Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Memperbesar Tentara Cadangan Pekerja: “Bonus Demografi” dan Ekonomi Politik Negara Neoliberal Di Indonesia

Abstract: The “Demographic Dividend” in which the proportion of people with productive age (between 15-65 years old) is larger compared to the non-productive one will reach its peak in 2035. This “bonus” is considered by mainstream economists as an opportunity to develop a strong national economy. Reports made by the World Bank, ILO, and Bappenas wrote that such “demographic dividend” would be the golden bridge in which a country could reach progress and prosperity. If such opportunity is exploited successfully, Indonesia could see rising wages and be transformed into an industrial country. Using the approach of political-economy, this article discusses the issues faced by the reserve army of labour with the government policies made to welcome “demographic bonus” and its relations with the neoliberal state. The findings of this article are: 1) there’s a stagnancy in the process of agrarian transformation and reforms; 2) the “demographic dividend” bounded within the framework of a neoliberal state have enlarge the number of precarious workers, which are tantamount as reserve army of labour; and 3) the massive reserve army of labour functions as a specific mechanism for capitalism to control wages and to depoliticise working-class movement.

Keywords: Agrarian transformation; Demographic dividend; Neoliberal state; The reserve army of labour.

PENGANTAR

Piramida kependudukan Indonesia sejak tahun 2010, menunjukan peningkatan jumlah penduduk usia produktif (15 – 65 tahun) sehingga menjadi lebih besar dibanding dengan jumlah penduduk non-produktif. Pada tahun 2015 proporsi penduduk usia produktif Indonesia adalah 67,3%. Kondisi itu oleh ekonom mainstream disebut sebagai “bonus demografi” atau demographic dividend (Lee & Mason, 2006). Perubahan struktur kependudukan (demografi) tersebut juga berimplikasi pada menurunnya angka rasio ketergantungan menjadi 1,19% pada tahun 2015, puncaknya pada tahun 2035 yang mana angka rasio ketergantungan menjadi 0,6% (BPS, 2013: 31).

“Bonus demografi” yang tengah berjalan di Indonesia tidak berada di ruang kosong, tapi harus dihadapkan dengan tantangan multidimensional. Tantangan berupa kebijakan pasar tenaga kerja fleksibel yang telah membuat tidak adanya kepastian kerja bagi para buruh (Juliawan, 2010); proses depeasantization yang selama tahun 2003 – 2013 membuat sebanyak 5,07 juta rumah tangga petani di Indonesia tidak lagi bertani (Sensus Pertanian, 2013); permasalahan pekerja rentan di sektor informal yang cukup besar; angka indeks ratio gini yang meningkat dari 0,35 pada tahun 2008 menjadi 0,402 pada september 2015 (BPS, 2016); kebijakan pembangunan yang lebih menopangkan diri pada booming komoditas dibanding industri manufaktur padat karya; serta permasalahan yang lain. Permasalahan tersebut hadir dan meluas seiring dinamika reorganisasi kapital yang terjadi di Indonesia dari masa orde lama menuju reformasi (Hadiz, 2013).

“Bonus demografi” sebagai fenomena dan realita sosial, setidaknya ada dua cara pandang utama untuk menganalisis, mendiagnosa, dan menjalankan langkah intervensi melalui resep-resep kebijakan. Pertama, pandangan instrumentalis yang diwakili oleh para ekonom liberal dan lembaga seperti Bank Dunia, ILO, IMF, dan juga Pemerintah Indonesia (Hayes and Setyonaluri, 2015). Cara pandang instrumentalis ini melihat bahwa besarnya angkatan kerja produktif merupakan modal suatu negara untuk meningkatkan ekonomi mereka dan menjadi penopang menuju ke negara yang berbasis pada industrialisasi maju (Mason, 2005). Ekstraksi terhadap surplus tenaga kerja dimaknai sebagai mekanisme menggenjot ekonomi nasional. Sehingga karpet merah bagi proses akumulasi kapital menjadi piranti agar surplus tenaga kerja dapat terserap secara maksimal.

Mereka sering mencontohkan kasus di Korea Selatan dan Jepang pada pertengahan abad ke-20 yang mampu membangun ekonomi nasional dengan memanfaatkan “bonus demografi”. Resep yang ditawarkan pada strategi untuk menyerap melimpahnya angkatan kerja produktif dengan moderasi kebijakan neoliberal. Hal itu dilakukan dengan cara membuka lapangan kerja, pasar kerja fleksibel, dan penguatan sumber daya manusia dalam menghadapi persaingan pasar tenga kerja (BPPN, 2014).

Kedua, pandangan strukturalis. Melalui cara pandang ini maka unit analisis yang digunakan adalah sistem sosial dan relasi kekuasaan. “Bonus demografi” dilihat bukan sebagai realita sosial yang berjalan di ruang hampa, namun ada struktur dan ketimpangan kuasa yang menentukan kemana pendulum kebijakan merespon ledakan penduduk usia produktif ini berjalan. Ekonomi politik kekuasaan, idiologi yang dominan, dan juga relasi kelas sosial menjadi piranti kelas sosial mana yang akan diuntungkan dari langkah intervensi kebijakan yang dipilih.

Tulisan ini menggunakan pendekatan kedua dalam menganalisis “bonus demografi” dan ekonomi politik Negara neoliberal. Berupaya menjawab pertanyaan tentang apakah benar melimpahnya angkatan kerja di Indonesia ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membawa Indonesia menjadi negara industrialisasi? Jika maanfaat dari “bonus demografi” ini bergantung kepada kebijakan strategis pemerintah, maka mampukah kebijakan dalam moderasi negara neoliberal mengatasinya? Bagaimana struktur ekonomi Indonesia yang telah berjalan di bawah moderasi negara neoliberal? Siapa yang diuntungkan oleh melimpahnya tenaga kerja tersebut? Dan apa implikasinya?

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Artikel Jurnal Ilmiah ini telah dimuat dalam Jurnal Kawistara Universitas Gadjah Mada (UGM) Volume 7, Nomor 2, Maret 2017. Ditulis oleh: Arif Novianto.

*** Untuk dapat membaca artikel papers ini secara lengkap, dapat didownload secara gratis disini > Download at Jurnal Kawistara ***
Terimakasih.

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s