Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: Gerakan Perlawanan

Padmi, Bunga Perjuangan yang Gugur di Musim Hujan

Mengapa ada bunga yang gugur di musim hujan?
Mengapa ada air mata saat menyambut keberanian?
Mengapa harus ada duka mengiringi pengorbanan?

(…)sebelum berangkat ikut aksi cor kaki, dia (Padmi – pen) telah menelpon saya dan berkata untuk pamit berjuang membela ibu bumi” ujar Roshad (suami Padmi), lelaki 52 tahun yang berambut ikal dan kulit sawo matang. Tidak tampak sedikitpun kesedihan di raut wajahnya. Matanya berbinar tajam penuh keyakinan, seolah menunjukan, bahwa sang istri yang dicintai tidak pergi dengan sia-sia.

Ibu Padmi gugur untuk membela tanah air dan saya telah mengiklaskan kepergiannya” ungkapnya dengan suara penuh ketegaran.

Read more of this post

Advertisements

Sang Pemikir & Jiwa-jiwa Pemberontak: Membawa Wayang ke Bumi Manusia

Catatan dari Pementasan “Parikesit Jumeneng Ratu” yang dibawakan Oleh Ki Enthus Susmono pada 05 September 2015, Live di lapangan TVRI Jogja

Wayang - Parikesit Jumeneng RatuBaratayudha yang menang pandawa dan yang kalah kurawa secara tertulis memang benar. Itu hanya syariat dan ilmu itu ada tarikat, makrifat,lan Hakikat. Lha saya akan menuju ke hakikatnya langsung saja, yaitu bahwa hakikatnya baratayudha yang menang adalah Kresna. Kresnalah yang telah membuat kebohongan sejarah Barathayuda dan ketahuilah Prabu Pancakusuma, bahwa yang berhak atas tahta Astina itu kamu bukan Parikesit si bocah ingusan yang dikarbit Kresna untuk jadi Raja karena masih keturunan Kresna.

(Kertiwindu – anak dari Sengkuni)

Ditengah dinginnya Jogja, acara pertunjukan Wayang Kulit dalam memperingati Ultah TVRI Jogja malam itu berlangsung cukup meriah. Pertunjukan yang mengambil lakon (cerita) “Parikesit Jumeneng Ratu” dibawakan dengan cukup apik dan berbeda oleh Ki Enthus Susmono, salah seorang dalang favorit saya selain Ki Narto Sabdho, Ki Manteb dan Ki Sigit Arianto. Para penonton dibuat terhenyak dengan alur cerita, guyonan dan juga tak lupa satir-satir yang disematkan dalam setiap dialog antar tokoh.

Read more of this post

Krisis Kapitalisme & Upaya Perebutan Ruang Hidup Rakyat di Pegunungan Kendeng Utara Pati – Jawa Tengah

24-RageAginstBulldozer-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

Selama kurang lebih 200 tahun, masyarakat Industri Kapitalis telah berkembang melalui berbagai aksi penjarahan dan penghancuran terhadap sumber daya alam yang ada di bumi ini. Imperialisme yang dalam pengertian Lennin merupakan tahap tertinggi dari Kapitalisme telah berhasil menciptakan jalan bagi Kapitalisme ke seluruh penjuru Dunia (Tornquist, 2010: 18). Proses imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara barat dengan menjarah Sumber Daya Alam (SDA) dari negeri Jajahan telah membuat ekonomi negaranya seperti sekarang ini. Maka tak salah kalau Mahatma Gandhi mengungkapkan bahwa kalau negeri yang dulu terjajah ingin menyamai ekonomi dari negara barat, maka negeri terjajah ini harus melakukan Imperialisme selama 100 tahun dulu ke negara barat ini.

Salah seorang mahasiswa pertambangan dari Institut Terknologi tertanama di Indonesia pernah mengungkapkan bahwa bumi ini diibaratkan sebagai seekor kambing gemuk, yang kalau dibiarkan pasti akan mati percuma. Begitu pula dengan bumi tandasnya, kalau dibiarkan dan tidak dieksploitasi secara membabi-buta juga pasti akan menjadi hancur sia-sia (Wacana, edisi 26 tahun XXI: 02). Frame berfikir tersebut sangat selaras dengan logika dari kapitalisme kontenporer. Artinya roda produksi harus terus bergerak, ekspansi modal harus terus diputar dan ekploitasi terhadap bahan mentah pun harus terus dilakukan. Ketika proses tersebut berhenti, maka terompet krisis Kapitalisme pun ditiupkan.

Pola produksi dari Kapitalisme yang bersifat anarkis memang telah membuat dunia sedang berada pada titik nadir. Berbagai kelangkaan terhadap bahan-bahan sumber daya alam yang tak terbaharukan seperti minyak, batu bara, logam dan bahan tambang yang lain telah semakin mendekat dikala pola kehidupan tetap seperti ini. Maka para generasi penerus kita pun hanya akan menggigit jari karena tak dapat menikmati manfaat dari sumber-sumber kehidupan yang diciptakan dengan gratis oleh bumi kita ini sebagai akibat keserakahan dibalik selimut kompetisi Kapitalisme. Dan hal yang tak pernah terlepas dari proses moda produksi Kapitalisme selain kerusakan ekologi adalah sebuah proses proletarisasi dengan cara penyingkiran masyarakat terhadap alat-alat produksinya (primitive accumulation), perampasan hak-hak dasar hidup masyarakat yang hasil akhirnya adalah kemiskinan, penderitaan dan penindasan.

Read more of this post

Pembangunan Blok Historis: Mensinergikan Gerakan Mahasiswa dan Buruh Demi Menciptakan Kesejahtraan Bersama

Buku Gebrakan Mahasiswa Menggugat Diskriminasi Buruh

Doc: Pribadi

 “Sejarah masyarakat yang berlangsung selama ini adalah sejarah perjuangan kelas”(Marx. Manifesto of the Communist Party. 1848)[1]

Gerakan buruh kini telah mulai bangkit setelah hampir 3 dekade dilumpuhkan oleh rezim Orde Baru (Hadiz, 2006). Berbagai pencapaian-pencapaian dan kegagalan-kegagalan pun telah dirasakan oleh gerakan buruh ini. Keadaan tersebut semakin menempa mereka dan juga telah berkontribusi pada pembentukan identitas mereka sebagai buruh (Saptari, 2008).

Tetapi didalam relasi kerja Kapitalisme, problematika yang dihadapi buruh tak akan pernah ada akhirnya. Permasalahan upah tidak layak, kerja kontrak, outsourcing, PHK, tidak adanya jaminan kesehatan dan kerja merupakan permasalahan yang dihadapi para buruh Indonesia sampai saat ini. Kenyataan tersebut, memberikan gambaran bahwa kepentingan buruh bertentangan secara hakiki dan tidak dapat didamaikan sama sekali dengan kepentingan ‘sistem sosial dan politik’ kapitalisme (Shandro, 1995: 279).

Hal senada juga dialami oleh para Mahasiswa. Menjalarnya kapitalisme ke ranah pendidikan dengan logika profit oriented yang melatarbelakanginya, telah menjadikan mahalnya biaya pendidikan, dikontrolnya Universitas-universitas oleh kalangan elit dan menciptakan pondasi ilmu pendidikan yang menekankan hanya pada nilai-nilai korporasi.

Read more of this post

Masa Depan Pemuda di Pertanian

Lampung Post 06 Desember 2013

Doc: epaper LampungPost 06 Desember 2013

“Petani terlonta-lonta di negeri lumbung padi”, mungkin ungkapan tersebut sesuai dengan keadaan yang dialami para petani Indonesia sekarang ini. Data pada survey pertanian (SP) di tahun 1993 memperlihatkan jumlah petani gurem ada 10,9 juta keluarga, sedangkan pada SP 2003 angka itu naik menjadi 13,7 juta keluarga, bertambah 3,8 juta keluarga dalam 10 tahun. Di Pulau Jawa, dari setiap empat petani, tiga adalah petani gurem (Kompas, 16/05/2013). Meningkatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tersebut menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan di desa.

Peningkatan jumlah petani gurem tersebut pasti akan melonjak tajam pada SP 2013 ini. Data sementara SP 2013 menunjukan bahwa dari 31,17 juta rumah tangga pertanian pada SP 2003, menagalami penurunan menjadi hanya 26,13 juta rumah tangga pada SP 2013, atau selama 10 tahun Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani.

Ketiadaan regenerasi di lingkaran pertanian merupakan penyebab utama berkurangnya jumlah petani ini. Artinya keengganan para pemuda untuk menekuni dunia pertanian, merupakan salah satu hal yang melandasi berkurangnya jumlah petani ini.

Read more of this post

Suara, Tinta dan Darah Perlawanan

Perlawanan rakyat menentang penguasa

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Lilitan tinta disecarik kertas putih yg membeku ini

bersuara lantang

menentang coretan liar yang tak beraturan

yang kau gores dengan nafsu

 

Suaraku dapat kau bungkam

tapi tinta ini dapat menari-nari liar

melebihi aungan serigala malam

yang tak kan sedikitpun dapat kau hentikan

 

Read more of this post

Purgatory Gerwani

Purgatory Gerwani

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Gerwani,

Perempuan-perempuan petarung zaman

Berjuang menentang penderitaan

Namun, diburamkan menjadi kanibal

 

Gerwani,

Perempuan-perempuan penentang feodal

Berjuang menciptakan keadilan

Namun, disulap menjadi binatang jalang

 

Read more of this post

Bersaksi Dengan Malam

Karikatur gejolak

Doc: Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit

Bintang-bintang berpijar dibumbui sinar kerabunan

Diiringi hentak keceriaan ombak-ombak yang berkejar-kejaran

Gerak pasir yang tersapu angin menyiratkan desingan ribuan bala tentara beradu jalan

Aku berdiri diatas butiran pasir-pasir hitam yang menyimpan amarah kerakusan

 

Diselimut gelap, aku melihat gumuk emas hitam

Yang telah membangkitkan jiwa-jiwa Keserakahan Rahwana

Menebarkan kejulikan Sengkuni yang tiada tara

Diantara rakyat jelata dengan segala keluguanya

Read more of this post

Dilematika Pembangunan dan Imperialisme Ekologi

Dilematika pembangunan dan imperialisme ekologi kerusakan lingkungan pemiskinan petani konflik agraria

Doc: Mata news & Luwarso

Di dalam konteks Negara-negara dunia ketiga, pembangunan sebagai salah satu paradigma dan teori perubahan sosial pada dewasa ini telah mengalami kegagalan dan tengah berada pada masa krisis (Fakih, 2001: 97). Kegagalan dan krisis tersebut terjadi akibat dari tidak pernah tercapainya fungsi dan tujuan dari Pembangunan tersebut, yaitu untuk dapat menciptakan kesejahtraan, pemerataan dan keadilan. Sedangkan yang sering terjadi dari Pembangunan tersebut malahan peningkatan kemiskinan, semakin melebarnya ketimpangan, ketidakmerataan dan kerusakan lingkungan.

Di Indonesia, kata “Pembangunan” seolah lebih dieratkan dengan rezim Orde Baru. Kata Pembangunan di dalam konteks Orba, sangat erat kaitannya dengan discourse development yang dikembangkan oleh Negara Kapitalis barat. Sehingga pembangunan pada era Soeharto tersebut merupakan bagian dari Ideologi “Pertumbuhan”, yang di mana poin Pertumbuhan ekonomi digenjot setinggi mungkin, tetapi dengan harga kerusakan sumber daya alam dan kesenjangan sosial yang terus dibiarkan, hingga akhirnya justru berbalik menghancurkan hasil-hasil pertumbuhan itu sendiri (Rachbini, 2004). Dan model pembangunan tersebutlah, pada era pasca-reformasi ini masih tetap digunakan oleh para Pemerintah Daerah dan Nasional.

Problematika Pembangunan Daerah

Di dalam konteks Otonomi Daerah sekarang ini, hampir setiap Daerah berupaya untuk memacu pertumbuhan PAD (Pendapatan Asli Daerah) mereka masing-masing. Hal tersebut tak lain akibat dari kesalahan penafsiran tetang Otonomi Daerah ini sendiri, yang dimana keberhasilan dari pelaksanaan Otonomi Daerah hanya dimaknai ketika Daerah-Daerah tersebut memiliki PAD yang tinggi dibanding daerah-daerah lainnya. Akhirnya muncul tendensi para Pemerintah Daerah melakukan pemaksaan-pemaksaan pembangunan tertentu atas nama untuk peningkatan PAD dan mitos kesejahtraan yang dihadirkannya.

Read more of this post

Elitisme Parpol & Masalah Demokrasi Kita

elit-elit politik dalam parpol yang tidak berpihak kepada rakyat

Doc: Luwarso

Mungkin kita cukup familiar ketika mendengar slogan-slogan dari para Politiksi bahwa “Suara Partai A,B, atau C adalah suara Rakyat”. Begitulah mereka berusaha menerjemahkan tujuan dari Partai-partainya, agar dapat seirama dengan kehendak rakyat. Tetapi kemudian apakah suara dari Partai-partai Politik (Parpol) tersebut benar-benar mewakili suara rakyat? dan rakyat siapa yang dimaksud? Apakah raky
at secara keseluruhan atau sebagian kecil dari rakyat?

Bila kita refleksikan apa yang terjadi di Indonesia sekarang ini, mungkin sebagian besar dari rakyat akan menjawab tidak mewakili suaranya dan hanya berpihak pada sebagian kecil dari rakyat. Itu terjadi karena dinamika yang dihadapi sebagian besar masyarakat sekarang ini menggambarkan hal yang demikian. Dimana kesejahteraan, keadilan dan pemerataan kemakmuran hanya terlontar ketika musim kampanye Politik saja, sedangkan setelah itu kenyataan yang ada seperti sebuah angin lalu.

Oligarki Partai Politik

Partai-partai yang ada di dalam setiap ajang kontestasi politik sekarang ini adalah partai-partai berlambang pragmatis-oportunis. Itu terjadi karena Parpol-parpol yang sekarang hadir dihadapan kita ini tidak benar-benar mengakar dari rakyat. Dan Parpol-parpol tersebut juga telah gagal di dalam menjalankan fungsi-fungsi yang semestinya mereka jalankan dengan baik, yaitu menjadi wahana bagi warga Negara untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kehidupan bernegara dan memperjuangkan kepentingannya dihadapan penguasa (Budiardjo, 2008: 405).

Read more of this post