Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Kejahatan Kemanusian 1965 & Pengembalian Indonesia ke Cengkeraman Kapitalisme Neoliberal

pertemuan akbar partai komunis indonesia - PKIPeristiwa kejahatan kemanusian paska-operasi militer 1965 sampai sekarang masih belum terselesaikan. Imajinasi akan bahaya laten komunisme yang ditanamkan oleh regim orba masih begitu menguat ditengah era keterbukaan informasi publik seperti sekarang. Sehingga proses pendiskriminasian & stigmatisasi terhadap mereka yang dituduh komunis dan yang masih memiliki hubungan kekerabatan masih tetap berjalan.

Bercak noda sejarah 1965 ini memang masih begitu membekas dan menjadi beban sejarah bagi masa depan Indonesia. Hal tersebut melatarbelakangi dilaksanakannya Pengadilan Rakyat Internasional (International People’s Tribunal) di Den Haag – Belanda pada 10-13 November 2015. IPT bermaksud mendesak penyelesaian secara hukum dan berkeadilan oleh negara atas kasus-kasus pelanggaran HAM seputar pembantaian 1965 dan dampaknya yang selama ini terabaikan melalui pengadilan formal. Bagaimana masa depan penyelesaian kasus pelanggaran HAM 1965 yang sampai sekarang belum terselesaikan? Apakah Pengadilan Rakyat Internasional ini dapat menjadi jawaban terhadap kasus kejahatan kemanusiaan tersebut?. Pertanyaan-pertanyaan ini yang menjadi pemantik diskusi MAP Corner-Klub MKP UGM, pada selasa 17 Oktober 2015.

Read more of this post

Advertisements

Syriza dan Drakula Troika: Dinamika Perjuangan Rakyat Yunani Keluar Dari Jeratan Neoliberalisme

karikatur kehancuran syriza perpecahan left unity front populer krisis yunani - cagle

Doc: Cagle Cartoons

Situasi di Yunani saat ini membawa mereka kembali pada garis terdepan pertarungan bersejarah. Di tahun 1821, Yunani menjadi negara pertama yang berhasil merdeka; kemudian di tahun 1940, mereka adalah pelopor pertempuran melawan fasisme; diawal tahun 1970-an perlawanan mereka terhadap regim diktator militer telah banyak menginspirasi perjuangan yang sama di Eropa Selatan dan Amerika Latin dalam menentang penindasan dan ketidakadilan dari diktator militer. Kini Yunani juga tengah berada dalam pertarungan bersejarah melawan regim otoritarianisme dibalik jubah Troika (Uni Eropa, Bank Central Eropa dan IMF) dengan jampi-jampi neoliberalisme dan sesajen resep pengetatan (austerity) anggaran yang mereka paksakan.

Syriza partai berkuasa di Yunani saat ini yang berhasil memenangkan Pemilu pada awal Januari 2015 dengan perolehan 36,3% suara telah membawa harapan (hope) bagi rakyat yunani tentang alternative lain dari kapitalisme. Badai krisis yang menghantam Yunani sejak tahun 2008 dan ditambah dengan kebijakan-kebijakan dari George Papandreou serta teknokrat Lucas Papademos dari PASOK (The Panhellenic Socialist Movement) yang berkoalisi dengan New Democracy (ND) yang memerintah Yunansi selama krisis datang telah membuat keadaan yang semakin parah. PASOK yang merupakan partai dengan garis politik kiri-tengah dan cenderung reformis, sedangkan ND partai sayap kanan konservatif menyikapi krisis ekonomi dengan melakukan arahan kebijakan yang berdasar pada resep-resep Troika.

Read more of this post

Refleksi Hari Tani 2015: Masa Depan Pertanian & Janji Reforma Agraria Jokowi

26-ReformaAgraria-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

“Revolusi Indonesia tanpa land reform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi,”
“Tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan, Tanah untuk Tani! Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah!”
(Pidato Soekarno pada HUT RI 1963)

Bagaimana keadaan petani di Indonesia sekarang ini?
Sudahkan mereka menikmati kemakmuran dari hasil pertaniannya?
Sudahkan petani Indonesia memiliki lahan yang cukup untuk digarap?
Sudahkan anggota keluarga mereka terpenuhi kebutuhan pokok mereka?

Pertanyaan diatas mencoba menelisik keadaan dunia pertanian di Indonesia sampai sekarang ini. Selain itu pertanyaan tersebut juga harus dijawab bersama oleh para petani, organisasi tani, aktivis, akademisi, dan juga pemerintah tentang kemakmuran dari para petani sampai sekarang, kalau memang “belum”, maka menjadi tanggung jawab bersama untuk memperjuangkannya.

Hari tani nasional (HTN) yang akan kita rayakan setiap tahunnya pada 24 September adalah salah satu momentum bersejarah bagi seluruh rakyat Indonesia. Momentum tersebut sejalan dengan lahirnya undang-undang pokok agraria (UU PA) No. 5, tanggal 24 September Tahun 1960. Tujuan pembentukan UUPA adalah untuk “meletakkan dasar-dasar bagi peletakan hukum agraria nasional, yang merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan Rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat adil dan makmur”.

Read more of this post

Sang Pemikir & Jiwa-jiwa Pemberontak: Membawa Wayang ke Bumi Manusia

Catatan dari Pementasan “Parikesit Jumeneng Ratu” yang dibawakan Oleh Ki Enthus Susmono pada 05 September 2015, Live di lapangan TVRI Jogja

Wayang - Parikesit Jumeneng RatuBaratayudha yang menang pandawa dan yang kalah kurawa secara tertulis memang benar. Itu hanya syariat dan ilmu itu ada tarikat, makrifat,lan Hakikat. Lha saya akan menuju ke hakikatnya langsung saja, yaitu bahwa hakikatnya baratayudha yang menang adalah Kresna. Kresnalah yang telah membuat kebohongan sejarah Barathayuda dan ketahuilah Prabu Pancakusuma, bahwa yang berhak atas tahta Astina itu kamu bukan Parikesit si bocah ingusan yang dikarbit Kresna untuk jadi Raja karena masih keturunan Kresna.

(Kertiwindu – anak dari Sengkuni)

Ditengah dinginnya Jogja, acara pertunjukan Wayang Kulit dalam memperingati Ultah TVRI Jogja malam itu berlangsung cukup meriah. Pertunjukan yang mengambil lakon (cerita) “Parikesit Jumeneng Ratu” dibawakan dengan cukup apik dan berbeda oleh Ki Enthus Susmono, salah seorang dalang favorit saya selain Ki Narto Sabdho, Ki Manteb dan Ki Sigit Arianto. Para penonton dibuat terhenyak dengan alur cerita, guyonan dan juga tak lupa satir-satir yang disematkan dalam setiap dialog antar tokoh.

Read more of this post

Renungan Seberkas Insomnia

Perlawanan rakyat dalam insomnia

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Hampir fajar menjelang

sepi bercumbu dingin

menyusup lewat lorong jendela

 

Di kamar ini

entah mengapa aku merasa terasing

kupejamkan mataku

yang tampak hanya seberkas cinta

menyuarakan langgam

dalam bisikan metafora yang berbeda

 

Hatiku selalu meraba

dalam gumpalan rasa yang tak bernama

diantara rintih rindu yang telanjang tanpa sehelai kain

tentang nyanyian tanpa jampi-jampi tanpa taburan bunga

 

Read more of this post

Genosida Rohingya dan Bisnis Migas di Myanmar

Rohingya Carikatur islam budha hindu kekerasan genosida konflik agama

Sumber: Rohama(.)org

Melihat permasalahan Rohingya hanya sebatas dengan sudut pandang sentimen agama adalah suatu hal yang cukup naïf dan cenderung mereduksi akar permasalahan utama dalam konfigurasi ekonomi-politik di Myanmar dan juga Dunia. Dalam perspektif ilmu politik, “agama” itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia dapat menjadi pendorong perdamaian, namun disisi yang lain bisa dengan mudah diprovokasi untuk memicu konflik sosial. Faktor ekonomi-politik dan kesadaran menjadi pendorong ke sisi mana agama tersebut akan dibawa.

Kekerasan sistematis terhadap etnis Rohingya yang beragama muslim oleh warga mayoritas Budha (terutama etnis Arakan) di Myanmar bukanlah kekerasan antar agama yang tak terdamaikan. Dengan analisa sentimen agama tersebut kita tak akan dapat membaca bagaimana hubungan intim Amerika Serikat dengan penguasa feodal Bani Saud di Arab Saudi, tentang invasi Arab Saudi ke Yaman yang dibantu AS dan Israel, tentang politik Arab Saudi yang membiayai oposisi yang berperang dengan Bashar Assad di Suriah, tentang kemunculan Al-Qaeda ataupun ISIS yang disponsori Arab Saudi dan AS atau juga tentang bagaimana politik luar negeri AS selama puluhan tahun mensponsori diktator-diktator militer Amerika Latin pembunuh ribuan rakyatnya yang, sebagaimana  mayoritas penduduk negeri adidaya itu, mengimani Injil. Jadi akar konflik tersebut bukanlah agama, akan tetapi uang dan kekuasaan.

Read more of this post

The Asian-African Conference is just a History

Punch_Rhodes_Colossus penjajahan afrika kolonialisme penderitaan kemiskinan kemerdekaanIn19-24 April 2015, the Asian-African Conference (AAC) will be held in Bandung, Indonesia. Even though it will take place in the same city as it was in 1955, de-idiologisation occurs in this meeting and cooperation among Asian-African countries.

Sukarno was the one who initiated AAC with the Prime Minister of India Jawaharlal Nehru, the North Vietnamese leader Ho Chi Minh, President Kwame Nkrumah of Ghana and other third world country leaders. By all means,AAC today can not be separated from the attempt to strengthen the economic cooperation and solidarity between countries in Asia and Africa to face the colonialism and imperialism that still occurs in those countries.

In front of hundreds of representatives of the people of Asia and Africa on the first AACBandung in 1955, Sukarno shouted, “No one of the people feels they are independent, as long as there are still parts of the our land is not free. As if peace, freedom could not be divided. There is nothing called half-independent, as there is nothing that can be called a half-life, people often tell us, that colonialism is dead. Don’t we want to be deceived, or be settled by it! Ladies and gentlemen, colonialism is not dead !. “

Read more of this post

Bagaimana Buruh Melawan Penghisapan atas Dirinya

Cover buruh menuliskan perlawanannyaPenulis: Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami, Fresly Manulang, Salsabila (nama samaran), Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.
Editor: Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.
Penerbit: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) bekerjasama dengan Tanah Air Beta, 2015. 400 halaman +xviii

Kemunculan organisasi-organisasi buruh di Indonesia –terutama berakar pada sektor transportasi dan perkebunan- yang dimulai pada tahun 1910-an memainkan peran penting dalam serangkaian perjuangan kemerdekaan. Politik aksi dan mogok mulai digunakan untuk menekan pemerintah kolonial agar memenuhi perbaikan hidup mereka hingga berujung pada tujuan kemerdekaan Indonesia. Setelah era kemerdekaan, melalui SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), gerakan buruh terlibat aktif dalam upaya menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda serta perjuangan menuntaskan “revolusi nasional Indonesia”. Namun, peristiwa 1965 dan lahirnya rezim Orde Baru membuat tradisi buruh berserikat dihancurkan dengan politik “masa mengambang” (floating mass). Pemerintah menerapkan politik serikat buruh tunggal yang dikontrol penguasa.

Read more of this post

Menolak Paham Sesat Lokalitas Gerakan: Mengaitkan Kembali Memori Akar Sejarah Pergerakan Mahasiswa di Indonesia

Tanggapan Untuk Andre Barahamingerakan mahasiswa indonesia buruh petani kapitalisme komunis rakyat melawan elit

MEMBACA tanggapan Andre Barahamin[1] terhadap tulisan saya di IndoPROGRESS[2], bagi saya memiliki beberapa poin yang cenderung akan memukul mundur (regresif) arah gerakan mahasiswa itu sendiri. Alih-alih menyodorkan anti-tesis terkait perbaikan arah gerakan mahasiswa sekarang, bagi saya tanggapan tersebut malahan seperti remaja galau yang menolak belajar dari masa lalu. Mereka yang menganggap tidak penting dan membuang-buang waktu untuk belajar dari sejarah. Kemudian hanya asyik dengan dunianya sendiri tanpa melihat realitas di sekitarnya.

Ada dua poin utama dari Barahamin dalam tanggapannya, yaitu menolak ‘memori dan romantika’ dalam gerakan mahasiswa dan yang berkarakter regresif adalah lontaran proposal yang menekankan gerakan mahasiswa untuk mengutamakan masalah lokalitas dalam gerakan mereka, yaitu dengan menentang komodifikasi universitas. Dalam beberapa argumen, saya sependapat dengan Barahamin, seperti tawarannya untuk mendorong kajian-kajian ilmiah terhadap sejarah gerakan mahasiswa. Hal ini tepat jika melihat bahwa saat ini ada permasalahan serius di universitas yang berpijak pada komersialisasi pendidikan. Namun tawaran tersebut seharusnya tidak mengurung gerakan mahasiswa dalam lokalitas kampus semata.

Read more of this post

Kemana Arah Gerakan Mahasiswa Sekarang?: Dari Refleksi Menuju Aksi

demo mahasiswaPendahuluan

Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-81 di tahun 2006, Pramoedya Ananta Toer mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menarik: mengapa pemuda yang dengan gemilang menyingkirkan rezim Soeharto, tidak menghasilkan tokoh politik nasional? padahal pemudalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting disepanjang sejarah Indonesia serta tampil menjadi tokoh politik nasional. Mengapa sekarang tidak?.

Pertanyaan tersebut mencoba mencari apa yang terjadi sebenarnya dalam gerakan mahasiswa atau pemuda ini di era reformasi. Para mahasiswa bersama rakyat yang telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orba. Mereka tidak menghasilkan tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya gerakan mobilisasi massa yang begitu besar yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh konservatif yang masih dalam enclave orba seperti Amien Rais, Gus Dur dan Megawati pada detik-detik terakhir. Sehingga agenda reformasi tak mampu mendorong perubahan besar, karena kroni-kroni orba masih tetap bergentayangan di pusat-pusat pengambilan keputusan.

Read more of this post