Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Demokrasi, Golput & Déjà Vu

Malang Post 25 April 2014

Doc: Epaper Malang Post 25 April 2014

Pemilhan Umum Legislatif (pileg) pada 09 April 2014 kemarin telah usai. Berdasarkan hasil Quick Count dari beberapa lembaga survey seperti LSI, CSIS & Cyrus Network, Kompas dan IRC secara sepakat menempatkan PDIP sebagai pemenangnya dengan angka berkisar antara 18 % – 20 % suara. Namun bila dibandingkan dengan angka Golput pada pileg 2014 ini, maka Golputlah pemenangnya. Sebagaimana hasil prediksi dari LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang memperkirakan angka Golput mencapai 34,02 % (Tempo, 10/04/14), bandingkan dengan perolehan PDIP yang menurut hasil Quick Count hanya 18-20 % saja.

Kejengahan Rakyat

Presentase angka golput memang terus mengalami trend kenaikan semenjak digelarnya pemilu pada era reformasi ini. Pada pileg di tahun 1999 angka golput mencapai 10,2 %. Angka tersebut naik pada pileg tahun 2004, yang dimana 23,3 % pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya, sedangkan pada pileg 2009 angka golput pun semakin melonjak naik yang mencapai angka 29 %. Dan terakhir pada pileg 2014 ini angka golput sebagaimana menurut LSI diperkirakan mencapai 34,02 %. Fenomena jokowi effect yang digadang-gadang dapat meningkatkan partisipasi pemilih didalam kenyataannya pun tak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Terus melonjaknya angka golput ini tak dapat dipungkiri merupakan akibat dari semakin menumpuknya kekecewaan rakyat terhadap sistem politik dan para pemimpin didalam arena demokrasi ini.

Demokrasi plutokrat (demokrasi yang dikuasai oleh orang kaya) yang menggejala di Indonesia sekarang ini ditambah dengan berkelindannya strategi politik instan memang tak pelak telah menciptakan politik dan politisi musiman. Artinya bagaimana para calon wakil rakyat dan Partai politik turun keakar rumput serta menjalankan aktivismenya di masyarakat, hanya ketika musim pemilu mau dimulai. Sedangkan ketika pemilu sudah usai dan mereka mendapatkan kursi empuk, maka mereka lebih memilih duduk ongkang-ongkang dan menjadi pemimpin di atas angin yang teralienasi dari realitas kehidupan masyarakat.

Bagi yang sudah pernah mengarungi masa-masa pemilu beberapa dekade kebelakang, pasti mereka akan tahu dan merasakan pola seperti itu. Mereka pasti sudah kenyang dengan janji-janji politik serta sandiwara dari para pemburu kursi empuk di setiap ajang demokrasi elektoral itu.

Artinya kemudian pemilu hanya menjadi semacam pesta demokrasi formalitas yang tak bersolusi. Itu karena sebelum dan sesudah pemilu, rakyat merasakan kehidupan mereka hanya begitu-begitu saja. Janji-janji dan harapan yang ditiupkan disetiap kampanye politik tak ubahnya dongeng sebelum tidur. Transformasi-transformasi perbaikan tak kunjung muncul, bahkan kesulitan demi kesulitan yang semakin menjadi-jadi.

Para rakyat bukannya dipelihatkan aksi nyata dari para wakilnya untuk membela, melindungi dan memperjuangkan mereka, akan tetapi malahan dipertontonkan dengan ulah-ulah negatif (korupsi dll) para wakil rakyat ini di pemerintahan. Hal-hal tersebutlah yang menjadi pemicu utama melonjaknya angka apolitisme dan apatisme di masyarakat, yang ledakan akhirnya tak lain adalah maraknya Golput (Golongan Putih) yang semakin menjadi-jadi didalam perjalanan demokrasi di Indonesia pada dewasa ini.

Dinamika Golput

Diskursus yang berkembang dimasyarakat didalam memaknai golput ini memang masih terjadi silang pendapat. Disatu sisi masyarakat menganggap golput adalah tindakan yang menyia-nyiakan kesempatan untuk terjun memilih pemimpin, sedangkan disisi lain golput dimaknai sebagai bagian dari demokrasi yaitu sebagai bentuk perlawanan politik.

Didalam UU no 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia didalam pasal 23 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya”. Sehingga dapat dimaknai bahwa golput adalah hak setiap konstituen.

Namun tak semua golput dilakukan karena pilihan perlawanan politik. Terjadinya permasalahan penetapan daftar pemilih tetap yang dilakukan oleh KPU (administratif), tengah tidak ada dikampung halamannya para konstituen yang sudah terdaftar pada saat pemilu digelar karena alasan jarak, pekerjaan, sekolah dan kepentingan lainnya adalah penyebab yang lain dari golput.

Kenyataan tersebut membuat peran dari pemerintah dan KPU perlu didorong untuk dapat memutus rantai permasalahan partisipasi politik sebagai akibat masalah administratif tersebut. Rendahnya tingkat partisipasi politik sebagai akibat dari tidak merasa benar-benar terpanggilnya konstituen (golput tak beralasan pilihan politik) didalam mengarungi pesta demokrasi ini malahan dapat menciptakan pengkerdilan didalam demokrasi. Yaitu akan semakin menumbuhkan apatisme dan apolitisme yang cenderung destruktif.

Gerakan golput sebagai perlawanan politik akan menjadi hampa ketika hanya berlangsung ketika pemilu datang semata. Akan tetapi perlu dilakukan pengorganisasian perlawanan agar gerakan golput ini tak terceraiberai untuk kemudian menjadi poros oposisi didalam turut mengawal jalannya pemerintahan. Artinya penindaklanjutan gerakan golput yang berbasis perlawanan politik menjadi sangat penting untuk dilakukan, untuk kemudian dapat menggusur kecenderungan apatisme dan apolitisme di masyarakat menjadi pencerdasan berpolitik.

Karena tanpa penindaklanjutan tersebut, maka gerakan golput hanya akan berjalan buntu tak bersolusi seperti yang kita saksikan pada pemilu-pemilu sebelumnya. Déjà Vu.

Tulisan artikel ini sebelumnya telah dimuat di kolom Opini Koran Malang Post pada 25 April 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: