Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Membonsai Nalar Kritis Pendidikan

KRJogja 16 September 2014

Doc: Epaper KR-Jogja 16 September 2014

Lahirnya Permendikbud 49/2014 tentang standart nasional pendidikan tinggi (SNPT) tak dapat dipungkiri telah menistakan hakikat pendidikan itu sendiri. Melalui peraturan tersebut terjadi standartisasi bahwa lama pendidikan s1 /d4 adalah maksimal 5 tahun dan bila melebihi batas maka akan diacam Drop Out (DO).

Logika pemerintah dalam memaknai dunia pendidikan tersebut menempatkan pendidikan sebagai bagian dari investasi, artinya pendidikan dijerumuskan pada hitung-hitungan untung rugi sebagaimana logika ekonomi. Pendidikan pada akhirnya disalah artikan hanya sebagai jenjang untuk dapat memperoleh pekerjaan dan itulah logika dari pendidikan yang selaras dengan logika kapitalisme.

Dalam nalar kapitalisme ini, ilmu yang didiseminasikan kepada peserta didik adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat Industri, dengan mengorbankan aspek Critical Subjectivity, yaitu kemampuan untuk melihat dunia secara kritis. Sistem pendidikan tersebut menempatkan peserta didik hanya menjadi skrup-skrup pada mesin Industri, bukan sebagai manusia yang memiliki kemerdekaan dalam dirinya.

Kapitalisasi pendidikan ini telah membuat institusi pendidikan seperti Universitas diarahkan menjadi semacam pabrik pencetak para peserta didik untuk digunakan oleh para kapitalis dalam menggerakan roda industri mereka (buruh). Sehingga digunakanlah standartisasi sebagaimana dalam pelatihan kerja, seperti para peserta didik diwajibkan lulus maksimal 5 tahun agar proses sirkulasi peserta didik berjalan tepat waktu.

Selain itu kapitalisasi pendidikan juga telah mendistorsi hakikat dari pendidikan ini sendiri. Ilmu yang diajarkan tidak pernah memantik peserta didik untuk dapat berfikir kritis, karena dengan kekritisan maka akan mengancam dominasi dari kapitalisme ini sendiri. Kenyataan tersebutlah yang membuat aktivisme dalam organisasi-organisasi menjadi sangat penting, untuk dapat merangsang mereka menuju hakikat kehidupan dan pendidikan yang semestinya.

Bagi Paulo Freire hakikat pendidikan adalah untuk membebaskan. Artinya melalui adanya pendidikan manusia dipupuk untuk menemukan kesadaran akan kemerdekaan yang dimilikinya, sehingga membuatnya dapat keluar dari sistem yang menindasnya serta mampu mengubah dunia.

Masuknya kapitalisme di dalam ranah pendidikan ini, menurut Peter Mcleren sebagaimana yang dikutip oleh Agus Nuryatno (2011: 57) juga telah memberikan tiga dampak utama: Pertama, hubungan antara kapitalisme dan pendidikan urban telah menyebabkan praktek-praktek sekolah yang lebih mendukung kontrol ekonomi oleh kelas-kelas elit. Kedua, hubungan antara kapitalisme dan ilmu pengetahuan telah mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan yang hanya bertujuan mendapatkan profit material dibanding untuk menciptakan kehidupan global yang lebih baik.

Dan Ketiga, perkawinan antara kapitalisme dan pendidikan serta kapitalisme dan ilmu pengetahuan telah menciptakan fondasi bagi ilmu pendidikan yang menekankan nilai-nilai korporasi dengan mengorbankan nilai-nilai keadilan sosial dan martabat manusia.

Berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam memberikan payung hukum terhadap jalannya pendidikan tinggi sampai sekarang ini memperlihatkan kecenderungan digunakannya frame kapitalisme yang terbukti mengkerdilkan pendidikan ini. Hal tersebut dapat terlihat sebagaimana terbitnya UU No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang memperlihatkan semangat liberalisasi pendidikan, kebijakan uang kuliah tunggal yang memaksa mahasiswa lulus cepat yang pada akhirnya semakin disokong dengan Permendikbud 49/2014 ini.

Alhasil perkara pendidikan tinggi bukanlah perkara lulus cepat dan mendapatkan pekerjaan, akan tetapi sebagaimana menurut Ki Hadjar Dewantoro adalah sebagai alat untuk “memerdekakan manusia secara lahir maupun batin”. Semoga kita dapat turut mengembalikan hakikat pendidikan tersebut sebagaimana mestinya.

Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di rubrik “Suara Mahasiswa” koran Kedaulatan Rakyat – Jogja pada 16 September 2014.

Advertisements

One response to “Membonsai Nalar Kritis Pendidikan

  1. Thama Firdaus October 10, 2014 at 4:47 am

    Apakah semua keganjilan di negara kita itu benar2 dipengaruhi oleh asing? Klo iya, kenapa kita sebagai yang muda tidak mau peduli soal masalah negara kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: