Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Renungan Seberkas Insomnia

Perlawanan rakyat dalam insomnia

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Hampir fajar menjelang

sepi bercumbu dingin

menyusup lewat lorong jendela

 

Di kamar ini

entah mengapa aku merasa terasing

kupejamkan mataku

yang tampak hanya seberkas cinta

menyuarakan langgam

dalam bisikan metafora yang berbeda

 

Hatiku selalu meraba

dalam gumpalan rasa yang tak bernama

diantara rintih rindu yang telanjang tanpa sehelai kain

tentang nyanyian tanpa jampi-jampi tanpa taburan bunga

 

Read more of this post

Genosida Rohingya dan Bisnis Migas di Myanmar

Rohingya Carikatur islam budha hindu kekerasan genosida konflik agama

Sumber: Rohama(.)org

Melihat permasalahan Rohingya hanya sebatas dengan sudut pandang sentimen agama adalah suatu hal yang cukup naïf dan cenderung mereduksi akar permasalahan utama dalam konfigurasi ekonomi-politik di Myanmar dan juga Dunia. Dalam perspektif ilmu politik, “agama” itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia dapat menjadi pendorong perdamaian, namun disisi yang lain bisa dengan mudah diprovokasi untuk memicu konflik sosial. Faktor ekonomi-politik dan kesadaran menjadi pendorong ke sisi mana agama tersebut akan dibawa.

Kekerasan sistematis terhadap etnis Rohingya yang beragama muslim oleh warga mayoritas Budha (terutama etnis Arakan) di Myanmar bukanlah kekerasan antar agama yang tak terdamaikan. Dengan analisa sentimen agama tersebut kita tak akan dapat membaca bagaimana hubungan intim Amerika Serikat dengan penguasa feodal Bani Saud di Arab Saudi, tentang invasi Arab Saudi ke Yaman yang dibantu AS dan Israel, tentang politik Arab Saudi yang membiayai oposisi yang berperang dengan Bashar Assad di Suriah, tentang kemunculan Al-Qaeda ataupun ISIS yang disponsori Arab Saudi dan AS atau juga tentang bagaimana politik luar negeri AS selama puluhan tahun mensponsori diktator-diktator militer Amerika Latin pembunuh ribuan rakyatnya yang, sebagaimana  mayoritas penduduk negeri adidaya itu, mengimani Injil. Jadi akar konflik tersebut bukanlah agama, akan tetapi uang dan kekuasaan.

Read more of this post

The Asian-African Conference is just a History

Punch_Rhodes_Colossus penjajahan afrika kolonialisme penderitaan kemiskinan kemerdekaanIn19-24 April 2015, the Asian-African Conference (AAC) will be held in Bandung, Indonesia. Even though it will take place in the same city as it was in 1955, de-idiologisation occurs in this meeting and cooperation among Asian-African countries.

Sukarno was the one who initiated AAC with the Prime Minister of India Jawaharlal Nehru, the North Vietnamese leader Ho Chi Minh, President Kwame Nkrumah of Ghana and other third world country leaders. By all means,AAC today can not be separated from the attempt to strengthen the economic cooperation and solidarity between countries in Asia and Africa to face the colonialism and imperialism that still occurs in those countries.

In front of hundreds of representatives of the people of Asia and Africa on the first AACBandung in 1955, Sukarno shouted, “No one of the people feels they are independent, as long as there are still parts of the our land is not free. As if peace, freedom could not be divided. There is nothing called half-independent, as there is nothing that can be called a half-life, people often tell us, that colonialism is dead. Don’t we want to be deceived, or be settled by it! Ladies and gentlemen, colonialism is not dead !. “

Read more of this post

Bagaimana Buruh Melawan Penghisapan atas Dirinya

Cover buruh menuliskan perlawanannyaPenulis: Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami, Fresly Manulang, Salsabila (nama samaran), Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.
Editor: Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.
Penerbit: Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) bekerjasama dengan Tanah Air Beta, 2015. 400 halaman +xviii

Kemunculan organisasi-organisasi buruh di Indonesia –terutama berakar pada sektor transportasi dan perkebunan- yang dimulai pada tahun 1910-an memainkan peran penting dalam serangkaian perjuangan kemerdekaan. Politik aksi dan mogok mulai digunakan untuk menekan pemerintah kolonial agar memenuhi perbaikan hidup mereka hingga berujung pada tujuan kemerdekaan Indonesia. Setelah era kemerdekaan, melalui SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), gerakan buruh terlibat aktif dalam upaya menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda serta perjuangan menuntaskan “revolusi nasional Indonesia”. Namun, peristiwa 1965 dan lahirnya rezim Orde Baru membuat tradisi buruh berserikat dihancurkan dengan politik “masa mengambang” (floating mass). Pemerintah menerapkan politik serikat buruh tunggal yang dikontrol penguasa.

Read more of this post

Menolak Paham Sesat Lokalitas Gerakan: Mengaitkan Kembali Memori Akar Sejarah Pergerakan Mahasiswa di Indonesia

Tanggapan Untuk Andre Barahamingerakan mahasiswa indonesia buruh petani kapitalisme komunis rakyat melawan elit

MEMBACA tanggapan Andre Barahamin[1] terhadap tulisan saya di IndoPROGRESS[2], bagi saya memiliki beberapa poin yang cenderung akan memukul mundur (regresif) arah gerakan mahasiswa itu sendiri. Alih-alih menyodorkan anti-tesis terkait perbaikan arah gerakan mahasiswa sekarang, bagi saya tanggapan tersebut malahan seperti remaja galau yang menolak belajar dari masa lalu. Mereka yang menganggap tidak penting dan membuang-buang waktu untuk belajar dari sejarah. Kemudian hanya asyik dengan dunianya sendiri tanpa melihat realitas di sekitarnya.

Ada dua poin utama dari Barahamin dalam tanggapannya, yaitu menolak ‘memori dan romantika’ dalam gerakan mahasiswa dan yang berkarakter regresif adalah lontaran proposal yang menekankan gerakan mahasiswa untuk mengutamakan masalah lokalitas dalam gerakan mereka, yaitu dengan menentang komodifikasi universitas. Dalam beberapa argumen, saya sependapat dengan Barahamin, seperti tawarannya untuk mendorong kajian-kajian ilmiah terhadap sejarah gerakan mahasiswa. Hal ini tepat jika melihat bahwa saat ini ada permasalahan serius di universitas yang berpijak pada komersialisasi pendidikan. Namun tawaran tersebut seharusnya tidak mengurung gerakan mahasiswa dalam lokalitas kampus semata.

Read more of this post

Kemana Arah Gerakan Mahasiswa Sekarang?: Dari Refleksi Menuju Aksi

demo mahasiswaPendahuluan

Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-81 di tahun 2006, Pramoedya Ananta Toer mengajukan sebuah pertanyaan yang cukup menarik: mengapa pemuda yang dengan gemilang menyingkirkan rezim Soeharto, tidak menghasilkan tokoh politik nasional? padahal pemudalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting disepanjang sejarah Indonesia serta tampil menjadi tokoh politik nasional. Mengapa sekarang tidak?.

Pertanyaan tersebut mencoba mencari apa yang terjadi sebenarnya dalam gerakan mahasiswa atau pemuda ini di era reformasi. Para mahasiswa bersama rakyat yang telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orba. Mereka tidak menghasilkan tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya gerakan mobilisasi massa yang begitu besar yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh konservatif yang masih dalam enclave orba seperti Amien Rais, Gus Dur dan Megawati pada detik-detik terakhir. Sehingga agenda reformasi tak mampu mendorong perubahan besar, karena kroni-kroni orba masih tetap bergentayangan di pusat-pusat pengambilan keputusan.

Read more of this post

Titipan Sang Pencipta

Untuk Kelahiran Keponakanku: Gharda Dipa Bhagaskara Jagaddhita

karikatur perdamaian gerakan besama

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Sang Bhagaskara tertatih-tatih bangkit

mengusir halimun keringat bumi

yang sejak malam, membasahi kaki pegunungan kendeng utara – Pati

 

sejak dini hari Senin Wage 5 Januari

tanda kelahiran jabang bayi telah berbunyi

dunia berbinar-binar

menanti makhluk pilihan

yang telah berhasil berenang merebut singgasana

bersaing dengan ribuan makhluk kecil di gua garba

buah cinta kasih asmara

 

Read more of this post

Harta, Takhta dan Wanita

Suara Merdeka 08 Maret 2015

Sumber: Epaper Suara Merdeka 08 Maret 2015

Selama hampir setahun terakhir, film Mahabarata produksi India yang ditayangkan dalam salah satu stasiun televisi lokal Indonesia memperoleh rating tinggi artinya banyak digemari oleh masyarakat. Namun entah mengapa saya tidak sedikitpun tertarik untuk menontonnya. Alasannya sederhana, karena dalam kisah Mahabarata di film tersebut tidak memperlihatkan dinamika kehidupan rakyat kecil dan hanya berkutat pada perebutan “Harta, Tahta dan Wanita”.

Cerita Mahabarata memang adalah warisan budaya feodal dan bersifat patriarkis. Di dalamnya ada pengkotak-kotakan secara harfiah terhadap kehidupan manusia. Ceritanya hanya berisi kegaduhan dari elit untuk memperebutkan “Harta, Tahta dan Wanita”. Itu adalah kebudayaan elit yang tak menampakan dinamika kesulitan hidup rakyat. Sudut pandangnya yang dari kelas atas membuat masyarakat yang menontonnya hanya dibimbing untuk menginternalisasi nilai-nilai ketimpangan dan pengkotak-kotakan tidak untuk mencapai kesadaran akan realita kehidupan yang ada.

Read more of this post

Menyentuh Rasa

Wanita pinggir jalan terasing tersingkir pemulung

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Rintik hujan tak jua lelah

malam semakin larut

bulan bintang melamun

hingga datang seberkas sinar di ufuk timur

mencabut dongeng tidur

 

angin menyusup bergerilya

menyusuri bekas keringat di tubuhnya

bersemilir menelejanjangi

Read more of this post

Kemenangan Hollande, Agenda Politik Sosialis dan Masa Depan Sosialisme di Dunia

Abstrak

Kemenangan yang telah diraih oleh Francois Hollande yang diusung oleh Partai Sosialis Perancis (PS) di Pemilihan Umum Presiden Prancis pada mei 2012 lalu, telah memberikan harapan besar tersendiri bagi rakyat Prancis akan datangnya perubahan. Agenda-agenda politik Sosialis yang ditawarkan oleh Hollande ketika masa kampanye membuat pamornya begitu tinggi ditengah badai krisis yang menerpa rakyat. Akan tetapi harapan yang begitu tinggi terhadap sosok Hollande untuk dapat menciptakan perubahan yang besar, sedikit demi sedikit mulai luluh lantak setelah sekitar dua tahun masa kepemimpinannya. Itu terjadi akibat tak pernah terealisasinya agenda-agenda politik sosialis yang ditawarkan oleh Hollande pada masa Kampanye politiknya dan masih tetap kencangnya badai krisis yang menimpa rakyat Prancis. Sedangkan yang terjadi adalah terjebaknya Hollande pada kebijakan-kebijakan kompromis yang lebih bersifat reformis, moderat dan reaksioner. Sehingga pada tulisan ini, penulis berusaha mengelaborasi tentang apa yang menjadi penyebab kegagalan dari Hollande dan para politiksi sosialis lainnya di dalam menjalankan agenda-agenda politik Sosialis yang pernah mereka tawarkan. Dan juga berusaha meramalkan simultannya krisis kapitalis dengan masa depan Sosialisme di dunia.

Keyword: Francois hollande, krisis ekonomi, agenda politik sosialis dan masa depan sosialisme

 

Mozaik Kebijakan PublikPendahuluan

Pada 6 mei 2012 sebuah sejarah baru telah terbentuk di Negara yang terkenal dengan menara Eifelnya yaitu Prancis. Hal tersebut terjadi dikarenakan kemenangan yang berhasil ditorehkan oleh Francois Hollande didalam pemilihan presiden Prancis mei itu. Hollande yang didukung oleh kubu sosialis berhasil menggulingkan incumbent dari kubu konservatif yaitu Nicolas Sarkozy dengan raihan 51,56 persen suara untuk Hollande dan hanya 48,44 persen bagi Sarkozy (Koran Jakarta, 09/05/12).  Kemenangan dari Hollande tersebut juga telah mencatatkan dirinya sebagai presiden kedua dari sayap partai kiri yang pernah memimpin Prancis, setelah pendahulunya yaitu Francois Mitterrand yang memimpin pada periode 1981 sampai 1995.

Read more of this post