Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: media massa

Melindungi Pemilih Pemula

Metro Riau 11 Maret 2014

Doc: Epaper Metro Riau 11 Maret 2014

Pesta akbar ajang kontestasi politik didalam iklim demokrasi di Indonesia sebentar lagi akan segera dimulai. Ditahun politik ini, berbagai strategi dan cara dilakukan oleh para calon wakil rakyat serta partai politik untuk bagaimana dapat mempengaruhi pilihan konstituen demi masa depan mereka di parlemen nantinya. Kecenderungan partai politik di Indonesia pada dewasa ini yang tidak berbasis pada kekuatan massa serta cenderung secara kolektif mengabaikan komitmen idiologis dan programatis, membuat partai-partai tersebut harus tercerabut dari lingkaran massa konstituen.

Melihat tercerabutnya partai dari basis konstituen, membuat partai lebih memilih strategi politik instan untuk mengarungi pemilu. Didalam politik instan inilah kampanye bersifat praktis ditonjolkan sebagai alat pembentuk citra (politik pencitraan). Artinya partai-partai ini tidak menggunakan strategi terstruktur dan programatis yang lebih bersifat jangka panjang dan dapat bermanfaat bagi rakyat karena aksi kolektif yang dijalankan.

Secara garis besar upaya-upaya stategi politik instan tersebut adalah untuk dapat membentuk citra positif di mata rakyat, dan terutama sekali adalah pada barisan “masa mengambang” yang sampai pemilihan umum hampir tiba cenderung belum menentukan pilihannya serta mudah terpengaruh oleh politik pencitraan. Barisan masa mengambang ini kebanyakan adalah para pemilih pemula.

Read more of this post

Membongkar Problematika Politik Pencitraan

politik pencitraan demi kursi pemerintahan

Doc: Inilah.com

Dalam Negara yang menganut sistem demokrasi seperti Indonesia, peran dari Media begitu penting. Baik di dalam membawa berita serta informasi, membawa nilai-nilai pendidikan kepada publik, melakukan pengawasan sosial, memberikan hiburan, dan memediasi pewarisan nilai-nilai antargenerasi (Gazali, 2010). Bahkan Media tersebut, sering disebut sebagai Pilar ke-4 di dalam Rumah besar Demokrasi, setelah lembaga-lembaga Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif.

Bergulirnya roda Demokrasi yang dibarengi dengan pelaksanaan Pemilihan Umum (PEMILU), untuk memilih setiap pemimpin di tingkat nasional maupun lokal di Indonesia, telah menjadikan media sebagai salah satu alat utama yang digunakan dalam mendukung Kampanye Politik dari para kandidat calon Pemimpin tersebut.

Mengurai akar Politik Pencitraan

Namun, penggunaan berbagai media di dalam mendukung kampanye politik telah banyak disalah artikan dan disalah gunakan, hanya untuk mencapai tujuan sesaat nan pragmatis. Sehingga muncul suatu fenomena yang bernama Politik Pencitraan (Political Imagery).

Politik Pencitraan itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menarik simpati publik dengan menjual hasil-hasil atau pencapaian serta janji-janji semu nan palsu serta mengeksploitasi segala tindakan-tindakan populis yang dibuat-buat dan mengesampingkan berbagai hal-hal yang sebenarnya lebih subtansial dan lebih penting dari pada hanya sekedar mengejar populitaritas citra semata.

Read more of this post

Mencari Pemimpin yang Benar-benar Merakyat

Akhir-akhir ini, mata kita mungkin terus disuguhi tentang berbagai adegan atau tindakan dari para politisi atau wakil rakyat negeri ini yang memperlihatkan kesederhanaan mereka di berbagai media Massa. Dari yang berdesak-desakan dengan masyarakat kecil saat menumpangi Kereta Api sampai yang naik angkot serta ojek, bahkan ada yang sampai berlari hanya untuk mengejar sebuah angkot untuk ditumpanginya. Seolah mereka ingin menunjukan bahwa mereka merupakan orang-orang yang merakyat dengan berbagai kesederhanaannya. Apa yang telah dilakukan oleh para politisi tersebut memberikan pandangan yang berbeda kepada masyarakat, disaat politisi yang lain sedang terbuai dengan kehidupan Hedonismenya masing-masing.

Ditengah hiruk pikuk tentang masalah-masalah yang terus menerpa negeri ini, dari kasus korupsi, suap-menyuap, gerakan separatis sampai konflik agrarian serta pertambangan, tindakan tersebut ibarat sebuah angin segar ditengah krisis kepercayaan yang telah menyandra masyarakat selama ini. Mereka antara lain Abraham Samad (Ketua KPK), Bambang widjoyanto (Pemimpin KPK), serta Dahlan Iskan (Menteri BUMN) yang akhir-akhir ini namanya menghiasi berbagai media. Kesederhanaan yang telah mereka pertontonkan di Media Massa tersebut seolah mencairkan opini publik yang beranggapan bahwa Para Wakil Rakyar di Senayan serta para pemimpin di negeri ini merupakan orang-orang yang bergelimang kemewahan.

Tetapi kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah yang telah mereka lakukan tersebut merupakan kemauan dari hati nuraninya yang terdalam atau merupakan sebuah cara atau strategi yang mereka gunakan untuk menarik simpati dari publik atau ada kepentingan-kepentingan lain dibalik apa yang telah mereka lakukan tersebut?

Read more of this post