Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Apa Itu Kerja Upahan?

Penghisapan buruhKembali pada skema U – K – U’, hasil laba dari proses produksi tersebut didapat dari selisih pengurangan antara uang di akhir proses (U’) dengan uang di awal proses (U) atau U’ – U = ∆U. Bila diuraikan secara mendalam asal usul dari adanya laba ini, terlebih dahulu harus diseparasikan wujud kapital antara kapital konstan (constan capital / c) dengan kapital variable (variable capital / v).

Dalam setiap relasi produksi, kapital konstan (c) ini berwujud sarana produksi (SP) seperti mesin serta bahan baku yang nilainya tetap atau tidak mungkin dapat berkembang untuk menghasilkan surplus kapital. Maka disinilah peran dari kapital variabel (v) atau yang berwujud tenaga kerja (TK) atau lebih tepatnya para buruh dengan upah bayaran. Melalui kerja yang dilakukan oleh buruh ini kemudian diperoleh surplus nilai (s) atau merupakan hasil dari kerja dari para buruh yang telah menciptakan pertambahan nilai pada komoditi (SP) namun dicuri oleh kapitalis. Sehingga rumus kapitalnya dari nilai total komoditas (t) adalah:

c + v + s = t

Keberadaan kerja-upahan (wage-labour) yang telah menjadikan surplus nilai hingga merealisasikan laba merupakan ciri utama dari kapitalisme. Kerja-upahan ini dalam kapitalisme adalah komoditi yang menjadi basis bagi produksi komoditi. Kerja-upahan menjadi komoditi karena tenaga kerja dari para buruh menjadi satu-satunya cara bagi para buruh untuk bertahan hidup, setelah sebelumnya mereka dipisahkan dari sarana produksinya atau yang menurut Marx disebut sebagai proses akumulasi primitif (primitive accumulation). Akumulasi primitif ini merupakan proses penciptaan hubungan-kapital dengan cara penceraiberaian pekerja dari kepemilikan kondisi-kondisi kerjanya sendiri, yang kemudian mentransformasikan kebutuhan-kebutuhan hidup dan produksi sosial diubah menjadi kapital dan para produsen langsung diubah menjadi kaum pekerja upahan (Marx, 2004: 796-799). Artinya proses tersebut berlangsung sebelum terjadinya akumulasi kapital dilakukan, yaitu seperti dengan cara merampas tanah-tanah pertanian yang merupakan sumber hidup (alat-alat produksi) para petani untuk diubah menjadi area industri pertambangan.

Kelas sosial yang tidak memiliki sarana produksi atau kapital untuk dapat bertahan hidup kecuali dengan cara menjual tenaga kerjanya ini juga dapat disebut sebagai kelas proletar. Proletariat adalah pekerja bebas yang telah menyusun sebuah langkah maju maupun langkah mundur, dibandingkan dengan petani hamba Abad Pertengahan: sebuah langkah maju karena petani hamba tersebut tidaklah bebas (petani hamba itu sendiri merupakan sebuah langkah maju dibandingkan budak) dan tidak dapat bergerak dengan bebas; sebuah langkah mundur karena, bertentangan dengan petani hamba, proletariat telah “dibebaskan” dari, yaitu, dicabut dari, semua akses kepada alat produksi (Mandel, 2006).

Nilai lebih yang dihasilkan oleh kerja-upahan ini dapat diartikan sebagai nilai baru yang dihasilkan oleh buruh dan nilai mereka sebagai komoditi. Atau dengan cara berbeda dapat dikatakan bahwa para buruh upahan bekerja lebih lama dari waktu yang diperlukan untuk menghasilkan barang dan jasa yang berada dibawah kendalinya. Sebagai contoh, buruh kerja-upahan melalui reproduksi tenaga kerjanya dalam sehari atau delapan jam mampu memproduksi komoditi dua buah baju, namun sebenarnya nilai dalam sehari tersebut yang dibayarkan atas tenaga kerjanya hanyalah sebuah baju atau kerja empat jam, maka sisa satu baju atau separuh hari kerja dinikmati oleh kapitalis. Artinya sisa waktu tersebut adalah saat buruh dieksploitasi oleh kapitalis untuk menghasilkan nilai untuk merealisasikan laba dari produksi kapitalis.

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah pembedaan antara kerja dan tenaga-kerja. Marx menjelaskan bahwa komoditi yang dijual kepada kapitalis adalah tenaga-kerja bukan kerja, artinya berbeda dengan komoditi pada umumnya, tenaga-kerja memiliki keunikan untuk menciptakan nilai yang lebih besar dari nilai yang dikandungnya.

Dalam relasi produksi dari kapitalis, sifat kapital menjadi berubah dari masa sebelumnya. Kapital dalam sirkuit dari kapitalisme harus terus bergerak. Piranti sistem kompetisi dan pasar bebas membuat kapital dipaksa untuk terus berekspansi dan berinovasi bila tidak ingin hancur digerus oleh sistem kompetisi kapitalisme dan pada akhirnya membuat kapitalis pemilik kapital tersebut bangrut hingga menjadi pekerja-upahan, karena ketiadaan sarana produksi yang dimilikinya.

Bentuk fisik dari kapital ini tidak hanya terdiri dari barang-barang material, tetapi juga sejumlah komoditi, sejumlah nilai tukar dan sejumlah besaran sosial (Marx, 1976: 29). Kapital yang berbentuk fisik ini tidak dapat dikatakan memiliki sifat sebagai kapital jika hanya dibiarkan diam. Itu karena nilai dari kapital berbentuk fisik ini menjadi bersifat konstan atau tidak berkembang nilainya. Marx (2004 [1867]: 256) secara lebih jauh mengartikulasikan kapital sebagai sebuah nilai dalam sebuah proses, uang dalam proses, dan dengan demikan ia adalah kapital. Ia keluar dari sirkulasi, masuk kembali kedalamnya, memelihara dan melipatgandakan dirinya dalam sirkulasi, keluar darinya dengan ukuran yang lebih besar dan memulai siklus yang sama secara berulang-ulang.

Sebagaimana telah dijelaskan diawal bahwa kapital adalah nilai yang ditingkatkan oleh nilai lebih dan nilai lebih ini adalah nilai yang dirampas kapitalis dari nilai hasil tenaga kerja buruh upahan. Eksploitasi terhadap tenaga kerja secara berlebihan merupakan cara kapitalis untuk merealisasikan laba setinggi-tingginya hingga menjadi tumpukan kekayaan. Seseorang dapat saja menjadi kaya karena bersikap curang dalam pertukaran atau merampok demi memperoleh lebih banyak laba, namun cara tersebut tidak memungkinkan dalam formasi sosial masyarakat secara keseluruhan. Pada dasarnya menjual lebih mahal, bersikap curang atau merampas hanya “mengalihkan nilai” dan tidak menghasilkan “nilai baru”. Artinya nilai baru hanya dapat terbentuk dari sebuah proses produksi.

Setelah mengetahui tentang apa itu kapital, apa itu kapitalisme serta sifat kapital dalam formasi sosial kapitalisme, maka pertanyaannya kemudian adalah tentang bagaimana kapital tersebut dapat terakumulai? Bagaimana realisasi nilai dilakukan dalam modus produksi kapitalisme? Silahkan simak pada kajian kolom “Ngaji Kapital” berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: