Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: Kr Jogja

Membonsai Nalar Kritis Pendidikan

KRJogja 16 September 2014

Doc: Epaper KR-Jogja 16 September 2014

Lahirnya Permendikbud 49/2014 tentang standart nasional pendidikan tinggi (SNPT) tak dapat dipungkiri telah menistakan hakikat pendidikan itu sendiri. Melalui peraturan tersebut terjadi standartisasi bahwa lama pendidikan s1 /d4 adalah maksimal 5 tahun dan bila melebihi batas maka akan diacam Drop Out (DO).

Logika pemerintah dalam memaknai dunia pendidikan tersebut menempatkan pendidikan sebagai bagian dari investasi, artinya pendidikan dijerumuskan pada hitung-hitungan untung rugi sebagaimana logika ekonomi. Pendidikan pada akhirnya disalah artikan hanya sebagai jenjang untuk dapat memperoleh pekerjaan dan itulah logika dari pendidikan yang selaras dengan logika kapitalisme.

Dalam nalar kapitalisme ini, ilmu yang didiseminasikan kepada peserta didik adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat Industri, dengan mengorbankan aspek Critical Subjectivity, yaitu kemampuan untuk melihat dunia secara kritis. Sistem pendidikan tersebut menempatkan peserta didik hanya menjadi skrup-skrup pada mesin Industri, bukan sebagai manusia yang memiliki kemerdekaan dalam dirinya.

Read more of this post

Advertisements

Berpikir Kritis dan Krisis Berpikir

KRJogja 17 Juni 2014

Doc: Epaper KR-Jogja 17 Juni 2014

Geliat ajang kontestasi pemilihan presiden (pilpres) pada 09 Juli 2014 terus mengemuka. Pertarungan politik tidak hanya terjadi ditataran para elit-elit politik nasional, akan tetapi juga  merangsek  ke tingkat masyarakat paling bawah. Ruang-ruang publik kita bahkan dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang bersifat serius serta bersifat sendau gurau tentang dinamika pilpres 2014 yang akan mempertarungkan kandidat pasangan Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta ini.

Namun ada hal cukup menggelitik, yaitu terjadinya banalitas berfikir ketika kita menyimak dinamika pilpres ini didalam media sosial seperti Facebook, Twitter serta Kolom komentar berita online. Disana terjadi semacam perdebatan dengan dibumbui ego yang bahkan sampai tak masuk dinalar.

Masing-masing pihak berusaha dengan segala cara menyerang dan membela mati-matian kandidat calon yang dijagokannya. Sebenarnya hal tersebut tidaklah salah atau menyimpang. Akan tetapi penyimpangan yang terjadi adalah pembelaan atau penyerangan yang dilakukan lebih mengarah ke kampanye hitam. Itu terjadi karena argument yang digunakan jauh dari faktualitas serta digunakannya situs berita fiktif yang tak berbasis fakta empiris dan cenderung menyebarkan fitnah sebagai informasi utama.

Read more of this post

Otonomi Desa dan Laju Urbanisasi

KRJogja 18 Januari 2014 a

Doc: Epaper KR Jogja 18 Januari 2014

Problematika Urbanisasi merupakan masalah dilematis yang dialami oleh kota-kota besar di Indonesia sampai sekarang ini. Dinamika hubungan antara kota dan desa didalam kapitalisme kontenporer telah menciptakan keterkaitan yang timpang terutama di Negara-negara pinggiran seperti Indonesia ini. Kawasan perkotaan didesain menjadi arena produksi berbagai industri, sedangkan kawasan pedesaan didesain tak lebih untuk menjadi sumber pemasok tenaga kerja yang dipekerjakan di kota-kota basis industri tersebut.

Artinya kue-kue yang begitu menggunung diperkotaan telah menarik gairah masyarakat desa untuk menjamahnya serta mengadukan nasib mereka ke kota. Arus urbanisasi ini menemukan titik kulminasinya ketika kehidupan masyarakat pedesaan disatu sisi mengalami pemiskinan struktural. Itu terjadi karena kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah cenderung bias kota, sehingga membuat desa tak lebih sebagai tempat berkumpulnya orang-orang tua yang tak mungkin lagi bergelut dengan kerasnya dunia kerja di kota. Sedangkan para pemudanya pergi merantau untuk mencari sumber penghidupan, karena pertanian sudah tidak dianggap lagi dapat memberikan kehidupan yang layak bagi mereka.

Kemiskinan di Pedesaan

            Kehidupan di pedesaan yang bersifat komunal tak dapat dilepaskan dari dunia pertanian. Pertanian seolah melekat dengan kehidupan masyarakat desa, dari sejak jaman dulu sampai sekarang ini. Namun seiring berjalannya waktu pertanian di Negara agraris ini terus mengalami berbagai kemunduran. Kebijakan revolusi hijau yang digerakan oleh pemerintah pada masa Orde Baru, merupakan awal dari terciptanya proses deagrarianisasi secara terstruktur.

Read more of this post