Gelora Nurani – Arif Novianto

Mencoba mengukir lengkokan tinta-tinta perlawanan untuk menyampaikan segala ketidak-adilan dan memperjuangkan kebenaran

Tag Archives: penyingkiran petani

Pilpres 2014 dan Reformasi Agraria

26-ReformaAgraria-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

SEBUAH pameo “Petani teraniaya di negeri lumbung padi” dan “Negeri agraris, ingkari agraria” merupakan sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan tentang bagaimana penderitaan yang dialami petani di negeri yang subur dan kaya sumber daya alam seperti Indonesia ini.

Hakikatnya, kesuburan tanah akan berbanding positif dengan kesejahteraan para petani karena petani bekerja dengan menggunakan tanah sebagai objek utamanya.

Namun, keadaan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi para petani di Indonesia sekarang ini. Kondisi pertanian justru mengalami penurunan secara progresif di dalam ekonomi nasional dan sebagai sumber penghidupan para petani. Akibatnya, proses deagrarianisasi pun terjadi, yang dengan para petani mulai meninggalkan pekerjaannya tersebut untuk mencari sumber penghidupan lain.

Itu karena pertanian sudah dianggap tidak lagi sebagai pekerjaan yang dapat memberikan masa depan kehidupan layak bagi keluarga mereka.

Read more of this post

Krisis Kapitalisme & Upaya Perebutan Ruang Hidup Rakyat di Pegunungan Kendeng Utara Pati – Jawa Tengah

24-RageAginstBulldozer-2010

Doc: Nobodycorp Internationale Unltd

Selama kurang lebih 200 tahun, masyarakat Industri Kapitalis telah berkembang melalui berbagai aksi penjarahan dan penghancuran terhadap sumber daya alam yang ada di bumi ini. Imperialisme yang dalam pengertian Lennin merupakan tahap tertinggi dari Kapitalisme telah berhasil menciptakan jalan bagi Kapitalisme ke seluruh penjuru Dunia (Tornquist, 2010: 18). Proses imperialisme yang dilakukan oleh negara-negara barat dengan menjarah Sumber Daya Alam (SDA) dari negeri Jajahan telah membuat ekonomi negaranya seperti sekarang ini. Maka tak salah kalau Mahatma Gandhi mengungkapkan bahwa kalau negeri yang dulu terjajah ingin menyamai ekonomi dari negara barat, maka negeri terjajah ini harus melakukan Imperialisme selama 100 tahun dulu ke negara barat ini.

Salah seorang mahasiswa pertambangan dari Institut Terknologi tertanama di Indonesia pernah mengungkapkan bahwa bumi ini diibaratkan sebagai seekor kambing gemuk, yang kalau dibiarkan pasti akan mati percuma. Begitu pula dengan bumi tandasnya, kalau dibiarkan dan tidak dieksploitasi secara membabi-buta juga pasti akan menjadi hancur sia-sia (Wacana, edisi 26 tahun XXI: 02). Frame berfikir tersebut sangat selaras dengan logika dari kapitalisme kontenporer. Artinya roda produksi harus terus bergerak, ekspansi modal harus terus diputar dan ekploitasi terhadap bahan mentah pun harus terus dilakukan. Ketika proses tersebut berhenti, maka terompet krisis Kapitalisme pun ditiupkan.

Pola produksi dari Kapitalisme yang bersifat anarkis memang telah membuat dunia sedang berada pada titik nadir. Berbagai kelangkaan terhadap bahan-bahan sumber daya alam yang tak terbaharukan seperti minyak, batu bara, logam dan bahan tambang yang lain telah semakin mendekat dikala pola kehidupan tetap seperti ini. Maka para generasi penerus kita pun hanya akan menggigit jari karena tak dapat menikmati manfaat dari sumber-sumber kehidupan yang diciptakan dengan gratis oleh bumi kita ini sebagai akibat keserakahan dibalik selimut kompetisi Kapitalisme. Dan hal yang tak pernah terlepas dari proses moda produksi Kapitalisme selain kerusakan ekologi adalah sebuah proses proletarisasi dengan cara penyingkiran masyarakat terhadap alat-alat produksinya (primitive accumulation), perampasan hak-hak dasar hidup masyarakat yang hasil akhirnya adalah kemiskinan, penderitaan dan penindasan.

Read more of this post

Membangkitkan Roh Reformasi Agraria

Solo Pos 01 April 2014 a reformasi agraria penyingkiran petani

Doc: Epaper Solo Pos 01 April 2014

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah diundang menjadi panelis pada suatu acara debat para calon ketua organisasi di salah satu jurusan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM). Tema diskusi itu cukup menarik karena sesuai dengan konsentrasi bidang yang selama ini digeluti jurusan itu, yaitu tentang reformasi agraria.

Pemilih tema itu memunculkan angin segar seiring semakin hilangnya diskursus reformasi agraria di ranah perdebatan publik. Ternyata masih ada sebagian generasi muda yang berusaha mengangkat agenda yang sangat penting di sektor pertanian ini yang sejak masa Orde Baru sengaja ditenggelamkan.

Namun, saya kaget ketika setelah mendengarkan pemaparan dari para calon kandidat ketua organsiasi di jurusan itu tentang dinamika pengimplementasian reformasi agraria ini. Pemaparan yang disampaikan cenderung sangat formal.

Reformasi agraria seolah-olah hanya dilihat sebagai sebuah agenda yang terlepas dari berbagai kepentingan di dalamnya. Dimensi politik yang merupakan kunci utama terlaksana dan tidaknya reformasi agraria tidak mendapatkan banyak perhatian.

Read more of this post

Masa Depan Pemuda di Pertanian

Lampung Post 06 Desember 2013

Doc: epaper LampungPost 06 Desember 2013

“Petani terlonta-lonta di negeri lumbung padi”, mungkin ungkapan tersebut sesuai dengan keadaan yang dialami para petani Indonesia sekarang ini. Data pada survey pertanian (SP) di tahun 1993 memperlihatkan jumlah petani gurem ada 10,9 juta keluarga, sedangkan pada SP 2003 angka itu naik menjadi 13,7 juta keluarga, bertambah 3,8 juta keluarga dalam 10 tahun. Di Pulau Jawa, dari setiap empat petani, tiga adalah petani gurem (Kompas, 16/05/2013). Meningkatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tersebut menjadi penyebab meningkatnya kemiskinan di desa.

Peningkatan jumlah petani gurem tersebut pasti akan melonjak tajam pada SP 2013 ini. Data sementara SP 2013 menunjukan bahwa dari 31,17 juta rumah tangga pertanian pada SP 2003, menagalami penurunan menjadi hanya 26,13 juta rumah tangga pada SP 2013, atau selama 10 tahun Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani.

Ketiadaan regenerasi di lingkaran pertanian merupakan penyebab utama berkurangnya jumlah petani ini. Artinya keengganan para pemuda untuk menekuni dunia pertanian, merupakan salah satu hal yang melandasi berkurangnya jumlah petani ini.

Read more of this post

Paradoks Petani di Negeri Agraris

Lampung Post 18 november 2013 a

Doc: epaper LampungPost 18 November 2013

Sebuah Pameo “Negara Agraris, ingkari Agraria”, mungkin menjadi hal yang tepat untuk menggambarkan tentang problematika yang menghimpit para petani di penjuru wilayah Indonesia sekarang ini. Itu dapat terlihat salah satunya melalui data dari BPS pada 2012 yang melaporkan bahwa jumlah petani terus berkurang 3,1 juta/tahun (7,24% populasi) dan 100.000 hektar lahan pangan dikonversi setiap tahunnya (Kompas, 12/06/2012).

Atau berdasarkan hasil sensus pertanian yang dilakukan pada 2013 ini. Yang menunjukan terjadinya penurunan yang cukup tajam dari prosentase rumah tangga usaha pertanian (RTP) di Indonesia. Dimana terjadi penurunan jumlah RTP mencapai 16,18% dibandingkan sensus pertanian pada 2003 yang lalu. Atau dari 31,17 juta jumlah RTP pada sensus pertanian pada tahun 2003, kemudian berkurang menjadi 26,126 juta RTP pada sensus pertanian 2013 ini.

Sedangkan disisi yang lain terjadi peningkatan yang cukup tajam dari presentase perusahaan pertanian berbadan hukum, yang mengalami peningkatan mencapai 36,77% bila dibandingkan dengan sensus pertanian pada tahun 2003. Atau dari 4.011 pada sensus pertanian di tahun 2003 menjadi 6.174 perusahaan didalam sensus pertanian 2013 ini.

Read more of this post