Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Category Archives: Resensi Buku

Mitos Kemajuan di Balik Angka Pertumbuhan

Judul: Problem Domestik Bruto: Sejarah dan Realitas Politik di Balik Angka Pertumbuhan Ekonomi
Penulis: Lorenzo Fioramonti
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun: I, 2017
Tebal: xii + 220 halaman
ISBN: 978-979-1260-73-2

Dari sudut ruang seminar hingga pidato kenegaraan, produk domestik bruto selalu digunakan sebagai indikator utama kemajuan sekaligus kesejahteraan sebuah negara. PDB menjelma sebagai mantra yang mendominasi pemberitaan di media massa dan perdebatan publik ketika berbicara tentang cara mencapai kemakmuran.

Kuasa negara-negara di dunia bahkan diurutkan berdasarkan jumlah produk domestik bruto yang dimiliki, seperti dengan dibentuknya kelompok G-8 dan G-20 yang merupakan gabungan negara dengan PDB 8 besar dan 20 besar dunia. Indonesia dengan jumlah PDB tahun 2016 sebesar Rp 12.406,8 triliun menjadi negara dengan PDB terbesar ke-16. Kondisi itu membuat Indonesia bergabung dengan G20. Untuk mencapai visi Indonesia Emas tahun 2045, pemerintah bahkan menargetkan Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-4 di dunia. Untuk mencapainya, PDB menjadi tolok ukur. Pemerintahan Joko Widodo berupaya menggenjot PDB Indonesia agar naik 10 kali lipat dan menembus angka Rp 120.000 triliun pada tahun 2045.

Read more of this post

Advertisements

Jejak Langkah Indonesia Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya & Embrio Kebangsaan

Judul: Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik
Penulis: Max Lane
Penerbit: Penerbit Djaman Baroe, xii + 196 hlm, 2017

Salah jika Indonesia sebagai bangsa tidak hadir di Bumi Manusia. Novel Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, & Rumah Kaca) adalah laboratorium yang menggambarkan pergulatan rakyat Indonesia membangun apa yang disebut sebagai nasion atau bangsa.

Kata “Indonesia” memang tidak ada dalam sekitar 2.000 halaman novel kebangkitan nasional itu. Namun, itu adalah kehebatan Pram sebagai penulis. Secara sadar dia menunjukan bahwa Indonesia sebagai bangsa bukan hadir akibat proses alamiah. Entitas bangsa itu dibentuk untuk mencapai proses revolusi sosial melalui berbagai perjuangan dan tetesan darah. Sebuah proses pembentukan struktur sosial yang benar-benar baru yang pada perkembangannya diberi nama “Indonesia”. Bagaimana pembentukan Indonesia sebagai bangsa? Mengapa jejak langkah Indonesia hadir di Bumi Manusia? Apa yang membedakan analisa Pram tentang sejarah pergerakan sosial Indonesia dibanding analis yang lain? Apa yang membuat embrio bangsa Indonesia luluh lantak pada era kekuasaan Soeharto? Apa peran penting karya-karya Pram pada konteks sekarang? Read more of this post

Cengkeram Mesin Anti-Politik dan Depolitisasi Pembangunan

Cover buku James Ferguson - the anti-politics machineReview Buku: The Anti-politics machine: “Development,” De-politicization, and Bureaucratic Power in Lesotho. JAMES FERGUSON. Cambridge and New York: Cambridge University Press, 1997 (Fourth Printing). xvi + 320 pp., maps, tables, figures, notes, references, index.

Buku James Ferguson “The Anti-Politics Machine: “Development, Depoliticization, and Bureaucratic Power in Lesotho” merupakan salah satu karya besar di penghujung abad ke-20 yang telah menciptakan diskursus baru tentang depolitisasi “pembangunan” (menggunakan tanda kutip pada seluruh isi buku tersebut untuk menunjukan sifat historis terbentuknya pembangunan ini). Buku ini adalah hasil dari disertasi Ferguson yang meneliti tentang kegagalan “proyek pembangunan pedesaan” Thaba-Tseka di Lesotho pada rentang waktu tahun 1975 – 1984 yang didanai oleh Bank Dunia dan CIDA (Canadian International Development Agency) (hal.09). Dalam buku ini membedah peran aparat konseptual tentang bagaimana ide “pembangunan” dalam prakteknya diciptakan, bagaimana mereka melakukannya, dan efek apa yang akhirnya dihasilkan (hal.xvi).

Read more of this post

Bagaimana Buruh Melawan Penghisapan atas Dirinya

Cover buruh menuliskan perlawanannyaPenulis: Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami, Fresly Manulang, Salsabila (nama samaran), Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.
Editor: Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.
Penerbit: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) bekerjasama dengan Tanah Air Beta, 2015. 400 halaman +xviii

Kemunculan organisasi-organisasi buruh di Indonesia –terutama berakar pada sektor transportasi dan perkebunan- yang dimulai pada tahun 1910-an memainkan peran penting dalam serangkaian perjuangan kemerdekaan. Politik aksi dan mogok mulai digunakan untuk menekan pemerintah kolonial agar memenuhi perbaikan hidup mereka hingga berujung pada tujuan kemerdekaan Indonesia. Setelah era kemerdekaan, melalui SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), gerakan buruh terlibat aktif dalam upaya menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda serta perjuangan menuntaskan “revolusi nasional Indonesia”. Namun, peristiwa 1965 dan lahirnya rezim Orde Baru membuat tradisi buruh berserikat dihancurkan dengan politik “masa mengambang” (floating mass). Pemerintah menerapkan politik serikat buruh tunggal yang dikontrol penguasa.

Read more of this post

Patriarki & Perjuangan Emansipasi Wanita

Sampul Bumi ManusiaBumi Manusia” merupakan sebuah karya sastra yang sangat besar yang pernah dituliskan oleh seorang sastrawan hebat yang pernah terlahirkan di Indonesia ini yaitu Pramoedya Ananta Toer. Sosok yang lahir di Blora – Jawa Tengah pada 6 februari 1925 ini adalah salah satu anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dilekatkan sebagai salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia pada era Orde Baru.

Seiring meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30S) atau yang menurut Soekarno disebut sebagai Gerakan Satu Oktober atau Gestok, telah membuat lelaki yang akrab disapa Pram ini dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Namun penjara tak lantas membuat Pram harus berhenti menulis, baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional (hlm 1). Bahkan hampir separuh perjalanan hidupnya dipaksa secara tak manusiawi untuk hidup dari penjara ke penjara.

Didalam penjara itulah (tepatnya di pulau buru, Agustus 1969 – 12 November 1979), Pram berhasil menyelesaikan tulisan Novel yang dinamai sebagai Teatrologi Buru. Novel tersebut terdiri dari  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain itu juga terdapat berbagai karya yang dihancurkan paksa oleh rezim orba sebelum mencapai percetakan.

Bumi Manusia yang merupakan bagian pertama dari teatrologi buru tersebut berlatar kisah pada era akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 ketika penjajahan Hindia Belanda masih berkuasa. Bahkan novel Bumi Manusia ini pun juga telah diterbitkan di 33 bahasa. Minke, Nyai Ontosoroh atau Sanikem dan Annalies merupakan tokoh utama didalam novel ini.

Read more of this post