Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: map corner-klub mkp ugm

Genosida Intelektual (Intellectualcide): Pemberangusan Ideologi dan Kaum Kiri di Kampus Indonesia Pasca September 1965

doc: tempo

doc: tempo

Gerakan kontra-revolusi (Tragedi 1965) yang telah memukul mundur kesadaran dan kapasitas rakyat untuk memperjuangkan kehidupan mereka turut menghantam kehidupan Kampus-kampus di Indonesia. Kampus sebagai ruang kebebasan akademik tak luput dari pusaran kejahatan kemanusiaan. Civitas akademik di Kampus dari dosen, staf dan mahasiswa banyak yang dipecat, ditangkap dan tidak diketahui nasibnya. Mereka dianggap sebagai kaum kiri yang oleh militer pro-Soeharto dituduh terlibat pada peristiwa 30 September 1965.

Peristiwa kejahatan kemanusiaan1965 turut membentuk bangunan dan wajah kampus di Indonesia sekarang ini. Bagaimana tragedi 1965 mengubah wajah kampus di Indonesia (kurikulum, dosen, kebebasan akademik)? Apa dampak dari perubahan di masa itu yang hingga kini tetap kokoh bertahan? Apa implikasinya bagi masa depan kampus di Indonesia? Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, MAP Corner-klub MKP UGM pada selasa 24 November 2015 mencoba mendiskusikannya bersama Abdul Wahid, seorang dosen di jurusan Sejarah UGM.

Read more of this post

Advertisements

Genosida Rohingya dan Bisnis Migas di Myanmar

Rohingya Carikatur islam budha hindu kekerasan genosida konflik agama

Sumber: Rohama(.)org

Melihat permasalahan Rohingya hanya sebatas dengan sudut pandang sentimen agama adalah suatu hal yang cukup naïf dan cenderung mereduksi akar permasalahan utama dalam konfigurasi ekonomi-politik di Myanmar dan juga Dunia. Dalam perspektif ilmu politik, “agama” itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi, ia dapat menjadi pendorong perdamaian, namun disisi yang lain bisa dengan mudah diprovokasi untuk memicu konflik sosial. Faktor ekonomi-politik dan kesadaran menjadi pendorong ke sisi mana agama tersebut akan dibawa.

Kekerasan sistematis terhadap etnis Rohingya yang beragama muslim oleh warga mayoritas Budha (terutama etnis Arakan) di Myanmar bukanlah kekerasan antar agama yang tak terdamaikan. Dengan analisa sentimen agama tersebut kita tak akan dapat membaca bagaimana hubungan intim Amerika Serikat dengan penguasa feodal Bani Saud di Arab Saudi, tentang invasi Arab Saudi ke Yaman yang dibantu AS dan Israel, tentang politik Arab Saudi yang membiayai oposisi yang berperang dengan Bashar Assad di Suriah, tentang kemunculan Al-Qaeda ataupun ISIS yang disponsori Arab Saudi dan AS atau juga tentang bagaimana politik luar negeri AS selama puluhan tahun mensponsori diktator-diktator militer Amerika Latin pembunuh ribuan rakyatnya yang, sebagaimana  mayoritas penduduk negeri adidaya itu, mengimani Injil. Jadi akar konflik tersebut bukanlah agama, akan tetapi uang dan kekuasaan.

Read more of this post