Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Patriarki & Perjuangan Emansipasi Wanita

Sampul Bumi ManusiaBumi Manusia” merupakan sebuah karya sastra yang sangat besar yang pernah dituliskan oleh seorang sastrawan hebat yang pernah terlahirkan di Indonesia ini yaitu Pramoedya Ananta Toer. Sosok yang lahir di Blora – Jawa Tengah pada 6 februari 1925 ini adalah salah satu anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dilekatkan sebagai salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia pada era Orde Baru.

Seiring meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30S) atau yang menurut Soekarno disebut sebagai Gerakan Satu Oktober atau Gestok, telah membuat lelaki yang akrab disapa Pram ini dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Namun penjara tak lantas membuat Pram harus berhenti menulis, baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional (hlm 1). Bahkan hampir separuh perjalanan hidupnya dipaksa secara tak manusiawi untuk hidup dari penjara ke penjara.

Didalam penjara itulah (tepatnya di pulau buru, Agustus 1969 – 12 November 1979), Pram berhasil menyelesaikan tulisan Novel yang dinamai sebagai Teatrologi Buru. Novel tersebut terdiri dari  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain itu juga terdapat berbagai karya yang dihancurkan paksa oleh rezim orba sebelum mencapai percetakan.

Bumi Manusia yang merupakan bagian pertama dari teatrologi buru tersebut berlatar kisah pada era akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 ketika penjajahan Hindia Belanda masih berkuasa. Bahkan novel Bumi Manusia ini pun juga telah diterbitkan di 33 bahasa. Minke, Nyai Ontosoroh atau Sanikem dan Annalies merupakan tokoh utama didalam novel ini.

Minke merupakan anak keturuanan bangsawan jawa yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School). Di HBS ini tidak semua anak pribumi dapat bersekolah disini dan mayoritas muridnya merupakan kulit putih totok dan indo. Sedangkan Sanikem adalah seorang anak Juru Tulis pabrik gula di Tulangan bernama Sastrotomo.

Novel Bumi Manusia ini cukup menarik, karena berisi berbagai kritik sosial dan politik terhadap kehidupan di Hindia Belanda pada waktu itu. Salah satunya adalah tentang pergulatan seorang wanita pribumi yang harus ditekan oleh budaya Patriarki yang berkembang dan juga dinistakan oleh kolonialisme serta hukumnya yang melemahkan seorang pribumi dihadapan non-pribumi. Peran tersebut didalam novel ini tergambarkan pada sosok Sanikem.

Sanikem adalah seorang wanita cantik yang terlahir ditengah budaya Patriarki ditambah pola kebangsawanan yang begitu kuat, telah membuat kehidupannya hanya dirumah saja dan jauh dari pergaulan serta pendidikan, sampai ada seorang lelaki yang kemudian hari meminangnya. Ayahnya adalah seorang yang gila tahta dan harta, membuatnya rela menjilat sana-sini. Sampai kemudian Sanikem anaknya harus dijual kepada Herman Mallema untuk dijadikan gundik. Kenyataan tersebut membuat Sanikem sangat membenci ayahnya.

Ditengah bimbingan dari Herman Mallema, sanikem menjadi seorang wanita yang gemar belajar dan membaca. Pengetahuannya bahkan melampaui wanita-wanita pribumi dikala itu dan bahkan wanita eropa sekalipun. Dengan kepandaian, ketangkasan dan kecerdikannya ia mampu mengelola sebuah perusahaan seorang diri yang dibantu oleh Annalies anaknya dari pernikahan yang tidak syah dengan Herman Mallema.

Sebagai seorang gundik atau oleh masyarakat ditempatnya dipanggil Nyai Ontosoroh, masyarakat memandangnya sebagai wanita murahan. Tapi kenyataan berkata lain. Kegemaran membaca dan belajar telah membuatnya berpengatahuan luas. Ia akhirnya dapat membedakan mana yang salah dan benar.

Nyai Ontosoroh merepresentasikan wanita era baru dalam dekapan budaya patriarki jawa yang meminggirkan wanita kala itu. Kerasnya pergulatan hidup yang dihadapinya, dari budaya patriarki yang menindasnya sampai ketidakadilan yang harus menimpanya ketika seluruh harta dan anaknya tidak diakui dan harus dirampas oleh penjajah karena statusnya sebagai pribumi telah menjadikannya wanita revolusioner.

Akhir dari novel “Bumi Manusia” menceritakan kepedihan yang dialami oleh Nyai Ontosoroh karena setelah sepeninggal suaminya, karena hukum Hindia-Belanda yang tak memihak pribumi telah membuat seluruh hartanya dirampas dan dipisahkan secara paksa dengan anaknya Annallies, yang pada perjalanan ceritanya harus meninggal. Namun sosok Ontosoroh ini adalah wanita yang tegar dan tetap berupaya memperjuangkan ketidakadilan yang menimpanya serta para wanita dibawah budaya patriarki dan pribumi dihadapan penjajah.

Bukan pada novel “Bumi Manusia” ini saja, Pram mengetengahkan tokoh perempuan, tapi juga dalam karyanya yang lain seperti Gadis Pantai, Panggil Aku Kartini, Larasati dan Si Manis Bergigi Emas. Ungkapan dari Nyai Ontosoroh bahwa “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai” dapat menjadi penutup untuk membuat kita merefleksi tentang perjuangan emansipasi yang berusaha disuguhkan oleh Pram ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: