Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: gerakan rakyat

Satriya Piningit

semar mbangun kahyangan mangejawantah pitutur pitudug pitulungan punakawan wayang

Doc: Wayang(dot)wordpress(dot)com

Perkara yang tak pernah absen dalam dinamika hiruk pikuk disetiap ajang kontestasi politik di Indonesia sampai sekarang ini adalah pencari-carian terhadap sosok sang Satriyo Piningit. Apalagi bagi masyarakat jawa yang masih memegang nilai-nilai kebudayaan jawanya.

Sosok satriyo piningit kali pertama muncul berdasarkan ramalan (jangka) Jayabaya, Maharaja di Kediri pada 1135-1157 M. Ramalan ini menggambarkan satriyo piningit sebagai orang yang jujur, cerdas dan peduli terhadap sesama.

            Kepercayaan terhadap sosok satriyo piningit ini pasti akan muncul didalam masyarakat yang masih bersifat tradisional dan semakin mekar karena tumpukan rasa kekecewaan terhadap para pemimpin yang ada sekarang. Jurang kemiskinan, penderitaan dan ketidakberdayaan adalah pemicu utama munculnya imaji akan datangnya juru selamat.

Penafsiran siapa satriyo piningit berdasar jangka Jayabaya yang sering muncul selama ini memang lebih mengarah ke urutan presiden Indonesia sampai yang ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Namun saya berupaya untuk menafsirkan ramalan Jayabaya tentang satriyo piningit yang berisi tujuh pitutur ini secara berbeda.

Read more of this post

Advertisements

Kemiskinan dan Money Politics

Galamedia Bandung 19 Juni 2014

Doc: Epaper Galamedia Bandung 19 Juni 2014

KEMISKINAN merupakan perma­salahan sistemik yang daya ledak­nya bersifat multidimensional. Ber­bagai tindakan nekat, seperti pencurian, perampokan, penjarahan, dan bentuk-bentuk kriminal lainnya tak dapat dimungkiri salah satu penyebabnya adalah faktor kemis­kin­an (baca: kekurangan). Bahkan akibat dari kemiskinan yang begitu akut, orang nekat mengakhiri hi­dup dengan caranya sendiri.

Dalam kerangka demokrasi elektoral yang berbasis pada sistem perwakilan seperti di Indonesia seka­rang ini, menurut analisis saya ada semacam relasi yang saling meme­ngaruhi antara kemiskinan dan mo­ney politics (politik uang). Ar­ti­nya sejalan maraknya politik tran­saksional dalam bentuk money po­litics seperti yang terlihat dalam Pemilu Legislatif 9 April lalu, mencampakkan pengaruh struktural kemiskinan di masyarakat adalah sebuah kesalahan besar.

Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam melihat problematika money politics. Salah satunya dengan pendekat­an buda­ya dan instrumental. Dalam pende­katan berbasis budaya, money politics dimaknai sebagai konsekuensi dari adanya budaya yang berkembang di masyarakat selama ini. Se­perti budaya “ewuh pakewuh” be­rupa perasaan tidak enak ketika ti­dak menerima atau menolak pem­be­­rian orang, yang kemudian ber­lanjut menjadi perasaan tidak enak ketika menerima sesuatu, tapi tidak memberikan timbal balik kepada yang memberi.

Read more of this post