, sedangkan para rakyat hanya dijadikan batu loncatan. Kenyataan tersebutlah yang kemudian membuat kepentingan dari masayarakat kecil hanya sering menjadi sebuah harapan dan janji-janji pada saat musim kampanya datang. Setelah itu kepentingan rakyat kecil ini menjadi sulit untuk tersentuh.

Maka melihat berbagai kenyataan yang telah dipaparkan tersebut, agar demokrasi dapat berjalan sebagai mana mestinya dan kepentingan dari rakyat kecil dapat benar-benar diperjuangkan, maka parpol harus memiliki idiologi politik. Karena melalui idiologi politik yang diemban oleh setiap partai inilah yang akan membuat kepentingan masyarakat menjadi benar-benar tersalurkan serta tidak hanya menjadi oplosan dari kepentingan-kepentingan berbagai kelompok masyarakat, yang kecenderungannya menjadi dimenangkan serta dikuasai oleh para elit.

Alhasil politik oplosan kepentingan yang selama ini ditunjukan oleh parpol-parpol didalam setiap ajang kontestasi politik harus segera diakhiri. Dan Parpol harus memiliki idiologi sebagai pegangan dari setiap tindakan politisnya untuk saling bertarung di panggung demokrasi yang menyedian pertarungan idiologis yang saling berlawanan. Disanalah rakyat akan dapat menentukan pilihannya secara tepat dan obyektif untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar ada untuk rakyat.

Tulisan artikel opini ini sebelumnya telah dimuat di Kolom Gagas Majalah  Voting, edisi XXXVIII/02 – 09 April 2014.

Dimuat ulang disini untuk tujuan Pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: