Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: Kualitas dan Kuantitas Pendidikan

Onani Intelektual dan KKN

onani ilmu pengetahuan

Doc: education-education

Pendidikan dapat dianologikan seperti dua mata pedang yang saling berlawanan. Artinya pendidikan di satu sisi dapat menjadi pedang pembebasan dan penciptaan keadilan, kesejahteraan serta kemakmuran bagi manusia. Tetapi di sisi yang lain dapat menjadi alat pengekang, penindas dan perampas kemerdekaan manusia. Itu semua sangat tergantung di mana ruang dan waktu pendidikan itu bersemayam serta diarahkan.

Di era sekarang ini, di mana dominasi Kapitalisme telah merasuk secara besar ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Hakikat dari pendidikan pun telah mengalami pergeseran. Hakikat pendidikan yang menurut Noam Chomsky (2008) sebagai alat untuk menstimulasi “kesadaran kritis” dan mengajarkan para peserta didik untuk menemukan kebenaran bagi dirinya serta orang disekitarnya. Kini telah terkungkung di dalam sebuah dominasi Culture Positivism, yang di mana pendidikan hanya digunakan untuk membuat para Intelektual hasil didikannya beradaptasi terhadap dunia industri serta membentuknya menjadi manusia-manusia yang mengorientasikan kehidupannya bagi dirinya sendiri.

Read more of this post

Bendera Setengah Tiang Tawuran Pelajar

Doc: Suara Pembaharuan

LAGI dan lagi, potret pendidikan nasional Indonesia harus tercoreng untuk kesekian kalinya. Tawuran antarpelajar seakan sudah menjadi tren bagi kaum terpelajar di negeri ini dalam menyikapi goresan percikan suatu keadaan atau konflik sosial. Kekerasan sudah dianggap sebagai cara yang paling ampuh dalam menyelesaikan masalah. Cara-cara bak segerombolan preman pun diagung-agungkan dibandingkan cara yang terdidik dan bijaksana yang pasti akan lebih menggambarkan status sosial mereka sebagai kaum pelajar, tulang punggung masa depan bangsa.

Tiang-tiang pendidikan di Indonesia seakan rapuh dan lapuk serta tak mampu lagi menyangga beratnya problem pendidikan yang datang silih berganti tiada hentinya. Maraknya peristiwa tawuran antarpelajar merupakan cermin bobroknya sistem pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya berperan sebagai alat pembentuk sikap, karakter, mental, moral, kepribadian dan pengasah kecerdasan intelektual anak, kini telah kabur dan tak terlihat perannya. Tak heran, ledakan tawuran dan kenakalan remaja tidak dapat lagi dibendung dan diredam oleh sistem pendidikan yang mereka terima.
 
Akar Permasalahan
 
Baru-baru ini, tawuran yang melibatkan pelajar SMAN 6 Jakarta dan SMAN 70 Jakarta menewaskan seorang pelajar dan dua di antaranya luka-luka (Okezone, 25/9/2012). Kejadian tersebut menambah panjang potret kelam pendidikan kita. Bahkan, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 2011 saja, telah terjadi 339 kasus tawuran pelajar dan menewaskan 82 pelajar. Sungguh sangat memilukan!
Read more of this post

Menimbang Perguruan Tinggi

doc: snmptn.ac.id

doc: snmptn.ac.id

TIDAK dapat dimungkiri, seiring dengan terus berkembangnya zaman, kesadaran akan pentingnya sebuah pendidikan yang baik, bermutu dan berkualitas juga semakin dirasakan oleh berbagai kalangan. Mereka pun banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam, hanya agar putra atau putrinya menjadi kaum terdidik, serta memiliki wawasan dan pengetahuan yang dapat menjadi bekal mereka dalam mengarungi geliat zaman.
Masa-masa ketika para pelajar SMA mencapai titik akhir masa sekolah merupakan suatu keadaan yang sulit. Mereka dihadapkan pada beberapa pilihan, apakah akan mengarungi dunia kerja, melanjutkan studi ke perguruan tinggi, atau yang lainnya.

Tetapi ketika memilih untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, masalah pun tidak langsung berakhir karena pilihan lainnya harus mereka hadapi. Kampus mana yang harus mereka pilih, dan program studi apa yang akan menjadi basis pendidikan mereka nantinya. Indonesia sendiri memiliki 46 universitas negeri, enam institut negeri, dan 19 politeknik negeri. Di samping itu, juga terdapat 2.700 perguruan tinggi swasta (PTS) dengan sedikitnya 11 ribu jurusan dan program studi.
 
Pertimbangan dalam menentukan pilihan

Dengan demikian, kecermatan serta kejelian dalam memilih perguruan tinggi serta program studi sangatlah diperlukan, sebagai sebuah fondasi awal dalam mengarungi masa pendidikan di kampus. Selain itu, ada beberapa hal yang juga patut dipertimbangkan oleh para pelajar dalam menentukan pilihan studi.
  Read more of this post