Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: IMF dan LoI

Menegakan Kedaulatan Pangan

KRJogja selasa 10 September 2013

Doc: Epaper KRJogja Online

Gonjang-ganjing terus melonjaknya harga kedelai di pasaran, kini telah memenuhi headline di berbagai media dan perbincangan hangat ditengah masyarakat. Kedelai ini sendiri merupakan bahan baku tahu dan tempe yang notabennya merupakan salah satu makanan khas yang digemari seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Naiknya harga kedelai, turut berimbas pada naiknya biaya produksi pembuatan tahu dan tempe, yang kemudian menjadikan mahalnya kedua komoditas tersebut dan membuat permintaan dari konsumen pun menurun. Keadaan tersebutlah yang membuat para pengrajin tempe terancam gulung tikar.

Terus simultannya lonjakan harga kedelai dari tahun ke tahun ini dikarenakan terus didektenya kebijakan Pemerintah oleh mekanisme pasar. Hal ini dimulai sejak ditandatanganinya Letter of Intent (LoI) antara Pemerintah Indonesia dengan IMF.

Salah satu hasil LoI adalah liberalisasi pertanian dan reformasi BULOG. Kesepakatan itu dituangkan dalam “Memorandum Kebijakan Ekonomi dan Keuangan” (Memorandum of Economic and Financial Policies), yang ditanda tangani Pemerintah Indonesia dengan IMF pada awal tahun 1998 (winarno, 2012).

Read more of this post

Advertisements

Pengaruh Kebijakan Liberalisasi Pangan Indonesia, Terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Pendahuluan

Sudah hampir 67 tahun lebih Negara Indonesia ini merdeka, bangsa ini pun telah banyak ditempa, lewat berbagai perjalanan yang berlika-liku serta lewat berbagai problematika panjang yang dilewatinya. Akan tetapi pencapaian pembangunan kesejahtraan serta kemakmuran bagi masyarakat sampai saat ini masih juah dari kata berhasil. Masalah kemiskinan, pengangguran, kelaparan, konflik kekerasan serta Korupsi seakan terus menghantui perjalanan Negara Indonesia hingga saat ini.

Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa Negara Indonesia ini adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam yang terkandung di dalam atau diluar buminya. Soekarno pun pernah mengungkapkan bahwa Negara ini merupakan Negara yang “Gemah Ripah loh Jinawi” serta “Subur Makmur dan Sentosa”. Atau ungkapan lirik dari lagu Koes Plus bahwa “Tongkat ditanam jadi Tumbuhan” yang menyiratkan akan kekayaan dan kesuburan tanah Indonesia tersebut.

“Ada Gula, ada Semut” pepatah tersebutlah yang terjadi di Indonesia. Dengan kesuburan tanah yang ada telah menarik para penduduknya untuk bekerja mencari nafkah mayoritas sebagai Patani. Bahkan data dari BPS pada tahun 2010 menyebutkan hampir 60% penduduk Indonesia merupakan pekerja di sector pertanian. Julukan sebagai Negara Agraris pun pantas disandang oleh Indonesia, dengan melihat fakta-fakta tersebut.

Akan tetapi muncul suatu ironi di dalam Indonesia sebagai Negara Agraris ini. Hampir terhitung sejak tahun 1998 hingga sekarang ini Indonesia malahan menjadi Negara pengimpor bahan pangan terbesar di dunia, meskipun pada pertengahan 1980an Indonesia sempat swasembada beras. Pada periode 1998 sampai 2000, sebagai missal Indonesia menjadi net importer bahan pangan rata-rata US$ 863 juta per tahunnya[1]. Itu merupakan pertanyaan besar, ketika kita melihat data& fakta bahwa Indonesia merupakan Negara Agraris seperti ini.

Read more of this post