Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Category Archives: Esai

150 Tahun Das Capital & Kebingungan Para Penafsirnya

Saya masih mengingat masa-masa awal di tahun 2010/2011 ketika mulai mengenal Karl Marx dan kemudian memutuskan membaca “Das Kapital”. Sebuah buku yang oleh Engels (sahabat Marx) disebut sebagai “kitab sucinya kelas pekerja”. Sebelum itu, saya terlebih dahulu gandrung terhadap ajaran marhaenisme a la Soekarno. “Marhaenisme adalah marxisme dalam konteks Indonesia” begitu kurang lebih ungkap Soekarno. Marhaenisme dalam hal ini menjadi jembatan yang mengantarkan saya bergelut dengan marxisme.

Sebelum proses tersebut, dalam sebuah diskusi di Sekertariat BEM KM UGM, seorang kawan mengatakan bahwa kesalahan terbesar Marx adalah ketika dia menulis Das Capital. “Buku tersebut telah memberi tahu para kapitalis tentang kesalahan mereka, sehingga mereka dapat berbenah dan mampu bertahan hingga sekarang” ungkap kawan tersebut. Baginya Karl Marx sebagai orang bodoh yang memberi tahu kesalahan musuhnya akan bahaya yang akan dihadapi. Setelah itu si musuh berbenah dan marabahaya bagi si-musuh tidak jadi menimpa berkat anjuran Marx.

Read more of this post

Advertisements

Revolusi Pinguin & Gerakan Musim Dingin: Belajar dari Pengalaman Perlawanan Pelajar di Chile

Sumber: Internationalis(dot)org

“The University cannot be a business and education cannot be a commodity. The…future of the University is at stake, and in this battle we will not put our arms down”
– Camila Vallejo, President Confederación de Estudiantes de Chile (CONFECH) –

“Social protests…are an expression of our freedom and our power to reclaim the streets. They reflect our ability to express what we think…Street protests are weapons to achieve our goals, including education”.
-Alfredo Vielma, Former Leader Asamblea Coordinadora de Estudiantes Secundarios (ACES)-

Pendidikan di Indonesia pada awal abad ke-21 telah memasuki era baru. Jika sebelumnya sektor pendidikan dikerangkeng dengan rantai “birokrasi pendidikan”[i] oleh rezim Soeharto, pada era reformasi kerangkeng itu dilepas. Sektor pendidikan kini memasuki era yang disebut sebagai “neoliberalisasi pendidikan”.

Read more of this post

Syriza dan Drakula Troika: Dinamika Perjuangan Rakyat Yunani Keluar Dari Jeratan Neoliberalisme

karikatur kehancuran syriza perpecahan left unity front populer krisis yunani - cagle

Doc: Cagle Cartoons

Situasi di Yunani saat ini membawa mereka kembali pada garis terdepan pertarungan bersejarah. Di tahun 1821, Yunani menjadi negara pertama yang berhasil merdeka; kemudian di tahun 1940, mereka adalah pelopor pertempuran melawan fasisme; diawal tahun 1970-an perlawanan mereka terhadap regim diktator militer telah banyak menginspirasi perjuangan yang sama di Eropa Selatan dan Amerika Latin dalam menentang penindasan dan ketidakadilan dari diktator militer. Kini Yunani juga tengah berada dalam pertarungan bersejarah melawan regim otoritarianisme dibalik jubah Troika (Uni Eropa, Bank Central Eropa dan IMF) dengan jampi-jampi neoliberalisme dan sesajen resep pengetatan (austerity) anggaran yang mereka paksakan.

Syriza partai berkuasa di Yunani saat ini yang berhasil memenangkan Pemilu pada awal Januari 2015 dengan perolehan 36,3% suara telah membawa harapan (hope) bagi rakyat yunani tentang alternative lain dari kapitalisme. Badai krisis yang menghantam Yunani sejak tahun 2008 dan ditambah dengan kebijakan-kebijakan dari George Papandreou serta teknokrat Lucas Papademos dari PASOK (The Panhellenic Socialist Movement) yang berkoalisi dengan New Democracy (ND) yang memerintah Yunansi selama krisis datang telah membuat keadaan yang semakin parah. PASOK yang merupakan partai dengan garis politik kiri-tengah dan cenderung reformis, sedangkan ND partai sayap kanan konservatif menyikapi krisis ekonomi dengan melakukan arahan kebijakan yang berdasar pada resep-resep Troika.

Read more of this post

Menolak Paham Sesat Lokalitas Gerakan: Mengaitkan Kembali Memori Akar Sejarah Pergerakan Mahasiswa di Indonesia

Tanggapan Untuk Andre Barahamingerakan mahasiswa indonesia buruh petani kapitalisme komunis rakyat melawan elit

MEMBACA tanggapan Andre Barahamin[1] terhadap tulisan saya di IndoPROGRESS[2], bagi saya memiliki beberapa poin yang cenderung akan memukul mundur (regresif) arah gerakan mahasiswa itu sendiri. Alih-alih menyodorkan anti-tesis terkait perbaikan arah gerakan mahasiswa sekarang, bagi saya tanggapan tersebut malahan seperti remaja galau yang menolak belajar dari masa lalu. Mereka yang menganggap tidak penting dan membuang-buang waktu untuk belajar dari sejarah. Kemudian hanya asyik dengan dunianya sendiri tanpa melihat realitas di sekitarnya.

Ada dua poin utama dari Barahamin dalam tanggapannya, yaitu menolak ‘memori dan romantika’ dalam gerakan mahasiswa dan yang berkarakter regresif adalah lontaran proposal yang menekankan gerakan mahasiswa untuk mengutamakan masalah lokalitas dalam gerakan mereka, yaitu dengan menentang komodifikasi universitas. Dalam beberapa argumen, saya sependapat dengan Barahamin, seperti tawarannya untuk mendorong kajian-kajian ilmiah terhadap sejarah gerakan mahasiswa. Hal ini tepat jika melihat bahwa saat ini ada permasalahan serius di universitas yang berpijak pada komersialisasi pendidikan. Namun tawaran tersebut seharusnya tidak mengurung gerakan mahasiswa dalam lokalitas kampus semata.

Read more of this post

Kemana Arah Gerakan Mahasiswa Sekarang?: Dari Refleksi Menuju Aksi

demo mahasiswaPendahuluan

Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-81 di tahun 2006, Pramoedya Ananta Toer mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menarik: mengapa pemuda yang dengan gemilang menyingkirkan rezim Soeharto, tidak menghasilkan tokoh politik nasional? padahal pemudalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting disepanjang sejarah Indonesia serta tampil menjadi tokoh politik nasional. Mengapa sekarang tidak?.

Pertanyaan tersebut mencoba mencari apa yang terjadi sebenarnya dalam gerakan mahasiswa atau pemuda ini di era reformasi. Para mahasiswa bersama rakyat yang telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orba. Mereka tidak menghasilkan tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya gerakan mobilisasi massa yang begitu besar yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh konservatif yang masih dalam enclave orba seperti Amien Rais, Gus Dur dan Megawati pada detik-detik terakhir. Sehingga agenda reformasi tak mampu mendorong perubahan besar, karena kroni-kroni orba masih tetap bergentayangan di pusat-pusat pengambilan keputusan.

Read more of this post

Harta, Takhta dan Wanita

Suara Merdeka 08 Maret 2015

Sumber: Epaper Suara Merdeka 08 Maret 2015

Selama hampir setahun terakhir, film Mahabarata produksi India yang ditayangkan dalam salah satu stasiun televisi lokal Indonesia memperoleh rating tinggi artinya banyak digemari oleh masyarakat. Namun entah mengapa saya tidak sedikitpun tertarik untuk menontonnya. Alasannya sederhana, karena dalam kisah Mahabarata di film tersebut tidak memperlihatkan dinamika kehidupan rakyat kecil dan hanya berkutat pada perebutan “Harta, Tahta dan Wanita”.

Cerita Mahabarata memang adalah warisan budaya feodal dan bersifat patriarkis. Di dalamnya ada pengkotak-kotakan secara harfiah terhadap kehidupan manusia. Ceritanya hanya berisi kegaduhan dari elit untuk memperebutkan “Harta, Tahta dan Wanita”. Itu adalah kebudayaan elit yang tak menampakan dinamika kesulitan hidup rakyat. Sudut pandangnya yang dari kelas atas membuat masyarakat yang menontonnya hanya dibimbing untuk menginternalisasi nilai-nilai ketimpangan dan pengkotak-kotakan tidak untuk mencapai kesadaran akan realita kehidupan yang ada.

Read more of this post

Dalih Kemalasan Rakyat: Logika Tanam Paksa (Cultuurstelsel) & Kenaikan BBM

tanam paksa

Doc: Menulis Sejarah

MENCOBA membandingkan tanam paksa dengan kenaikan BBM memang terdengar agak aneh. Namun ada hal yang cukup penting yang melatarbelakangi keduanya, yaitu dalih untuk membuat rakyat tidak lagi malas.

Baru-baru ini menteri ESDM Sudirman Said, mengatakan bahwa harga bahan bakar minyak yang murah menyebabkan masyarakat malas dan enggan keluar dari zona nyaman. “Presiden Jokowi akan melakukan pekerjaan sulit karena membuat masyarakat keluar dari zona nyaman” (Tempo, 02/11/14). Dengan dinaikannya BBM, maka akan membuat rakyat lebih bekerja keras serta keluar dari kemalasannya, begitu logika yang ia pakai sebagai bagian pembenaran kenaikan harga BBM ini.

Nah, logika yang sama juga dipakai oleh Van Den Bosch, ketika dia ditugaskan ke Hindia Belanda sebagai Gubernur Jendral pada 1830, yaitu dengan kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) yang dijalankannya. Bagi Van Den Bosch, kapitalisme menyimpan kontradiksi internal, salah satunya adalah kurangnya kebiasaan kerja keras manusia yang tak dapat diselesaikan dengan mekanisme kekuatan pasar. Kenyataan itulah yang dilihat Van Den Bosch pada masyarakat miskin di Hindia Belanda (Li, 2012).

Read more of this post

Satriya Piningit

semar mbangun kahyangan mangejawantah pitutur pitudug pitulungan punakawan wayang

Doc: Wayang(dot)wordpress(dot)com

Perkara yang tak pernah absen dalam dinamika hiruk pikuk disetiap ajang kontestasi politik di Indonesia sampai sekarang ini adalah pencari-carian terhadap sosok sang Satriyo Piningit. Apalagi bagi masyarakat jawa yang masih memegang nilai-nilai kebudayaan jawanya.

Sosok satriyo piningit kali pertama muncul berdasarkan ramalan (jangka) Jayabaya, Maharaja di Kediri pada 1135-1157 M. Ramalan ini menggambarkan satriyo piningit sebagai orang yang jujur, cerdas dan peduli terhadap sesama.

            Kepercayaan terhadap sosok satriyo piningit ini pasti akan muncul didalam masyarakat yang masih bersifat tradisional dan semakin mekar karena tumpukan rasa kekecewaan terhadap para pemimpin yang ada sekarang. Jurang kemiskinan, penderitaan dan ketidakberdayaan adalah pemicu utama munculnya imaji akan datangnya juru selamat.

Penafsiran siapa satriyo piningit berdasar jangka Jayabaya yang sering muncul selama ini memang lebih mengarah ke urutan presiden Indonesia sampai yang ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Namun saya berupaya untuk menafsirkan ramalan Jayabaya tentang satriyo piningit yang berisi tujuh pitutur ini secara berbeda.

Read more of this post

Krisis Kapitalisme & Upaya Perebutan Ruang Hidup Rakyat di Pegunungan Kendeng Utara Pati – Jawa Tengah

24-RageAginstBulldozer-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

Selama kurang lebih 200 tahun, masyarakat Industri Kapitalis telah berkembang melalui berbagai aksi penjarahan dan penghancuran terhadap sumber daya alam yang ada di bumi ini. Imperialisme yang dalam pengertian Lennin merupakan tahap tertinggi dari Kapitalisme telah berhasil menciptakan jalan bagi Kapitalisme ke seluruh penjuru Dunia (Tornquist, 2010: 18). Proses imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara barat dengan menjarah Sumber Daya Alam (SDA) dari negeri Jajahan telah membuat ekonomi negaranya seperti sekarang ini. Maka tak salah kalau Mahatma Gandhi mengungkapkan bahwa kalau negeri yang dulu terjajah ingin menyamai ekonomi dari negara barat, maka negeri terjajah ini harus melakukan Imperialisme selama 100 tahun dulu ke negara barat ini.

Salah seorang mahasiswa pertambangan dari Institut Terknologi tertanama di Indonesia pernah mengungkapkan bahwa bumi ini diibaratkan sebagai seekor kambing gemuk, yang kalau dibiarkan pasti akan mati percuma. Begitu pula dengan bumi tandasnya, kalau dibiarkan dan tidak dieksploitasi secara membabi-buta juga pasti akan menjadi hancur sia-sia (Wacana, edisi 26 tahun XXI: 02). Frame berfikir tersebut sangat selaras dengan logika dari kapitalisme kontenporer. Artinya roda produksi harus terus bergerak, ekspansi modal harus terus diputar dan ekploitasi terhadap bahan mentah pun harus terus dilakukan. Ketika proses tersebut berhenti, maka terompet krisis Kapitalisme pun ditiupkan.

Pola produksi dari Kapitalisme yang bersifat anarkis memang telah membuat dunia sedang berada pada titik nadir. Berbagai kelangkaan terhadap bahan-bahan sumber daya alam yang tak terbaharukan seperti minyak, batu bara, logam dan bahan tambang yang lain telah semakin mendekat dikala pola kehidupan tetap seperti ini. Maka para generasi penerus kita pun hanya akan menggigit jari karena tak dapat menikmati manfaat dari sumber-sumber kehidupan yang diciptakan dengan gratis oleh bumi kita ini sebagai akibat keserakahan dibalik selimut kompetisi Kapitalisme. Dan hal yang tak pernah terlepas dari proses moda produksi Kapitalisme selain kerusakan ekologi adalah sebuah proses proletarisasi dengan cara penyingkiran masyarakat terhadap alat-alat produksinya (primitive accumulation), perampasan hak-hak dasar hidup masyarakat yang hasil akhirnya adalah kemiskinan, penderitaan dan penindasan.

Read more of this post

Pendidikan Untuk Semua: Mengembalikan Hakikat Pendidikan di Tengah Problematika Kapitalisme Pendidikan di Indonesia

Pendahuluan

Di era sekarang ini, kapitalisme tumbuh dan berkembang menjadi idiologi dominan dan memiliki pengaruh besar di dalam berbagai sendi-sendi kehidupan manusia. Pengaruh kapitalisme kini telah menjalar dan tidak hanya di dalam ranah ekonomi semata, tetapi telah merambah di wilayah yang lain, termasuk ranah pendidikan. Salah satu wujud nyata dari kehadiran Kapitalisme yang mengungkung ranah pendidikan ini dapat terlihat dari semakin menyeruaknya budaya Positifisme (Rosyid dkk, 2013: 68-75) di tengah kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Budaya Positifisme ini merupakan budaya yang dibawa oleh masyarakat kapitalis dunia. Dan kehadirannya dapat teridentifikasi ketika terjadi perubahan frame berfikir masyarakat di dalam melihat pendidikan. Yang dimana pendidikan kemudian hanya dimaknai sebagai sebuah jenjang untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak dan hakikat dari pendidikan tidak lagi dimaknai sebagai proses untuk menstimulasi “kesadaran kritis” dan mengajarkan para peserta didik untuk menemukan kebenaran bagi dirinya sendiri (Chomsky, 2013).

Problematika Pendidikan a la Kapitalis

Menurut pandangan kaum Eksistensialis, manusia dilahirkan didunia ini dalam keadaan yang tidak berdaya, dia terlempar ke dunia ini dan terpaksa bertanggung jawab terhadap keberadaannya (Tilaar & Nugroho, 2009: 20-43). Keadaan tersebutlah yang membuat manusia harus turut berjuang didalam menentukan dan mengangkat keberadaannya di dunia ini. Karena manusia seyogyanya merupakan pusat kehidupan di dunia ini, yang memberikan makna terhadap perubahan dan perkembangan dunia.

Read more of this post