Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Category Archives: Resensi Buku

Cengkeram Mesin Anti-Politik dan Depolitisasi Pembangunan

Cover buku James Ferguson - the anti-politics machineReview Buku: The Anti-politics machine: “Development,” De-politicization, and Bureaucratic Power in Lesotho. JAMES FERGUSON. Cambridge and New York: Cambridge University Press, 1997 (Fourth Printing). xvi + 320 pp., maps, tables, figures, notes, references, index.

Buku James Ferguson “The Anti-Politics Machine: “Development, Depoliticization, and Bureaucratic Power in Lesotho” merupakan salah satu karya besar di penghujung abad ke-20 yang telah menciptakan diskursus baru tentang depolitisasi “pembangunan” (menggunakan tanda kutip pada seluruh isi buku tersebut untuk menunjukan sifat historis terbentuknya pembangunan ini). Buku ini adalah hasil dari disertasi Ferguson yang meneliti tentang kegagalan “proyek pembangunan pedesaan” Thaba-Tseka di Lesotho pada rentang waktu tahun 1975 – 1984 yang didanai oleh Bank Dunia dan CIDA (Canadian International Development Agency) (hal.09). Dalam buku ini membedah peran aparat konseptual tentang bagaimana ide “pembangunan” dalam prakteknya diciptakan, bagaimana mereka melakukannya, dan efek apa yang akhirnya dihasilkan (hal.xvi).

Read more of this post

Bagaimana Buruh Melawan Penghisapan atas Dirinya

Cover buruh menuliskan perlawanannyaPenulis: Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami, Fresly Manulang, Salsabila (nama samaran), Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.
Editor: Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.
Penerbit: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) bekerjasama dengan Tanah Air Beta, 2015. 400 halaman +xviii

Kemunculan organisasi-organisasi buruh di Indonesia –terutama berakar pada sektor transportasi dan perkebunan- yang dimulai pada tahun 1910-an memainkan peran penting dalam serangkaian perjuangan kemerdekaan. Politik aksi dan mogok mulai digunakan untuk menekan pemerintah kolonial agar memenuhi perbaikan hidup mereka hingga berujung pada tujuan kemerdekaan Indonesia. Setelah era kemerdekaan, melalui SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), gerakan buruh terlibat aktif dalam upaya menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda serta perjuangan menuntaskan “revolusi nasional Indonesia”. Namun, peristiwa 1965 dan lahirnya rezim Orde Baru membuat tradisi buruh berserikat dihancurkan dengan politik “masa mengambang” (floating mass). Pemerintah menerapkan politik serikat buruh tunggal yang dikontrol penguasa.

Read more of this post

Patriarki & Perjuangan Emansipasi Wanita

Sampul Bumi ManusiaBumi Manusia” merupakan sebuah karya sastra yang sangat besar yang pernah dituliskan oleh seorang sastrawan hebat yang pernah terlahirkan di Indonesia ini yaitu Pramoedya Ananta Toer. Sosok yang lahir di Blora – Jawa Tengah pada 6 februari 1925 ini adalah salah satu anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dilekatkan sebagai salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia pada era Orde Baru.

Seiring meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30S) atau yang menurut Soekarno disebut sebagai Gerakan Satu Oktober atau Gestok, telah membuat lelaki yang akrab disapa Pram ini dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan. Namun penjara tak lantas membuat Pram harus berhenti menulis, baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional (hlm 1). Bahkan hampir separuh perjalanan hidupnya dipaksa secara tak manusiawi untuk hidup dari penjara ke penjara.

Didalam penjara itulah (tepatnya di pulau buru, Agustus 1969 – 12 November 1979), Pram berhasil menyelesaikan tulisan Novel yang dinamai sebagai Teatrologi Buru. Novel tersebut terdiri dari  Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain itu juga terdapat berbagai karya yang dihancurkan paksa oleh rezim orba sebelum mencapai percetakan.

Bumi Manusia yang merupakan bagian pertama dari teatrologi buru tersebut berlatar kisah pada era akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 ketika penjajahan Hindia Belanda masih berkuasa. Bahkan novel Bumi Manusia ini pun juga telah diterbitkan di 33 bahasa. Minke, Nyai Ontosoroh atau Sanikem dan Annalies merupakan tokoh utama didalam novel ini.

Read more of this post