Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: Lampung Post

Hilangnya Politik Rakyat

Lampung Post 13 Februari 2014 a

Doc: Epaper Lampung Post 13 Februari 2014

Politik itu semacam belati, disatu sisi dia dapat membahagiakan kita namun disisi yang lain dia dapat menyiksa kita. Politik tanpa pertarungan adalah omong kosong dan politik tanpa konflik hanya akan menciptakan kediktatoran. Maka pemahaman akan politik menjadi sangat penting, untuk bagaimana dapat memperjuangkan nasib kita menjadi lebih baik lagi. Apalagi didalam sistem demokrasi seperti sekarang ini.

Ajang kontestasi politik di Juni 2014 nanti sudah begitu dekat. Gelora perpolitikan seolah menggema disegala penjuru Indonesia. Akan tetapi sampai sekarang masih banyak masyarakat yang tak lagi percaya dengan tangan gaib politik. Bahkan politik selalu dilekatkan dengan kebobrokan dan keporak-porandaan. Kerangka berfikir masyarakat yang memanifestasikan politik kearah negatif ini bukan tanpa sebab, itu karena setelah paska reformasi ditengah kebebasan informasi publik, mereka menyaksikan gelontoran perilaku negatif (korupsi, kebijakan yang tak pro-rakyat dan tindakan melanggar hukum lainnya) yang dijalankan oleh pemerintah.

Read more of this post

Masa Depan Pemuda di Pertanian

Lampung Post 06 Desember 2013

Doc: epaper LampungPost 06 Desember 2013

“Petani terlonta-lonta di negeri lumbung padi”, mungkin ungkapan tersebut sesuai dengan keadaan yang dialami para petani Indonesia sekarang ini. Data pada survey pertanian (SP) di tahun 1993 memperlihatkan jumlah petani gurem ada 10,9 juta keluarga, sedangkan pada SP 2003 angka itu naik menjadi 13,7 juta keluarga, bertambah 3,8 juta keluarga dalam 10 tahun. Di Pulau Jawa, dari setiap empat petani, tiga adalah petani gurem (Kompas, 16/05/2013). Meningkatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tersebut menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan di desa.

Peningkatan jumlah petani gurem tersebut pasti akan melonjak tajam pada SP 2013 ini. Data sementara SP 2013 menunjukan bahwa dari 31,17 juta rumah tangga pertanian pada SP 2003, menagalami penurunan menjadi hanya 26,13 juta rumah tangga pada SP 2013, atau selama 10 tahun Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani.

Ketiadaan regenerasi di lingkaran pertanian merupakan penyebab utama berkurangnya jumlah petani ini. Artinya keengganan para pemuda untuk menekuni dunia pertanian, merupakan salah satu hal yang melandasi berkurangnya jumlah petani ini.

Read more of this post

Paradoks Petani di Negeri Agraris

Lampung Post 18 november 2013 a

Doc: epaper LampungPost 18 November 2013

Sebuah Pameo “Negara Agraris, ingkari Agraria”, mungkin menjadi hal yang tepat untuk menggambarkan tentang problematika yang menghimpit para petani di penjuru wilayah Indonesia sekarang ini. Itu dapat terlihat salah satunya melalui data dari BPS pada 2012 yang melaporkan bahwa jumlah petani terus berkurang 3,1 juta/tahun (7,24% populasi) dan 100.000 hektar lahan pangan dikonversi setiap tahunnya (Kompas, 12/06/2012).

Atau berdasarkan hasil sensus pertanian yang dilakukan pada 2013 ini. Yang menunjukan terjadinya penurunan yang cukup tajam dari prosentase rumah tangga usaha pertanian (RTP) di Indonesia. Dimana terjadi penurunan jumlah RTP mencapai 16,18% dibandingkan sensus pertanian pada 2003 yang lalu. Atau dari 31,17 juta jumlah RTP pada sensus pertanian pada tahun 2003, kemudian berkurang menjadi 26,126 juta RTP pada sensus pertanian 2013 ini.

Sedangkan disisi yang lain terjadi peningkatan yang cukup tajam dari presentase perusahaan pertanian berbadan hukum, yang mengalami peningkatan mencapai 36,77% bila dibandingkan dengan sensus pertanian pada tahun 2003. Atau dari 4.011 pada sensus pertanian di tahun 2003 menjadi 6.174 perusahaan didalam sensus pertanian 2013 ini.

Read more of this post

Politik Tergusur Mekanisme Pasar

Lampung Post 27 Juni 2013

Doc: Epaper Lampung Post Online

Mendengar kata “politik” sebagian besar masyarakat awam di Indonesia sekarang ini pasti akan merujuk kepada konflik kepentingan (dalam arti negatif), perilaku koruptif dan manipulatif yang dilakukan oleh para pejabat publik untuk kepentingan kekuasaannya. Artinya politik dianggap sebagai barang haram yang selalu lekat dengan efek negative didalamnya.

Bingkai berfikir tersebut tidak terlepas dari sokongan pemberitaan di media yang secara tidak langsung menyelaraskan politik dengan tindakan negatif yang menyimpang. Namun, apakah benar politik seperti itu telah membuat kemandulan pada sistem pemerintahan kita dan telah mengarah ke tindakan-tindakan menyimpang yang dapat kita lihat sekarang ini, seperti perilaku korupsi dan manipulasi, ketidakberpihakan kebijakan kepada rakyat serta porak-porandanya sistem demokrasi ini?

Bagi penulis adalah tidak. Karena fenomena yang tengah terjadi di dalam aras gejolak demokrasi di Indonesia sekarang ini bukan peristiwa yang disebabkan oleh politik. Akan tetapi, karena hilangnya politik itu sendiri di dalam relasi demokrasi dan pengambilan keputusan.

Read more of this post