Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tanah Itu Ibu

Suara Merdeka 16 November 2014 a

Doc: Epaper Suara Merdeka 16 November 2014

Tanah bagi orang jawa bermakna filosofis penting, sejajar dengan keberadaan ibu. Tanah, seperti rahim ibu, melahirkan awal kehidupan.

Dalam ajaran teologis yang dipercayai masyarakat Jawa, manusia berasal dari tanah dan harus kembali menjadi tanah. Namun filsafat sangkan paraning dumadi tidak berhenti pada ungkapan tersebut. Pemaknaan lebih dalam menelusuri bahwa ada hidup pasti ada mati, tetapi sebelum datang kematian manusia harus mampu mengambil makna tertinggi dalam laku kehidupannya.

Manusia menjadi besar dan pintar karena ditempa oleh keadaan. Manusia berpijak di bumi yang sama serta sama-sama diciptakan dari tanah, karena itu perjuangan untuk membantu sesama yang kekurangan merupakan pemuncak sangkan paraning dumadi.

Ajaran asta brata yang berisi delapan laku kepemimpinan dalam Ramayana antara lain menyebutkan pemimpin harus memiliki prinsip “laku hambeging kisma”. Kisma berarti tanah, yang bersifat tak pernah membeda-bedakan siapapun yang menginjak. Pada tanahlah semua makhluk hidup menggantungkan hidup. Jadi, pemimpin harus mampu mengayomi siapa pun dan memperjuangkan kehidupan rakyat.

Makna filosofis tanah tercermin dalam lakon wayang, seperti Kresna Duta. Terkisah, Kresna menjadi utusan Pandawa untuk menagih janji Kurawa mengembalikan tanah Astina kepada mereka, sang pemilik hak tanah sebenarnya. Namun Kurawa menolak. Tak pelak terjadilah perang Bharatayuda. Itulah perang besar antara para cucu Abiyasa.

Kisah ini menyiratkan makna tanah yang begitu tinggi bagi manusia. Muncul ungkapan sadhumuk batuk sanyari bumi ditohi pati, untuk mempertahankan sejengkal tanah nyawa menjadi taruhannya.

Karena itulah acap terjadi pertengkaran soal tapal batas tanah. Itu memunculkan etika, jangan menanam bibit pohon besar di dekat tapal batas tanah. Sebab, jika pohon itu tumbuh besar dapat melewati tapal batas tanah orang lain sehingga memicu pertengkaran.

Perlawanan

Di rembang, sampai saat ini para ibu dari Gunem sudah lebih dari 140 hari melakukan aksi perlawanan. Mereka mendirikan dan tinggal di tenda di jalan masuk ke pabrik semen. Mereka berpendapat, pendirian pabrik semen ini merusak ekosistem, menghilangkan mata air dan menanduskan tanah. Karena itu, para ibu gigih melawan, meninggalkan rumah dan keluarga tercinta, untuk mempertahankan ruang hidup dan tanah sumber hidup dan penghidupan mereka dari ancaman pabrik semen.

Perjuangan mempertahankan ruang hidup dan tanah sebagai sumber hidup dan penghidupan juga terjadi di berbagai daerah, antara lain Pati dan Kulonprogo. Perlawanan ini untuk menentang mitos pembangunan yang selama ini diusung pemerintah dan anarki kapitalisme yang bersifat kanibalistik. Padahal, semestinya bumi adalah tempat bagi manusia untuk hidup bersama serta tidak untuk saling menguasai dan meniadakan. Maka, tak terelakan, perjuangan untuk menciptakan kepemilikan tanah secara egaliter atau secara kolektif merupakan perjuangan mencapai peradaban tertinggi manusia.

Berbagai elaborasi tersebut menunjukan, sekali lagi, tanah dalam filosofi hidup masyarakat jawa adalah ibu mereka. Memperjuangkan tanah seperti berbakti kepada ibu. Jadi, mesti harus mengorbankan nyawa sekalipun, perjuangan itu merupakan perjuangan luhur yang tak bakal sia-sia. (51)

Tulisan esai ini sebelumnya telah dimuat di rubrik Pamomong Koran Suara Merdeka, Minggu 16 November 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: