Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Padmi, Bunga Perjuangan yang Gugur di Musim Hujan

Mengapa ada bunga yang gugur di musim hujan?
Mengapa ada air mata saat menyambut keberanian?
Mengapa harus ada duka mengiringi pengorbanan?

(…)sebelum berangkat ikut aksi cor kaki, dia (Padmi – pen) telah menelpon saya dan berkata untuk pamit berjuang membela ibu bumi” ujar Roshad (suami Padmi), lelaki 52 tahun yang berambut ikal dan kulit sawo matang. Tidak tampak sedikitpun kesedihan di raut wajahnya. Matanya berbinar tajam penuh keyakinan, seolah menunjukan, bahwa sang istri yang dicintai tidak pergi dengan sia-sia.

Ibu Padmi gugur untuk membela tanah air dan saya telah mengiklaskan kepergiannya” ungkapnya dengan suara penuh ketegaran.

Saat ayam berkokok membangunkan matahari, kabar duka itu mengalir dari bukit-bukit menuju samudra duka cita. Yu Padmi tersungkur di dekat lift kantor YLBHI, tempat berteduh para aktivis – setelah pagi sampai sore, berjejer di Depan Istana Negara dengan kaki di cor semen. Dia berteriak kesakitan dengan tangan memegangi dada kirinya. Tubuhnya melemah, jantungnya berdetak tak karuan, makanan diperutnya terlontar keluar. Raganya tak lagi mampu menampung semangat juangnya.

Yu Padmi, entah rasa sakit seperti apa yang menderamu. Saat orang-orang seusiamu tengah menikmati masa tuanya, kau relakan tubuhmu dilalap panas matahari dan dibekap dinginnya hujan. Kau nekad dengan sepenuh hati, memasung kedua kakimu, dengan semen, di depan Istana Negara.

Bersama 54 orang aktivis lain, kau duduk di kursi, yang berderet memanjang. Engkau tidak sedang dipaksa berbaris rapi, seperti para aparat yang menyeret kawan-kawanmu ke sisi jalan, agar alat berat pabrik semen leluasa berjalan. Kau juga tidak sedang duduk di kursi empuk wakil rakyat yang membuat mereka terlelap, dibuai indahnya mimpi-mimpi pertumbuhan ekonomi, hingga mereka lupa, kehidupan rakyat yang seharusnya dilindungi.

Ada pesan yang ingin kau sampaikan ke penguasa Yu: pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng akan membelenggu, seperti dua kotak semen yang membelenggu kakimu.

Yu Padmi mengapa kau menyiksa dirimu? Keberanian apa yang telah tertanam di dirimu hingga berani melakukan itu? Kau tinggalkan rumah, kau tinggalkan sawah, kau tinggalkan keluargamu, atas nama keberanian demi perjuangan yang kau yakini itu.

Beberapa orang mencibir dan mengutukmu. Menilaimu bodoh, perempuan tak tahu diri, atau bahkan korban provokasi. Lewat kebulatan dan ketegaran tekadmu, kau menampar mereka dan mendobrak adat lama yang menempatkan perempuan sebagai manusia kelas dua. Kau lawan konstruksi yang membelenggumu karena kau seorang perempuan, bahwa kaummu lemah, tak berdaya, selalu nrimo.

Kau berbeda. Kau tidak mau tinggal diam. Tidak sembunyi di bawah sangkaan-sangkaan yang mengkerdilkan. Dengan berani kau berlawan; melawan penguasa yang ingin merusak bumi, melawan pandangan-pandangan tidak adil atas kaummu – perempuan.

Yu Padmi, kau mengajarkan pelajaran berharga bagi kaum tertindas, memperjuangkan kehidupan yang adil, tidak bisa dengan berpangku tangan dan ongkang-ongkang kaki. Tidak bisa juga hanya dengan berlutut menengadah ke langit, tapi harus bergerak secara sadar dan berani.

Yu Padmi, kini ibu bumi telah memelukmu hangat, menerimamu dengan terbuka, seperti keiklasanmu memperjuangkannya. Jantungmu berhenti berdetak, saat mobil ambulans dengan buru-buru hendak ke Rumah Sakit, melewati jalanan lenggang Jakarta.

Ingatan & Pelecut Perjuangan

Roshad tidak pernah menyangka telpon darimu di siang itu (20 Maret 2017) adalah percakapan yang terakhir. Saat itu dia sedang perjalanan menuju Riau untuk merantau.

Kau merestui suamimu merantau untuk mencari rejeki dan kau mendapatkan restu berjuang membela ibu bumi. Merantau adalah gambaran umum yang ada di Pati bagian Selatan. Mereka merantau ketika musim wiwit tanam usai. Mudik, ketika musim panen tiba.

Ketika suaminya merantau, Yu Padmi (dan juga petani lain) merawat padi, hingga tumbuh, menjadi makanan, yang kita makan. Sejak rencana pembangunan pabrik semen tiba, orang-orang disekitarmu resah. Ada hama baru yang mengancam persawahan dan ruang hidup manusia. Kau tak tinggal diam, kau melawannya, walaupun nyawa, menjadi taruhannya.

Dari depan rumahmu Yu, di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo – Pati, hamparan sawah terhampar luas dengan lekukan bukit kapur sebagai altar belakangnya. Parmi, tetangga depan rumahmu, sambil menunjuk ke hamparan sawah itu berkata bahwa di sana adalah wilayah yang akan didirikan pabrik semen. Sementara bukit kapur yang tampak hijau adalah area yang akan ditambang.

(Gambar di Monumen Perjuangan Yu Padmi. Sebelah Kiri adalah Suradi tetangga Yu Padmi; Tengah Saya; Kanan Rosyad, Suami Yu Padmi. Foto diambil pada 2 Mei 2017)

Sekitar 20 meter dari rumahmu, tampak tumpukan batu berwarna kuning kecoklatan tersusun rapi. Bangunan itu berbentuk persegi empat. Di masing-masing sudut, menjulang tumpukan batu yang membentuk lingkaran. Di tengahnya, berdiri batu besar dengan tinggi hampir dua meter.

Suamimu, mengajakku untuk bersama menuju tumpukan batu itu. “Ini adalah monumen untuk mengenang dan menjadi pengingat perjuangan ibu Padmi” ujarnya. Monumen yang masih belum bernama itu berdiri di atas tanah warisan orang tuamu. Batu besar di tengah monumen, akan dipahat mengikuti lekuk wajahmu Yu. Sebagai penanda, perjuangan membela ibu bumi tidak akan pernah berhenti, karena Yu Padmi masih tegak berdiri.

Saat itu mendung bergerak memenuhi langit. Tanda hujan akan segera tiba.

Di depan rumahmu, tumpukan karangan bunga bersandar pada sebatang pohon mangga. Tampak bunga-bunga yang menghiasinya telah layu. Namun, kulihat wajah-wajah orang-orang yang berjuang bersamamu, masih mekar berseri. Seraya berbicara bahwa perjuangan membela ibu bumi tidak akan pernah mati.

Membayangkan wajahmu, membuatku teringat sebuah puisi,

(…)
Padmi kau tak akan pernah mati
Cita-citamu abadi

Walaupun jantungmu berhenti berdetak
namun,
darahmu selalu mengalir,
di setiap denyut urat nadi
dan selalu hidup,
di Jantung Revolusi Kami!!!

Yu Padmi, kau adalah Padma, yang berarti bunga. Kau telah gugur, di tanah gersang kekuasaan, di bawah hujan bulan Maret, saat fajar menjelang. Yu, kau adlaah bunga, yang menebar serbuk-serbuk sari; menebarkan semangat di setiap denyut nadi perjuangan kami. Kau tumbuh subur, mekar berseri bersama ribuan orang yang berjuang membela bumi pertiwi.

Padmi, kini tak terasa 8 bulan berlalu sejak kepergianmu. Negara ini sedang tidak baik-baik saja. Harum perjuanganmu semerbak mewangi, tak luntur diterbangkan angin. Aku berdoa untukmu Yu, beriring dengan rintik air di musim penghujan ini, bahwa perjuangan ini tidak akan pernah sepi dalam kesendirian, membeku dibekap dingin, atau meleleh dilalap terik matahari.

Dalam doaku, bahagialah engkau di surga, bersama kelas pekerja lainnya.

 

*** Tulisan ini ditulis pada awal bulan Mei 2017, saat proses penulisan yang sudah 3/4nya selesai, file tulisan ini tidak tahu kemana. Pada 28 November 2017 file tulisan ini diketemukan. Saya kemudian melengkapinya hingga tulisan ini selesai seperti ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: