Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: PEMILU

Kemiskinan dan Money Politics

Galamedia Bandung 19 Juni 2014

Doc: Epaper Galamedia Bandung 19 Juni 2014

KEMISKINAN merupakan perma­salahan sistemik yang daya ledak­nya bersifat multidimensional. Ber­bagai tindakan nekat, seperti pencurian, perampokan, penjarahan, dan bentuk-bentuk kriminal lainnya tak dapat dimungkiri salah satu penyebabnya adalah faktor kemis­kin­an (baca: kekurangan). Bahkan akibat dari kemiskinan yang begitu akut, orang nekat mengakhiri hi­dup dengan caranya sendiri.

Dalam kerangka demokrasi elektoral yang berbasis pada sistem perwakilan seperti di Indonesia seka­rang ini, menurut analisis saya ada semacam relasi yang saling meme­ngaruhi antara kemiskinan dan mo­ney politics (politik uang). Ar­ti­nya sejalan maraknya politik tran­saksional dalam bentuk money po­litics seperti yang terlihat dalam Pemilu Legislatif 9 April lalu, mencampakkan pengaruh struktural kemiskinan di masyarakat adalah sebuah kesalahan besar.

Ada beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam melihat problematika money politics. Salah satunya dengan pendekat­an buda­ya dan instrumental. Dalam pende­katan berbasis budaya, money politics dimaknai sebagai konsekuensi dari adanya budaya yang berkembang di masyarakat selama ini. Se­perti budaya “ewuh pakewuh” be­rupa perasaan tidak enak ketika ti­dak menerima atau menolak pem­be­­rian orang, yang kemudian ber­lanjut menjadi perasaan tidak enak ketika menerima sesuatu, tapi tidak memberikan timbal balik kepada yang memberi.

Read more of this post

Berpikir Kritis dan Krisis Berpikir

KRJogja 17 Juni 2014

Doc: Epaper KR-Jogja 17 Juni 2014

Geliat ajang kontestasi pemilihan presiden (pilpres) pada 09 Juli 2014 terus mengemuka. Pertarungan politik tidak hanya terjadi ditataran para elit-elit politik nasional, akan tetapi juga  merangsek  ke tingkat masyarakat paling bawah. Ruang-ruang publik kita bahkan dipenuhi dengan obrolan-obrolan yang bersifat serius serta bersifat sendau gurau tentang dinamika pilpres 2014 yang akan mempertarungkan kandidat pasangan Jokowi-JK dengan Prabowo-Hatta ini.

Namun ada hal cukup menggelitik, yaitu terjadinya banalitas berfikir ketika kita menyimak dinamika pilpres ini didalam media sosial seperti Facebook, Twitter serta Kolom komentar berita online. Disana terjadi semacam perdebatan dengan dibumbui ego yang bahkan sampai tak masuk dinalar.

Masing-masing pihak berusaha dengan segala cara menyerang dan membela mati-matian kandidat calon yang dijagokannya. Sebenarnya hal tersebut tidaklah salah atau menyimpang. Akan tetapi penyimpangan yang terjadi adalah pembelaan atau penyerangan yang dilakukan lebih mengarah ke kampanye hitam. Itu terjadi karena argument yang digunakan jauh dari faktualitas serta digunakannya situs berita fiktif yang tak berbasis fakta empiris dan cenderung menyebarkan fitnah sebagai informasi utama.

Read more of this post

Pilpres 2014 dan Reformasi Agraria

26-ReformaAgraria-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

SEBUAH pameo “Petani teraniaya di negeri lumbung padi” dan “Negeri agraris, ingkari agraria” merupakan sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tentang bagaimana penderitaan yang dialami petani di negeri yang subur dan kaya sumber daya alam seperti Indonesia ini.

Hakikatnya, kesuburan tanah akan berbanding positif dengan kesejahteraan para petani karena petani bekerja dengan menggunakan tanah sebagai objek utamanya.

Namun, keadaan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi para petani di Indonesia sekarang ini. Kondisi pertanian justru mengalami penurunan secara progresif di dalam ekonomi nasional dan sebagai sumber penghidupan para petani. Akibatnya, proses deagrarianisasi pun terjadi, yang dengan para petani mulai meninggalkan pekerjaannya tersebut untuk mencari sumber penghidupan lain.

Itu karena pertanian sudah dianggap tidak lagi sebagai pekerjaan yang dapat memberikan masa depan kehidupan layak bagi keluarga mereka.

Read more of this post

Pemilu dan Rekonstruksi Gerakan Mahasiswa

Lampung Post 06 Mei 2014 a

Doc: Epaper Lampung Post 06 Mei 2014

Di dalam sejarah negara-negara di dunia, tak dapat dipungkiri bahwa peran dari para mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan telah mampu menciptakan berbagai dinamika ekonomi politik kekuasaan. Di Indonesia, gerakan mahasiswa telah mampu menggulingkan rezim Soekarno dan Soeharto. Namun, perlu dipahami bahwa gerakan mahasiswa bukanlah sebagai penyulut utama terciptakan gerakan revoluisioner di berbagai negara, akan tetapi mereka hanyalah sebagai katalisator.

“Gerakan mahasiswa sekarang telah berada di persimpangan jalan,” ungkapan tersebut mungkin lazim kita temui, sebagai satir untuk mempertanyakan eksistensi dari para mahasiswa di dalam aras dinamika ekonomi-politik sekarang ini. Artinya, ada kekecewaan terhadap para mahasiswa karena harapan yang diembankan kepadanya tidak mampu untuk benar-benar diwujudkan.

Mengartikulasikan Peran Mahasiswa

Di dalam kehidupan masyarakat lokal di Indonesia, mahasiswa telah menempati strata status sosial yang tinggi. Itu karena mahasiswa telah berada di dalam jenjang pendidikan tertinggi, yaitu perguruan tinggi atau universitas. Artinya, mahasiswa adalah bagian dari kaum intelektual atau cendikiawan. 
Read more of this post

Peta(ka) Parpol Tak Beridiologi

Doc: Epaper Majalah Voting edisi XXXVIII

Doc: Epaper Majalah Voting edisi XXXVIII

Didalam demokrasi elektoral yang mensyarakat mekanisme perwakilan, partai politik (parpol) mengemban peran cukup sentral disana. Parpol adalah tempat atau wahana bagi para masyarakat untuk memperjuangkan kehidupan mereka dan juga untuk ikut berpartisipasi didalam menjalankan roda kehidupan bernegara. Posisi demokrasi didalam kerangka tersebut adalah sebagai wadah terjadinya pertarungan politik dari setiap kelompok masyarakat yang terejawantahkan melalui parpol didalam arena ajang kontestasi politik dan disetiap aras kebijakan dari pemerintah.

Kenyataan terssebut membuat parpol harus menjadi semacam kendaraan dari eksponen masyarakat yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Artinya parpol harus memiliki idiologi sebagai pegangan didalam menentukan arah geraknya. Tanpa idiologi didalam tubuh parpol ini, maka yang terjadi parpol tak lebih sebagai kendaraan dari para elit didalamnya. Hal tersebutah yang kemudian mengkerangkeng parpol pada tujuan yang cenderung pragmatis dan oportunis.

Wajah Parpol di Indonesia

            Bila dianalisis secara mendalam, parpol-parpol yang tengah berkompetisi diajang pemilu 2014 nanti hampir tak ada yang memiliki idologi politik. Dari 12 parpol nasional tersebut, mereka cenderung memilih untuk bersifat ketengah atau mencari aman. Ketiadaan idiologi didalam tubuh parpol ini dapat dilihat dari perilaku partai yang lebih didorong oleh Office seeking, Vote seeking dan Policy seeking (Dwipayana, 2014).

Read more of this post

Dinamika Lingkaran Setan PEMILU

Mendengar kata PEMILU (Pemilihan Umum), mungkin yang terfikir di benak kita adalah terciptanya pertarungan atau persaingan antar elit Politik dalam pencapaian kekuasaan. Persaingan dalam menarik simpati serta suara terbanyak dari Rakyat (selaku pemilih) merupakan suatu jalan untuk memenangkan pertarungan tersebut. Sehingga Rakyat dalam hal ini merupakan pemegang kunci atau tokoh utama yang diperebutkan hak suaranya.

Segala cara dilakukan oleh para calon untuk merebut hati Rakyat, perang program kerja dan Janji-janji politik merupakan salah satu caranya. Namun itu semua sudah terdengar tidak menarik lagi di telinga para rakyat. Mereka merasa bahwa program serta janji tersebut hanyalah harapan palsu atau omong kosong semata.

Pandangan tersebut merupakan sebuah refleksi dari kekecewaan yang sekian lama telah mereka alami. Mereka menggunakan tolak ukur pada PEMILU-PEMILU yang sebelumnya pernah mereka jalani, yang dimana selalu tidak pernah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Bagaimana program-program serta janji-janji yang disuarakan dengan lantang oleh para colan saat berkampanye dengan begitu menjanjikan, namun setelah terpilih, sekali lagi tetap tidak ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang dulunya miskin masih tetap menjadi rakyat miskin, yang dulunya pengangguran masih tetap tidak dapat pekerjaan, yang dulunya tidak sekolah masih tetap tidak bersekolah, dll.

Read more of this post