Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Krisis Kapitalisme 2008 dan Bangkitnya Gerakan Kiri: Studi Dinamika Gerakan Partai Syriza di Yunani

jurnal sosial politik fisipol ugm

Abstract: The economic crisis which hit Greece was in 2008 helped to flow into a political crisis. The old political oligarchy that since 1974 up to 2010 alternately dominate the Greece that is PASOK party and the New Democracy party suffered shocks that lead to new political dynamics. Austerity policies and neoliberal reforms under the moderation of the Troika (European Central Bank, European Union, and International Monetary Fund) have created a decrease in the level of welfare and the economic crisis are instead growing. That situation creates a distrust of the Greek people, until they are searching for an alternative system other than capitalism. At that time the idea of socialism promoted by Syriza party has been able to gain influence in the mass base, to deliver Syriza-led government with 36.3 percent of voters in Election 2015. This paper atempts to elaborate on the strategies used by the Syriza party and also weaknesses in the strategy. 

Keywordsthe economic crisis; vanguard party; social democrats party; Syriza; elections.


Abstrak

Krisis ekonomi yang menghantam Yunani pada tahun 2008 turut mengalir menjadi krisis politik. Oligarki politik lama yang sejak tahun 1974 sampai tahun 2010 bergantian menguasai Yunani yaitu partai PASOK dan partai New Democracy mengalami goncangan hingga memunculkan dinamika politik baru. Kebijakan pengetatan anggaran dan reformasi neoliberal dibawah moderasi dari Troika (Bank Sentral Eropa, Uni Eropa dan International Monetary Fund) telah menciptakan penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat serta membuat krisis ekonomi semakin membesar. Keadaan tersebut menciptakan ketidakpercayaan dari rakyat Yunani, hingga mereka mencari sistem alternatif lain dari kapitalisme. Pada saat itu gagasan sosialisme yang diusung oleh partai Syriza telah mampu mendapatkan pengaruh di basis massa, hingga mengantarkan Syriza memimpin pemerintahan dengan 36,3 persen suara dalam Pemilu 2015. Tulisan ini mencoba mengelaborasi tentang strategi yang digunakan oleh partai Syriza dan juga kelemahan dalam strategi tersebut.

Kata kunci: krisis ekonomi; partai pelopor; partai sosial-demokrat; Syriza; pemilihan umum.

Pendahuluan
Sejak kelahirannya kapitalisme tidak dapat dipisahkan dari berbagai krisis yang menyertai (Marx, 2004; Gorz, 2005; Harvei, 2010). Bahkan Marx meramalkan kapitalisme akan runtuh akibat dari krisis internal yang dialami. Namun pada perkembangannya ternyata kapitalisme dapat terus bertahan dan berhasil menghindari setiap krisis. Menurut Francis Fukuyama (1992) setelah berakhirnya perang dingin sejarah dunia telah berakhir dengan kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai pemenangnnya.

Landasan tesis dari Fukuyama tersebut tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa telah runtuhnya tembok Berlin dan pecahnya negara Uni Soviet yang dianggap merepresentasikan kekuatan sosialis pada masanya. Apalagi ditambah dengan kenyataan lain bahwa beberapa negara yang sering dianggap beraliran sosialis atau kiri saat ini juga tengah pada masa sulit. China dan Vietnam, negara dengan partai tunggal yang terus bertahan namun sistem ekonomi yang dijalankannya menjadi semakin sulit berdasarkan pada pasar kapitalis atau bergerak menuju kapitalisme Negara. Di Korea Utara tetap terjadi pengkultusan personalitas yang totalitarian namun banyak penduduknya yang hidup dalam kemiskinan. Di Kuba muncul keragu-raguan apakah rezim akan tetap bertahan hidup setelah Castro meninggal (Newman, 2006: 209). Sedangkan di Venezuela yang tengah menuju ke cita-cita sosialisme abad-21 kini tengah berada pada konflik akibat serangan dari kaum kanan yang disokong kekuatan negara neoliberal (Martin, 2014).

Namun menjadi tidak berdasar jika menganggap bahwa gerakan kiri atau pertarungan ideologis itu telah tidak ada lagi. Kapitalisme yang erat kaitannya dengan kontradiksi pada kenyataannya telah memunculkan berbagai bentuk perlawanan. Pada tahun 1994 di negara bagian Chiapas di bagian selatan Meksiko muncul gerakan perlawanan bersenjata oleh para petani dari Zapatista Army of National Liberation yang dipimpin oleh Marcos. Gerakan ini menentang North America Free Trade Agrement yang dianggap sebagai “death sentence” bagi etnis pribumi Meksiko (Hiariej, 2012: 213-219). Sedangkan di kawasan Amerika Latin, pemimpin berideologi kiri mulai memenangkan ajang pemilu di negaranya masing-masing. Ada Chavez di Venezuela, Evo Moralez di Chili, Lula di Brazil serta Rafael Correa di Ekuador (Flamini, 2010: 26).

Itu memperlihatkan bahwa masih tetap mencuatnya gerakan kiri ini dalam dinamika ekonomi politik kekuasaan, apalagi ketika krisis kapitalisme muncul. Pada awal abad ke-21 seiring timbulnya krisis inheren kapitalisme yang melanda Eropa, gerakangerakan kiri kembali menguat dengan agenda sosialismenya. Di Yunani ada partai Syriza yang merupakan koalisi kiri radikal berhasil merebut pemerintahan dengan 36,3 persen suara pada Pemilu Januari 2015, kemudian di Spanyol partai Podemos menjadi oposisi yang begitu kuat bagi pemerintah Spanyol dengan gerakan Indignados (Iglesias, 2015).

Dalam setiap krisis imanen kapitalisme, gerakan kiri memang mencuat sebagai alternatif lain dari kapitalisme. Studi partai Syriza di Yunani yang mampu memenangkan pemilu Yunani pada tahun 2015 dengan 36,3 persen suara cukup menarik untuk diteliti, karena keadaan ekonomi-politik Yunani yang berada di jantung kapitalisme dunia. Yunani adalah Negara terparah yang terkena imbas krisis ekonomi pada tahun 2008 dan juga Negara pertama paska-krisis yang dipimpin oleh partai berideologi kiri.

Latar belakang sejarah politik Yunani memiliki kemiripan dengan yang terjadi di Indonesia. Pada tahun 1949 ditengah perang saudara yang dimenangkan oleh kubu militer, gerakan kiri di Yunani disingkirkan dan dihancurkan oleh penguasa militer. Partai Kommounistikó Kómma Elládas atau The Communist Party of Greece (KKE) kemudian dilarang, anggota mereka ditangkapi. Pada tahun 1955 ada 4.498 tahanan politik dari kaum kiri dan 898 orang
buangan; pada tahun 1962 ada 1.359 tahanan dan 296 orang buangan (Voglis, 2002: 223). Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Pada tahun 1965 terjadi pembebunuhan enam jenderal dan satu perwira yang kemudian dimanfaatkan oleh faksi militer pro-Soeharto untuk menuding PKI sebagai dalang pemberontakan (Roosa, 2008; Tornquist, 2011). Peristiwa tersebut menjadi pembenaran bagi militer pro-Soeharto untuk menyingkirkan dan membunuh orang-orang kiri serta soekarnois (Lane, 2014). PKI dan organisasi
underbow-nya dibubarkan dan dilarang, sementara sekitar 500.000 sampai 2 juta orang kiri dibunuh tanpa pengadilan (Lane, 2014).

Kemunculan Syriza di Yunani pada tahun 2004 seperti terbentuknya Partai Rakyat Demokratik (PRD) di Indonesia pada tahun 1996. Kedua partai tersebut merupakan partai yang terbentuk melalui koalisi yang dilakukan oleh beberapa organisasi, aktivis, dan eksponen gerakan kiri yang lain. Baik Syriza dan PRD juga terlibat dalam pemilu. Namun kedua partai tersebut mendapatkan hasil yang berbeda. Setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997/1998 yang membuat rezim Soeharto jatuh dan diadakan Pemilu pada tahun 1999, PRD tidak mampu meloloskan satu pun wakilnya ke parlemen. Sedangkan di Yunani paska krisis ekonomi 2008, dalam pemilu yang berlangsung pada tahun 2012 Syriza menjadi dua besar pemenang pemilu dan pada tahun 2015 Syriza memenangkan pemilu. Kemenangan yang didapat oleh Syriza juga menyimpan kontradiksi dan permasalahan dalam strategi yang mereka gunakan. Dengan membuka diri menjadi partai kiri luas telah membuat Syriza mulai menjauh dari tujuan sosialisme yang mereka cita-citakan. Begipula yang terjadi pada PRD. Ketika PRD menggunakan strategi partai kiri luas, kemudian ideologi dari PRD pun bergeser dari sosialisme menjadi nasionalis yang berlandaskan pada figur Soekarno. Dengan pertimbangan diatas, maka penelitian terhadap dinamika gerakan Syriza di Yunani ini menjadi menarik untuk diteliti.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Artikel Jurnal Ilmiah ini telah dimuat dalam JSP – Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Volume 19, Nomor 3, Maret 2016. Ditulis oleh: Arif Novianto, Lukman Kurniawan, & Samodra Wibawa.

*** Untuk dapat membaca artikel papers ini secara lengkap, dapat didownload secara gratis disini > Download at Academia ***
Terimakasih.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: