Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: pemimpin

Satriya Piningit

semar mbangun kahyangan mangejawantah pitutur pitudug pitulungan punakawan wayang

Doc: Wayang(dot)wordpress(dot)com

Perkara yang tak pernah absen dalam dinamika hiruk pikuk disetiap ajang kontestasi politik di Indonesia sampai sekarang ini adalah pencari-carian terhadap sosok sang Satriyo Piningit. Apalagi bagi masyarakat jawa yang masih memegang nilai-nilai kebudayaan jawanya.

Sosok satriyo piningit kali pertama muncul berdasarkan ramalan (jangka) Jayabaya, Maharaja di Kediri pada 1135-1157 M. Ramalan ini menggambarkan satriyo piningit sebagai orang yang jujur, cerdas dan peduli terhadap sesama.

            Kepercayaan terhadap sosok satriyo piningit ini pasti akan muncul didalam masyarakat yang masih bersifat tradisional dan semakin mekar karena tumpukan rasa kekecewaan terhadap para pemimpin yang ada sekarang. Jurang kemiskinan, penderitaan dan ketidakberdayaan adalah pemicu utama munculnya imaji akan datangnya juru selamat.

Penafsiran siapa satriyo piningit berdasar jangka Jayabaya yang sering muncul selama ini memang lebih mengarah ke urutan presiden Indonesia sampai yang ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Namun saya berupaya untuk menafsirkan ramalan Jayabaya tentang satriyo piningit yang berisi tujuh pitutur ini secara berbeda.

Read more of this post

Advertisements

Ilusi Sang Ratu Adil

Lampung Post 14 September 2013

Doc: Epaper Lampung Post 14 September 2013

Didalam regime yang demokratis, pemilihan umum (pemilu) merupakan satu-satunya mekanisme kontestasi politik yang absah dan paling utama. Lewat mekanisme ini, para pemimpin ditentukan dan dipilih oleh para pemegang tampuk kekuasaan tertinggi dalam sistem Demokrasi yaitu rakyat.

Pada April 2014 ini, pemilu akan diadakan serentak di seluruh Indonesia baik pemilihan DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten, DPD dan Presiden serta wakil presiden, sehingga pada tahun 2014 banyak kalangan menyebutnya sebagai tahun “politik”.

Hiruk pikuk hajatan pemilu pada April 2014 yang sudah dekat, telah menghadirkan berbagai warna serta wacana tersendiri pada basis konstituen. Sebuah wacana yang pasti selalu muncul disetiap ajang kontestasi politik ini adalah pencarian terhadap sosok sang “ratu adil” (terutama dalam kepercayaan Jawa).

Ratu Adil ini sendiri merupakan sosok pemimpin yang digambarkan sebagai seorang yang bijaksana dan melalui kehadirannya segala keadilan, kemakmuran dan kesejahtraan kehidupan masyarakat diyakini akan dapat dicapai.

Read more of this post

Mencari Pemimpin yang Benar-benar Merakyat

Akhir-akhir ini, mata kita mungkin terus disuguhi tentang berbagai adegan atau tindakan dari para politisi atau wakil rakyat negeri ini yang memperlihatkan kesederhanaan mereka di berbagai media Massa. Dari yang berdesak-desakan dengan masyarakat kecil saat menumpangi Kereta Api sampai yang naik angkot serta ojek, bahkan ada yang sampai berlari hanya untuk mengejar sebuah angkot untuk ditumpanginya. Seolah mereka ingin menunjukan bahwa mereka merupakan orang-orang yang merakyat dengan berbagai kesederhanaannya. Apa yang telah dilakukan oleh para politisi tersebut memberikan pandangan yang berbeda kepada masyarakat, disaat politisi yang lain sedang terbuai dengan kehidupan Hedonismenya masing-masing.

Ditengah hiruk pikuk tentang masalah-masalah yang terus menerpa negeri ini, dari kasus korupsi, suap-menyuap, gerakan separatis sampai konflik agrarian serta pertambangan, tindakan tersebut ibarat sebuah angin segar ditengah krisis kepercayaan yang telah menyandra masyarakat selama ini. Mereka antara lain Abraham Samad (Ketua KPK), Bambang widjoyanto (Pemimpin KPK), serta Dahlan Iskan (Menteri BUMN) yang akhir-akhir ini namanya menghiasi berbagai media. Kesederhanaan yang telah mereka pertontonkan di Media Massa tersebut seolah mencairkan opini publik yang beranggapan bahwa Para Wakil Rakyar di Senayan serta para pemimpin di negeri ini merupakan orang-orang yang bergelimang kemewahan.

Tetapi kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah yang telah mereka lakukan tersebut merupakan kemauan dari hati nuraninya yang terdalam atau merupakan sebuah cara atau strategi yang mereka gunakan untuk menarik simpati dari publik atau ada kepentingan-kepentingan lain dibalik apa yang telah mereka lakukan tersebut?

Read more of this post