Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Belajar dari Kelebihan Pasar Klithikan

Tribun Jogja 01 Oktober 2014 aPada dewasa ini, bombadir kehadiran pasar ritel modern (hipermarket, supermarket dan minimarket) tak dapat dipungkiri telah mendiskreditkan pasar rakyat. Lahirnya Keputusan Menkeu No. 455/KMK.01/1997 tentang pembelian saham oleh Pemodal Asing Melalui Pasar Modal, telah menjadi acuan dicabutnya bisnis ritel dari daftar terlarang (negative list) penanaman modal asing yang tertuang dalam Keputusan Presiden No. 96/2000 tentang bidang usaha tertutup dan bidang usaha terbuka (Ahmad, 2007: 27-28).

Pengeksklusian Pasar Rakyat

            Masuknya peritel Asing maupun nasional yang mengusung bentuk pasar modern, tak dapat dipungkiri secara telak telah mengeksklusi (menyingkirkan) pasar-pasar rakyat atau sering disebut sebagai pasar Tradisional. Bila dicermati, pelabelan pasar rakyat menjadi “pasar tradisional” ini sendiri adalah bagian dari pendeskriditan pasar rakyat ini. Artinya dengan penamaan “tradisional”, diskursus yang berkembang kemudian mengarah pada keadaan pasar yang kumuh, tidak tertata, tata kelola yang buruk, tidak terjaminnya kualitas barang dagangan ataupun keterbelakangan.

Ketidakmampuan pasar rakyat didalam persaingan dengan pasar modern merupakan penyebab utama terjadinya proses pengeksklusian ini, karena memang diatas kertas pasar ritel modern yang memiliki modal yang cukup besar, sudah pasti akan dapat dengan mudah merebut para konsumen dari pasar rakyat. Hal tersebut dapat terlihat dari data tahun 2012, bagaimana pasar ritel modern telah menguasai 31 persen pasar ritel dengan omset satu ritel modern mencapai Rp 2,5 triliun/tahun, kontras bila kita bandingkan dengan ritel dan pasar tradisional yang hanya mampu meraup omset sebesar Rp 9,1 juta/tahun (Rozaki, 2012).

Padahal dalam pasar rakyat inilah sebagian besar produk-produk lokal dari masyarakat, seperti hasil produksi dari UMKM, perajin dan petani diperjual-belikan disana. Selain itu, berdasarkan data dari IKAPPI didalam pasar rakyat ini jugalah sekitar 62,5 juta rakyat Indonesia menggantungkan hidupnya. Fakta tersebut berbanding terbalik dengan yang terjadi di pasar ritel modern yang lebih banyak menjual barang-barang impor serta hanya menjadi topangan hidup sebagian kecil rakyat.

Selain itu, keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional dibanding pasar modern adalah adanya hubungan interaksi sosial dan budaya didalam setiap relasi jual-beli. Artinya dengan adanya proses komunikasi secara langsung dengan saling tawar menawar harga antara penjual dan pembeli didalam pasar tradisional ini, telah menciptakan adanya ikatan keakraban dan kekerabatan yang berbalut kehangatan di antara mereka.

Studi Pasar Klithikan

            Berdasarkan penelitian yang pernah saya lakukan di Pasar Klithikan, Pakuncen – Yogyakarta (2012), menemukan kecenderungan bahwa tak semua pasar rakyat atau pasar tradisional ini terkena hantaman dari kehadiran pasar ritel modern. Masih tetap eksisnya pasar Klithikan pakuncen didalam bombardier pasar ritel modern ini disebabkan oleh dua hal utama.

Pertama, adanya perbedaan komoditas barang dagangan. Artinya perbedaan komoditas ini adalah bahwa komoditas yang dijual di pasar klithikan yang berupa barang-barang antik atau kuno, barang-barang bajakan (KW) dan barang-barang second ini tak dijual juga di pasar modern. Sehingga tidak terjadi persaingan secara langsung disana. Dengan komoditas yang berbeda inilah yang kemudian menciptakan chiri khas tersendiri bagi pasar klithikan. Sehingga memiliki basis konsumen tersendiri.

Kemudian yang kedua, adanya modernisasi tata kelola pasar. Dengan adanya modernisasi pasar ini telah membuat kondisi pasar klithikan ini menjadi lebih aman dan nyaman bagi para pengunjung. Selain itu juga menjadi lebih tertata rapi. Sehingga anggapan bahwa pasar tradisional dilekatkan dengan keadaan yang kumuh dan tak tertata tidak terjadi didalam pasar klithikan ini. Alhasil atas dasar dua hal inilah yang kemudian membuat eksistensi pasar klithikan tidak terlalu terpengaruh oleh kehadiran dari pasar ritel modern.

Masa Depan Pasar Rakyat

            Didalam komunitas masyarakat jawa ada sebuah kepercayaan terhadap apa yang disebut sebagai ramalan Jayabaya, yang salah satunya mengungkapkan bahwa jaman kalabendu akan datang “yen pasar ilang kumandhange” (ketika pasar hilang suaranya red). Bila kita maknai ramalan tersebut memperlihatkan bagaimana jaman keterpurukan datang ketika hilangnya kearifan lokal kita serta tergusurnya kemandirian kita oleh berbagai produk asing.

Hal tersebut menurut Soekarno sebagaimana tertuang dalam gagasannya “Mencapai Indonesia Merdeka” adalah bagian dari Imperialisme, yaitu ketika pasar kita dikuasai oleh produk-produk Impor dari asing sedangkan negara kita hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Melihat kenyataan tersebut, pemerintah yang memiliki tanggungjawab untuk dapat menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya (bonumpublicum, common good, common wealth) harus segera bertindak untuk menjaga bukan menjagal pasar rakyat ini.

Salah satunya dapat berkaca dari hasil studi di pasar klithikan pakuncen yang telah saya lakukan, yaitu ketika tidak ada ke-khasan dari pasar rakyat atau tradisional tersebut, maka trobosan menjadikan pasar rakyat lebih modern dengan tanpa menghilangkan interaksi sosial budaya didalamnya dan melakukan pemberdayaan terhadap seluruh eksponen pasar rakyat ini serta melakukan pembatasan terhadap pasar ritel modern yang sudah terbukti menghancurkan ekonomi kerakyatan ini menjadi sangat penting untuk dilakukan. Karena pasar rakyat adalah nafas ekonomi nasional, sehingga patut dijaga bukan malahan dijagal.

Tulisan artikel ini sebelumnya telah dimuat di rubrik Opini Koran Tribun Jogja pada 01 Oktober 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: