Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Pergulatan Gerakan Mahasiswa dan Kritik Terhadap Gerakan Moral

Gambar: Cover Buku "Indonesia Bergerak II: Mozaik Kebijakan Publik di Indonesia 2016"

Gambar: Cover Buku “Indonesia Bergerak II: Mozaik Kebijakan Publik di Indonesia 2016”

Pendahuluan

Pergulatan gerakan mahasiswa di Indonesia dilihat dari sejarahnya terus mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh berubahnya rezim yang berkuasa, tatanan ekonomi-politik dan ruang lingkup sistem pendidikan yang diterapkan. Peran gerakan mahasiswa dalam dinamika perubahan kekuasaan di Indonesia memiliki pengaruh yang cukup penting, seperti pada masa perjuangan kemerdekaan, pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, masa jatuhnya Soeharto yang melahirkan era Orde Baru dan juga pada masa reformasi yang melengserkan rezim Soeharto.

Mencuatnya gerakan mahasiswa dengan label heroism seperti agent of change, iron stock & social control bukanlah sesuatu yang begitu saja terjadi. Labelisasi tersebut dalam prosesnya adalah konstruksi yang dilakukan oleh rezim Soeharto pada masa Orde Baru setelah sebelumnya rezim tersebut melakukan genosida terhadap intelektul kiri (komunis dan soekarnois) dan pembantaian terjadap jutaan orang yang memiliki afiliasi (dan juga diduga) dengan PKI serta melakukan penahanan tanpa pengadilan terhadap ratusan ribu orang kiri. Konstruksi gerakan mahasiswa oleh penguasa adalah bagian dari upaya untuk mempertahankan status-quo, sehingga bentuk progresif dari gerakan mahasiswa dilucuti hingga memunculkan apa yang disebut sebagai gerakan moral.

Gerakan moral yang lahir dari rahim Orde ini, dalam menjalankan aktivismenya selain labelisasi mereka juga dikonstruksi seperti koboy atau Resi[1] (dalam konteks kehidupan masyarakat jawa), yang tidak memiliki kepentingan kekuasaan dalam hati dan kepala mereka. Mereka memainkan moralitas untuk mengingatkan penguasa, kadang dibumbui dengan melakukan aksi, membuat pernyataan sikap, kampanye dan aksi teatrikal. Sebagaimana seperti seorang Resi, mereka datang ketika keadaan sudah genting dan dengan kekuatan moral, mencoba menjadi roda penggerak perubahan. Namun gerakan tersebut cenderung hanya berangan-angan tentang perubahan emansipatif yang transformatif untuk rakyat kelas bawah atau kaum marheins.

Sedangkan gerakan moral merupakan gerakan pemecah belah, itu karena gerakan ini menolak membangun aliansi dengan organisasi atau gerakan sosial lain atas nama kemurnian gerakan dan terhindar dari kepentingan politik lain (Aspinall, 2012). Artinya gerakan ini menjadi penyokong status-quo dan bersifat regresif.

 

Apa Itu Gerakan Moral dan Gerakan Politik Progresif?

Dalam karyanya La Trahison des Clercs[2], Julian Benda menggambarkan cendikiawan sebagai sosok manusia ideal yang berprinsip “kerajaanku bukan di bumi ini”. Artinya para cendikiawan dikonstruksi sebagai manusia yang tidak memiliki kepentingan duniawi. Para cendikiawan yang terlibat dalam dunia perpolitikan, bagi Julian Benda dilihat sebagai wujud dari “Penghianatan Intelektual”. Thesis Benda dalam karyanya tersebut kurang lebih ingin mengatakan bahwa para cendikiawan ideal zaman dulu adalah moralis yang kegiatannya merupakan perlawanan terhadap realisme massa.

Karya Julian Benda tentang “Penghianatan Kaum Intelektual” ini merupakan pondasi dari gerakan moral di Indonesia. Para pioner kekuatan moralitas ini seperti So Hoe Gie dan Soe Hok- djin (Arief Budiman), dua orang saudara yang kuliah di Universitas Indonesia dan juga mahasiswa angkatan 66’ yang lain seringkali mengutip karya Julian Benda tersebut sebagai pondasi gagasan moralitas mereka (Soekito, 1983). Soe Hok Gie dan Arief Budiman melontarkan ide dan gagasan terhadap artikulasi gerakan moral mereka dalam seri tulisan di koran sejak awal 1967 (Maxwell, dalam Aspinall, 2012: 166). Mereka berdua merupakan bagian dari pimpinan aktivis mahasiswa angkatan 66’ dan dengan lantang menuntut Soekarno mundur dan mendukung pembrangusan kaum kiri serta naiknya militer pro-Soeharto.

Membedakan apa itu gerakan moral dan apa itu gerakan politik progresif tanpa melihat latar belakang sejarah terbentuknya kedua gerakan tersebut dan faktor idiologis dari keduanya, maka akan sulit untuk membedakannya serta akan cenderung mendistorsi pemaknaan kedua gerakan tersebut. Sunyoto Usman dalam artikel jurnal yang berjudul “Arah Gerakan Mahasiswa: Gerakan Moral ataukah Gerakan Politik?” (1999)[3] mencoba membedakan antara gerakan moral dan gerakan politik, namun analisanya tidak mampu menjawab pertanyaan tentang kepada siapa wacana gerakan moral itu bertuan, siapa atau kelompok mana yang diuntungkan oleh wacana kekuatan moral tersebut dan benarkah wacana tersebut mampu mendorong perubahan struktural dan emansipasif untuk kelas yang tersubordinasi dalam kerangka negara Orba dan paska-reformasi, telah membuat argumennya menjadi mengambang, karena salah menafsirkan….

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Artikel Papers ini telah dimuat dalam Buku Bunga Rampai “INDONESIA BERGERAK II: Mozaik Kebijakan Publik di Indonesia 2016”  yang diterbitkan oleh MAP Corner-klub MKP UGM.

*** Untuk dapat membaca artikel papers ini secara lengkap, silahkan dapatkan edisi cetak Buku “INDONESIA BERGERAK II” dengan membelinya secara langsung di toko buku terdekat.
Terimakasih.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

[1] Menurut penulis pengandaian yang pas untuk menyebut gerakan moral ini adalah gerakan  a la Koboy, dibanding dengan a la Resi sebagaimana yang disebutkan oleh Arief Budiman (1983). Itu karena gerakan yang dilakukan oleh Resi cenderung hanya dengan saran, masukan atau kritik kepada penguasa tanpa dia melakukan gerakan aksi. Itu berbeda dengan gerakan koboy yang tidak hanya dengan kritik tapi juga seringkali dengan melakukan aksi pertempuran, sebagaimana yang dilakukan oleh gerakan moral mahasiswa selama ini. Tapi baik Resi dan Koboy mereka sama-sama menolak bergerak bersama kelompok lain dan bergerak tidak untuk mendapatkan kekuasaan.

[2] Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Penghianatan Kaum Intelektual”

[3] Sunyoto Usman mengartikan gerakan moral sebagai gerakan yang meletakan energi mahasiswa hanya sebagai pendobrak ketika institusi birokrasi dan institusi politik tidak bisa memainkan peran sesuai dengan tuntutan sektor publik, gerakan tersebut hanya untuk meluruskan. Sedangkan gerakan politik dimaknai sebagai gerakan riil dalam percaturan politik yaitu dengan masuk lembaga eksekutif atau legislative atau lebih tepatnya menjadi politisi professional.

 

Daftar Pustaka

Anderson, Benedict. 1983. Old State, New SocietyL Indonesia’s New Order in Comparative Historical Perspektive. Journal of Asian Studies 42, pp: 77-96.

Apinall, Edward. 2012. Indonesia: moral force politics and the struggle against authoritarianism , in Weis, Meredith L & Aspinall, Edward (ed). Student Activism in Asia: Between Protest and Powerlessness. London: University of Minnesota Press. pp. 153-180.

Aspinall, Edward. 2005. Opposing Suharto: Compromise, Resistance and Regime Change in Indonesia. New York: Stanford University Press.

Bourchier, David & Vedi R Hadiz. 2005. Indonesian Politics and Society. London & New York: RouledgeCurzon.

Budiman, Arief. 1983. Peranan Mahasiswa Sebagai Inteligensia, in Aswab & Natsir, Ismed (ed). Cendikiawan dan Politik. Jakarta: LP3ES. pp. 143-163.

Collins, Christopher dan Robert Rhoads. (2009). “The World Bank, Support for Universities, and Asymmetrical Power Relations in International Development”. Higher Education 59: 181-205.

Dahm, Bernhard. 1971. History of Indonesia in the Twentieth Century. : Greenwood Pub Group.

Edman, Peter. 2007. Komunisme Ala Aidit: Kisah Partai Komunis Indonesia di Bawah Kepemimpinan D.N. Aidit 1950-1965. Jakarta: Center for Information Analysis

Freire, Paulo. 2011. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.

Hieriej, Eric. 2012. Globalisasi, Kapitalisme dan Perlawanan. Yogyakarta: Institute of International Studies.

Husin, Lutfi Hamzah. 2014. Gerakan Mahasiswa Sebagai Kelompok Penekan: Keluarga Mahasiswa UGM dari Masa Orde Lama hingga Paska-reformasi. Yogyakarta: PolGov.

Ingleson, John. 2015. Buruh, Serikat, dan Politik: Indonesia pada 1920an-1930an. Tangerang: Marjin Kiri.

Jackson, Elisabeth. 2005. “Warring Words”: Students and State in New Ordes Indonesia, 1966-1998. Thesis of Doctor of Philosophy of the Australian National University.

Kasenda, Peter. 2014. Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikiran Kiri & Revolusi Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu.

Lane, M. 2012. Malapetaka Di Indonesia; Sebuah Esei Renungan Tentang Pengalaman Sejarah Gerakan Kiri. Jakarta: Djaman Baroe.

Lane, Max. 2014. Unfinished Nation. Yogyakarta: Penerbit Djaman Baroe.

Li, Tania Murai. 2012. The Will to Improve:Perencanaan, Kekuasaan, dan Pembangunan di Indonesia. Tangerang: Marjin Kiri.

Luhulima, James. 2007. Menyingkap Dua Hari Tergelap di Tahun 1965: Melihat Peristiwa G30S dari Perspektif Lain. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Miftahuddin. 2004. Radikalisasi Pemuda: PRD Melawan Tirani. Jakarta: Desantara.

Manan, Munafrizal. 2005. Gerakan Rakyat Melawan Elit. Yogyakarta: Resist Book.

Novianto, Arif. Kurniawan, Lukman & Wibawa, Samodra. 2015. Krisis Kapitalisme dan Dinamika Gerakan Kiri Dalam Pemilu: Perbandingan Indonesia dan Yunani. Penelitian bersama Pusat Studi Jerman UGM.

Raillon, Francois. 1985. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974. Jakarta: LP3ES.

Robinson, Richard & Vedi R Hadiz. 2004. Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets. London & New York: RouledgeCurzon.

Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra

Semma, Mansyur. 2008. Negara dan Korupsi: Pemikiran Mochtar Lubis atas Negara, Manusia Indonesia dan Perilaku Politik. Jakarta: Yayasan Obor

Shiraishi, Takashi. 2005. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Soekito, Wiratmo. 1983. Keterlanggaran Batas-batas Kultural, in Mahasin, Aswab & Natsir, Ismed (ed). Cendikiawan dan Politik. Jakarta: LP3ES. pp. 164-186.

Suharsih & Kusuma, Ignatius Mahendra. 2007. Bergerak Bersama Rakyat: Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia. Yogyakarta: Resist Book.

Tornquist, Olle. 2011. Penghancuran PKI. Jakarta: Komunitas Bambu

Usman, sunyoto. 1999. Arah Gerakan Mahasiswa: Gerakan Politik Ataukah Gerakan Moral. Jurnal Ilmu Sosial & Ilmu Politik, vol.3, no.2: pp.146-163.

 

Website

Bem Indonesia. 20 Oktober 2015. BEM Seluruh Indonesia Berkeliling Jakarta Undang Rakyat Hadir Pada Sidang Rakyat 28 Oktober 2015. http://bemindonesia.org/index.php/2015/10/21/bem-seluruh-indonesia-berkeliling-jakarta-untuk-undang-rakyat-hadir-pada-sidang-rakyat-28-oktober-2015/ diakses pada 04 November 2015.

BEM Indonesia. 28 Oktober 2015. Sidang Rakyat di Depan Istana Putuskan Jokowi-JK Gagal!. http://bemindonesia.org/index.php/2015/10/28/sidang-rakyat-di-depan-istana-negara-putuskan-jokowi-jk-gagal/ diakses pada 04 November 2015.

Forlap Dikti. – 2015. Grafik Jumlah Mahasiswa Aktif* Berdasarkan Jenis Kelamin. http://forlap.dikti.go.id/mahasiswa/homegraphjk diakses pada 01 November 2015.

Utama, Wisnu Prasetya. 01 Oktober 2015. Media dan Kebangkitan PKI. http://geotimes.co.id/media-dan-kebangkitan-pki/ diakses pada 28 Oktober 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: