Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Pemilu dan Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa

Lampung Post 06 Mei 2014 a

Doc: Epaper Lampung Post 06 Mei 2014

Di dalam sejarah negara-negara di dunia, tak dapat dipungkiri bahwa peran dari para mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan telah mampu menciptakan berbagai dinamika ekonomi politik kekuasaan. Di Indonesia, gerakan mahasiswa telah mampu menggulingkan rezim Soekarno dan Soeharto. Namun, perlu dipahami bahwa gerakan mahasiswa bukanlah sebagai penyulut utama terciptakan gerakan revoluisioner di berbagai negara, akan tetapi mereka hanyalah sebagai katalisator.

“Gerakan mahasiswa sekarang telah berada di persimpangan jalan,” ungkapan tersebut mungkin lazim kita temui, sebagai satir untuk mempertanyakan eksistensi dari para mahasiswa di dalam aras dinamika ekonomi-politik sekarang ini. Artinya, ada kekecewaan terhadap para mahasiswa karena harapan yang diembankan kepadanya tidak mampu untuk benar-benar diwujudkan.

Mengartikulasikan Peran Mahasiswa

Di dalam kehidupan masyarakat lokal di Indonesia, mahasiswa telah menempati strata status sosial yang tinggi. Itu karena mahasiswa telah berada di dalam jenjang pendidikan tertinggi, yaitu perguruan tinggi atau universitas. Artinya, mahasiswa adalah bagian dari kaum intelektual atau cendikiawan. 

Sebagai kaum intelektual, maka hakikatnya mereka harus mampu menyampaikan bahasa kebenaran di hadapan penguasa dan menentang segala ketidakadilan yang ada di sekitarnya. Apalagi di dalam karut-marut politik di Indonesia saat ini serta berbagai problematika kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, dan pendidikan yang terus menjerat Indonesia.

Namun, bila merujuk menggunakan analisis kelas sosial, di era komersialisasi pendidikan seperti sekarang ini, sebagian besar mahasiswa di Indonesia dapat digolongkan sebagai kelompok borjuis kecil (pitit-bourgeois). Penggolongan sebagai borjuis kecil ini akibat dikuasainya bangku-bangku di universitas oleh anak-anak dari kalangan kelas menengah ke atas. Sedangkan mereka dari kalangan kelas bawah pasti akan sulit mengaksesnya karena kekuatan ekonomi mereka yang lemah telah memaksanya untuk tersingkir dari sistem kompetisi pendidikan ini.

Melihat mahasiswa secara homogen sebagai agen perubahan adalah sebuah kesalahan fatal. Artinya pijakan berpikir dan bertindak dari para mahasiswa ini sangat dipengaruhi oleh asal-usul, kelas sosial dan situasi yang dialaminya. Contohnya, ketika mereka tidak pernah bersentuhan dengan kesulitan hidup dari masyarakat kelas bawah, maka pikiran mereka untuk memperjuangkan masyarakat kecil tersebut pasti akan sulit untuk mungemuka. 

Itu karena mereka tidak pernah merasakan bagaimana kepedihan dan penderitaan yang dialami oleh masyarakat kecil ini. Kemudian di sanalah jebakan pragmatisme nan oportunistik menyekap para mahasiswa untuk berpikir secara rasionalitas terbatas, yaitu dengan rumus SDM atau Selamatkan Diri Masing-masing.

Menyikapi Pemilu

Bila dianalisis secara mendalam, mandulnya gerakan politik mahasiswa sekarang diakibatkan oleh adanya struktur dan relasi kekuasaan yang mengekang mereka. Artinya terfragmentasinya politik mahasiswa ini bukanlah persoalan moralitas seperti karena masalah gaya hidup, budaya, dan perilakunya yang pragmatis. 

Akan tetapi, lebih karena ada sebuah hegemoni dari relasi kekuasaan yang memaksanya teralienasi dari peran dan hakikat mereka sebagai mahasiswa. Kehidupan sebagai kelas menengah serta sistem pendidikan yang tak merangsang kesadarannya, membuatnya menjadi membuta terhadap keadaan sosial dan politik di sekitarnya.

Itu dapat terlihat ketika ajang pemilu tiba pada 9 April 2014 lalu dan upaya mengawal pemilihan presiden 9 Juli 2014 nanti. Gerakan mahasiswa seolah bungkam dihadapan penetrasi dan manuver dari para elite politik yang sibuk memperebutkan kekuasaan. Masalah sistemik di dalam setiap ajang kontestasi politik, yaitu hasil dari pemilu yang tak pernah menghasilkan kebijakan yang prorakyat tak pernah disikapi dengan tepat. 

Beberapa upaya yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa untuk turut mengawal pemilu tak lebih sebagai riak-riak kecil dihadapan penguasa. Itu karena tidak dimilikinya posisi tawar yang begitu kuat oleh gerakan mahasiswa ini didalam turut mempengaruhi berbagai kebijakan pemerintah. Selain itu karena begitu kecilnya (karena hanya sebagian kecil) daya dobrak dari para mahasiswa didalam melakukan perang posisi terhadap para elit politik di pemerintahan. Sedangkan sebagian besarnya terjebak didalam apatisme yang telah mendepolitisasi mereka.

Bunuh Diri Kelas

Maka melihat hal tersebut, membuat jalan strategis untuk merekonstruksi mahasiswa agar kembali ke rel hakikat peran mereka sebagaimana mestinya di dalam dinamika ekonomi-politik Indonesia sekarang ini menjadi mendesak untuk dilakukan. Salah satunya adalah dengan cara melakukan bunuh diri kelas. Bunuh diri kelas ini sendiri dapat dimaknai sebagai mengubah arah pikiran mereka yang bersifat kelas menengah ke atas menjadi arah pikiran dari kelas bawah atau kaum yang tertindas di hadapan penguasa. 

Hal tersebutlah yang akan membentuk jiwa revolusioner dalam diri mereka serta membuatnya untuk terus turut andil di dalam perjuangan pembebasan dan penciptaan keadilan serta kesejahtraan. Kita dapat berkaca dari gerakan mahasiswa di Cile akhir-akhir ini yang telah mampu menjadi blok kekuatan politik di dalam setiap aras pengambilan kebijakan publik yang diambil penguasa.

Alhasil, dengan kesadaran yang dapat diraihnya, gerakan konter-hegemoni dapat dijalankan terhadap penguasa untuk memperjuangkan kebenaran yang diyakininya sehingga kemudian dapat menjadikannya sebagai katalisator untuk menumbangkan sistem atau struktur di dalam relasi kekuasaan yang timpang dan mengekang kehidupan masyarakat selama ini. Agenda yang lebih dekat adalah bagaimana untuk dapat mengawal proses pilpres pada 09 Juli 2014 nanti serta dapat mendesakan berbagai agenda untuk memperjuangkan kehidupan rakyat kecil yang selama ini tertindas.

Tulisan artikel ini sebelumnya telah dimuat di kolom Opini Koran Lampung Post pada 06 Mei 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: